Singapura: Dulu Dikuasai Bangsa Melayu Kini Dikuasai Bangsa Cina

(Foto: Lee Kuan Yew sanggup melakukan apa saja demi menarik sokongan orang Melayu termasuk memakai songkok pada awal karirnya ketika bertemu penduduk Melayu di Kampung Tani, Singapura pada 1965)

[PORTAL-ISLAM.ID] Catatan pertama permukiman di Singapura berasal dari abad ke-2 Masehi. Pulau ini masuk wilayah pos luar Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.

Antara abad ke-16 dan awal abad ke-19, Singapura menjadi bagian dari Kesultanan Johor. Lalu masuklah Inggris.

Sejarah Singapura sangat lekat dengan Inggris. Tokoh dari Inggris yang disebut-sebut sebagai penggagas berdirinya kota pelabuhan Singapura adalah Thomas Stamford Raffles. Dia berkunjung ke Singapura pada 1819, lalu menjadikan kota itu sebagai wilayah koloni kerajaan Inggris di Asia.

Sebelum dikontrol oleh Inggris, Singapura ini didiami oleh para nelayan setempat, para bajak laut, dan kemudian menjadi bagian dari kekaisaran kerajaan Sriwijaya, Sumatera. Singapura merupakan wilayah kota perdagangan tersibuk ketika itu.

Tan Malaka dalam buku berjudul "Dari Penjara ke Penjara", mengatakan pada masa Rafles bahkan penduduk Singapura ketika itu sebanyak 6 ribu orang, dan dikuasai orang-orang Indonesia.

“Menurut satu statistik yang saya baca dalam ‘Straits Times’ penduduk Singapura baru 6 ribu orang, memang sudah ada orang Tionghoa di masa itu, tapi bangsa Indonesia jauh lebih banyak. Kalau saya masih ingat adalah lebih kurang 90 persen dari semua penduduk,” kata Tan dalam buku itu.

Bukan hanya soal jumlah penduduk, tetapi hampir seluruh mata pencaharian penduduk di sana masih di tangan orang Indonesia (Melayu, Minangkabau, Jawa, Bugis, Palembang, dan lain-lain). Perusahaan, pelayaran, perikanan, perdagangan, dan lainnya, sebagian besar masih di tangan bangsa Indonesia.

Apalagi di pedalaman, kata Tan. Semua mata pekerjaan masih di tangan pribumi (Indonesia). Misalnya pertambangan timah yang terkenal ketika itu, semuanya dikuasai oleh orang-orang Indonesia.

“Disebutkan dalam satu tulisan bahwa menjelang penghabisan abad yang lalu, perusahaan timah terbesar ialah dimiliki dan diusahakan oleh seorang majikan bernama Raja Mandailing,” tutur Tan.

Namun ketika Singapura dikuasai Inggris, banyak imigran-imigran asing datang ke sana, di antaranya bangsa Tionghoa dan Hindustan (India). Awalnya mereka juga ada yang bekerja menjadi kuli bersama penduduk pribumi. Tetapi perlahan-lahan, imigran-imigran itu menetap dan jumlahnya kian banyak.

Kondisi ekonomi mereka juga terangkat, hingga akhirnya banyak orang-orang bangsa Tionghoa dan Inggris justru menguasai perkebunan-perkebunan. Cuma ladang getah ‘setelapak tangan’ luasnya yang dimiliki penduduk asli. Ironisnya, hasil getah setelapak tangan itu pun jatuh ke bawah peraturan “restriction” (pembatasan).

Pada 1937, kata Tan Malaka, jumlah penduduk Singapura ditaksir mencapai 700 ribu orang. Di antaranya ditaksir 600 ribu orang Tionghoa atau sekitar 85 persen, orang Keling-Hindu sebanyak 70 ribu orang atau 10 persen, sedangkan orang Melayu sebanyak 30 ribu orang atau hanya sekitar 5 persen saja.

“Demikianlah jatuh perbandingan banyak bangsa Melayu yang semula 90 persen, tapi ketika Inggris masuk, menyusut sampai tinggal 5 persen, atau 1 persen, dari jumlah penduduk dalam waktu satu abad di kemudian hari.”

Komposisi demografi penduduk Singapura tahun 2015: Cina terdiri 74,3%, Melayu 13,3% dan India membentuk 9,1%, sisanya lain-lain.

Negeri mini ini bisa disebut sebagai negara milik etnis Cina dan secara spesifik milik keluarga, dinasti Lee Kuan Yew yang menguasai Singapura sejak 1959.

Perdana Menteri Singapura sekarang Lee Hsien Loong yang berkuasa sejak tahun 2004 adalah anak Lee Kuan Yew.

People Act Party (PAP) yang didirikan oleh Lee Kuan Yew juga menjadi partai yang berkuasa sejak Singapura merdeka, hingga sekarang. Termasuk Presiden 'seremoni' Singapura yang baru dilantik Halimah Yacob juga berasal dari PAP.