Bagaimana Caranya Menceritakan Mengenai Sejarah PKI kepada Anak Sesuai Fitrahnya?


Oleh Harry Santosa
(Pendidik Muslim, penulis buku Fitrah based Education)

Bagaimana caranya menceritakan mengenai sejarah PKI kepada anak? Anak saya usia kelas 1 SD.
Saya bingung harus mulai darimana?
Karena bukan hanya ketika G30S nya kan ya?
Pernah kami nonton mengenai film G30S dan banyaaaak sekali pertanyaan yang bikin kepala saya pusing.

Dalam mensikapi segala sesuatu terkait pendidikan, maka kita biasakan memulai melihat dari kacamata fitrah, dalam hal ini melihat tahapan fitrah perkembangan, yaitu apa yang fitrah anak butuhkan sesuai tahapannya, bukan apa yang kita ingin anak mampu ketahui.

Kelas 1 SD, adalah tahap latih awal, usia 7-10 tahun, idealnya sudah tumbuh Aqalnya atau Nalarnya dengan pesat, di sisi lain anak mulai menyadari adanya aturan aturan dalam sosialnya. Ini adalah tahap penyadaran potensi melalui eksplorasi baik nalar maupun aktifitas.

Maka fitrah keimanan perlahan sudah harus diajak tafakur dan tadabur, disadarkan adanya aturan dalam kehidupan, dan Allahlah Zat Yang Maha Mengatur (Hakiman) dan Zat Yang Diberi Monoloyalitas (Waliyan). Sementara Fitrah belajar juga diarahkan pada eksplorasi keteraturan alam dan kehidupan, dstnya.

Maka mulailah dari penyadaran potensi fitrah keimanan melalui penjelasan Aqidah yaitu Tauhid Mulkiyatullah, bahwa segala sesuatu di muka bumi harus tunduk pada Allah. Jelaskan, inspirasikan, puaskan nalar Ananda bahwa segala sesuatu yang bukan dari Allah akan membuat sengsara dan menumpahkan darah.

Anak harus paham dan sadar bahwa tidak tunduk pada Allah adalah perilaku dan ideologi Iblis dan Atheis. Pahamkan bahwa Komunisme itu adalah cabang dari Atheisme, maka segala sesuatu yang menolak hukum Allah akibatnya sudah bisa diduga. Di Indonesia, komunisme dibawa oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), telah 2 kali membuat kerusakan dan penumpahan darah di Indonesia, tahun 1948 dan 1965. Di dunia revolusi merah menyengsarakan manusia, menista agama dan membunuhi ulama dan jutaan manusia tak berdosa.

Jadi pada tahap ini fokus saja menyadarkan potensi fitrah keimanan dalam hal Tauhid Mulkiyatullah melalui logika atas peristiwa, tapi jangan sibuk dengan peristiwa kengeriannya atau tontonan kesadisannya walau anak anak SD biasanya mulai menyukai petualangannya atau peperangannya.

Untuk fitrah belajarnya dan fitrah bakat, tampilkan tokoh teladannya, seperti almarhum AH Nasution, yang banyak memberikan dasar perang Gerilya dan dijadikan referensi di seluruh dunia. Beliau juga dikenal sebagai Jendral Pemikir dan Pejuang. Kita bisa ajak ke Museum atau napak tilas agar meninggalkan keberkesanan jiwa yang mendalam serta konstruksi nalar yang hebat, tepat dan benar.

Begitulah Al-Quran memandang sejarah dan bagaimana pensikapan kita terhadap sejarah, yaitu melakukan "Sairu filArd", perjalanan dan penelusuran peristiwa dan sejarah untuk mengkonstruksi kejiwaan, fitrah keimanan, fitrah nalar dan fitrah bakat kepemimpinan dstnya dengan kokoh.

Jadi intinya jangan sibuk dengan kesadisannya, tetapi hikmah-hikmah yang bisa digali untuk menguatkan dan menyadarkan potensi fitrah-fitrah generasi peradaban.

*Sumber: fb penulis