ANIES SANDI & REDUPNYA MAHKOTA NAMRUD


ANIES SANDI & REDUPNYA MAHKOTA NAMRUD

By: Tengku Zulkifli Usman*
(Analis Politik Dunia Islam & Internasional)

(1) Sejak Ahok kalah, Istana seperti kelabakan dan hampir tidak percaya dengan kenyataan.

(2) Kalau memperhatikan sikap Pak Luhut dan diamnya Jokowi dalam masalah reklamasi, sepertinya memang istana sudah men-setting Ahok sebagai Gubernur DKI 2017-2022.

(3) Tapi Tuhan berkehendak lain, DKI kembali ke pangkuan muslim setelah drama yang menegangkan dalam pertarungan umat Islam vs blok Ahok, sampai Allah berikan kemenangan untuk umat Islam.

(4) Sejak saat itu istana seperti gak ikhlas, gak ridho dan sedikit galau melihat konstelasi politik yang tetiba berubah begitu cepat.

(5) Sebelum Anies Sandi dilantik, pihak pro istana sangat sibuk mencari cara agar pamor rezim tidak redup kesalip pamor Gub DKI yang baru.

(6) Karena memang tidak bisa dihindari ril nya, Anies Sandi adalah antitesis Rezim, Rezim saat ini sangat jauh dengan umat Islam, baik secara politik maupun psikologis politik.

(7) Sedangkan Style Anies Sandi yang mendobrak, Humanis, Ramah, Santun, cerdas, berwibawa, dan Rakyatsentris, Khas gaya kepala Daerah yang sangat terdidik.

(8) Beda dengan rezim yang hobi pencitraan, suka manipulasi data politik hanya sekedar buat rakyat terhibur, dan satu lagi, suka bagi bagi sepeda.

(9) Kepanikan rezim tidak bisa ditutupi, pasca Anies Sandi terpilih, rezim jadi rajin survei elektabilitas, istilahnya rezim jadi rajin ngaca.

(10) Karena secara ril, elektabilitas rezim saat ini hanya 31%, ada beberapa survei menyebut angka 38%, jangan tanya SMRC cs ya, karena menurut mereka elektabilitas rezim saat ini masih 99%, kalau bisa 110% sekalian.

(11) Jikapun kita mengambil angka mayoritas yaitu 38%, maka secara politik angka segitu adalah lampu merah jika dia adalah seorang incumbent.

(12) Elektabilitas Jokowi dua tahun menjelang pilpres harusnya ada di angka 55-65%, maka wajar jika angka ril 31 atau 38% ini sangat membuat rezim seperti kebakaran jenggot.

(13) Mereka rajin survei bolak balik, tapi nasib tak kunjung baik, terutama setelah Anies Sandi naik, maka hasilnya tensi darah yang naik, akhirnya semua media pro rezim malah memilih menyerang Anies Sandi secara masif, baik sebelum atau pasca Anies Sandi dilantik.

(14) Sayangnya Rezim gak pernah mau pakai lembaga survei yang netral dan tidak mau memihak seperti Median dan Polmark, mereka selalu pakai data SMRC, Indikator, dan Metro Tv - Kompas Tv cs.

(15) Dikira semua rakyat itu bodoh, dikira oposisi rezim gak paham ilmu media dan ilmu survei dengan baik, dikira pilpres 2019 dia bisa menang lagi dengan pencitraan.

(16) Semua data-data ini menunjukkan rezim ini sudah tidak diinginkan lagi oleh rakyat secara normatif maupun secara empiris, jadi ini rujukan penting buat rakyat di 2019 nanti.

(17) Yang bilang bahwa Jokowi itu bukan ahok itu kurang piknik dan gak ngerti aliran politik, Ahok dan Jokowi penganut mazhab politik yang sama meskipun beda dimensi dan takaran saja.

(18) Semua data-data diatas juga mengindikasikan bahwa rezim ini mampu kita lengserkan di kotak suara 2019 nanti, mahkota namrud akan segera jatuh InsyaAllah.

(19) Syaratnya umat Islam harus bekerja lebih keras juga doa, dan harus meningkatkan rasa Pede nya didepan panggung demokrasi.

(20) Bahwa klaim rezim ini yang merasa dia legitimate didepan rakyat, disukai rakyat, rezim yang berhasil, rezim merakyat dan segudang klaim yang lain adalah semu dan palsu, data yang waras menunjukkan sebaliknya.

__
*Sumber: dari status Fb Penulis
Link: https://www.facebook.com/tgkzulkifli.usman/posts/880495248786669