CADAS! Ex Jurnalis BBC: Setya Novanto, "Lobus Frontalis" Tanpa Fitur Moralitas


[PORTAL-ISLAM.ID]  Di dalam kepala manusia ada komponen yang disebut “lobus frontalis”, yaitu bagian depan otak yang berfungsi untuk penalaran, perencanaan, ucapan, gerakan, emosi, dan pemecahan masalah. Dalam istilah sehari-hari yang tidak abnormal, fungsi otak depan ini biasanya disebut juga “akal sehat”.

Untuk para koruptor, bagian ini sangat penting. Lebih-kurang mirip dengan “hard disk” yang ada di komputer. Para koruptor biasanya akan mengisi “lobus frontalis” mereka dengan aplikasi-aplikasi yang krusial untuk perencanaan, eksekusi, dan penghilangan jejak korupsi. Dengan kata lain, “akal sehat” para koruptor adalah nilai-nilai koruptif yang telah mereka pelajari dan amalkan.

Jadi, definisi “akal sehat” Anda akan bertolak belakang dengan aksioma “akal sehat” para koruptor. Akal sehat koruptor adalah kemampuan untuk mengatur rencana korupsi, waktu pelaksanaan, cara pelaksanaan, dan cara menutupinya.

Untuk mengisi hard-disk “akal sehat” mereka, para koruptor biasanya mengunduh (downloading) software asli prokorupsi dari guru-guru mereka, tetapi ada juga yang mengkloning (copy-an) dari teman-teman mereka. Terutama di kalangan para koruptor pemula (beginner).

Kalau para koruptor bolak-balik sukses menghindari kejeran hukum, itu pertanda bahwa dia sudah sangat mahir memainkan berbagai fitur yang tersedia di software prokorupsi itu. Sekaligus pula merupakan pertanda bahwa orang itu tidak lagi memiliki saldo ruangan hard-disk yang memadai untuk “fitur moralitas”. Artinya, hard-disk yang ada di “lobus frontalis” orang itu tidak cukup lagi untuk menampung aplikasi panduan moral.

Bagaimana dengan “lobus frontalis” alias hard-disk Pak Setya Novanto (SN)? Kalau dilihat dari kemahiran beliau selama ini dalam menghindari prosekusi (kejaran hukum), SN kemungkinan besar memakai aplikasi (software) yang tidak dijual di tempat umum. Semacam ‘limited edition’, lebih-kurang. Tetapi, hard-disk beliau memang tidak cukup untuk men-download fitur moralitas yang telah di-update.

Kalau pun Anda usulkan agar SN men-download ulang aplikasi akal sehat itu supaya bisa mendapatkan update “fitur moralitas”, tidak akan ada gunanya. Update-nya tidak akan sukses karena seluruh hard disk di “lobus frontalis” beliau tampaknya sudah penuh terisi oleh macam-macam aplikasi dengan fitur-fitur yang semuanya terkait dengan uang dan kekuasaan.

Softwarwe edisi terbatas yang dipakai SN memang boleh dibilang langka. Misalnya, ada yang disebut “all round feature” (fitur serba bisa) yang mampu memberikan efek “lain di muka, lain di belakang”. Efek ini maksudnya adalah, seandainya Anda men-download aplikasi ini, Anda bisa dengan mudah mengubah-ubah sifat (watak) Anda seketika. Sesuai waktu, tempat dan situasi.

Sebagai contoh, Anda bisa melakukan adegan sakit seolah kelihatan gawat sekali. Anda bisa tersenyum lebar walaupun Anda telah melakukan sesuatu yang, secara nurani, tidak pantas untuk ditersenyumkan. Dengan fitur ini, Anda bisa pula menghilangkan rasa malu meskipun semua orang di seluruh pelosok sedang membahas kasus yang melibatkan diri Anda.

Kemudian, apa saja nama-nama fitur di software prokorupsi yang kerap dipakai oleh orang-orang yang berada di posisi strategis untuk melakukan korupsi?

Secara umum, fitur yang paling diminati oleh mereka yang bermental koruptif adalah “getting easy money” (mendapatkan uang gampang), “buying influence” (membeli pengaruh), “bribing your way” (memuluskan jalan), “stealing state’s money” (mencuri duit negara), “tax evasion” (penggelapan pajak), “hiding your money abroad” (sembunyikan uang di luarnegeri), dlsb.

Software dengan fitur-fitur hebat ini, celakanya, bisa didownload gratis di internet. Dilengkapi dengan tutorial tentang cara menangkal OTT KPK.

Jadi, sekarang ini barisan penegak hukum Indonesia sedang berjuang keras untuk mengalahkan software prokorupsi yang terpasang di “lobus frontalis” para pencuri kekayaan negara. Kita daokan saja semoga sukses.