Penantang Arus Yang Dirindukan


Oleh: Taufik Amrullah
(Direktur Progress Indonesia)

Hari-hari ini gonjang-ganjing politik makin panas. Hiruk pikuk tanpa kendali. Rakyat butuh kepastian dan sesuatu yang baru, bukan sekedar dihibur atau ‘dipaksa’ menyukai yang ada. Rakyat mudah bosan dengan suguhan citra dan kemunafikan, apalagi generasi baru para millenial yang sangat rasional dan selalu memverifikasi fakta, anti hoax. Mereka selalu mencari yang berbeda dan lebih berani.

Kalau ada sosok ‘pemimpin’ baru yang menyita perhatian publik karena berani, maka orangnya adalah Jenderal Gatot Nurmantyo Panglima TNI dan Fahri Hamzah Wakil Ketua DPR RI. Keduanya bersuara lantang menantang arus keras yang menyeret publik pada ‘pemaksaan’ cara berpikir. Keduanya bukan orang baru di publik. Mereka punya sejarah, basis, posisi, juga pengetahuan dan keyakinan yang mendalam pada apa yang diperjuangkannya. Gatot fokus mengingatkan tentang kondisi keamanan negara (national security), sedang Fahri gigih menjaga demokrasi dan keterbukaan. Tak mudah mendikte dan melokalisirnya, apalagi sekedar iming-iming atau ancaman. Kerenlah kata anak muda. Gue banget..

Gatot, Berani demi Bangsa

Namanya mencuat dalam setahun terakhir. Sejak berani bersikap dalam aksi ummat 411 dan 212, intruksi massif pemutaran film G30S PKI, hingga temuannya soal informasi pembelian 5000 pucuk senapan serbu tanpa melalui institusi TNI dan Polri. Melesat cepat tak bisa dihentikan lagi bahkan jika dipecat dari panglima TNI sekalipun.

Jenderal Gatot memang unik, tetap menjadi bawahan presiden yang loyal sambil terus mengambil positioning yang mandiri sebagai Panglima TNI. Tegas dengan sikapnya walau berbeda dengan pembantu presiden lainnya, atas nama negara dan pancasila, demikian jawabnya. Banyak yang menyebut sebagai bentuk ‘pembagian tugas’ dengan Presiden Jokowi untuk menggarap segmen ummat. Tapi saya tak yakin, mudah dan cepat mendeteksi permainan seperti itu di dunia yang terbuka saat ini.

Gatot memiliki prinsip dasar dalam berpikir dan berpijak, dia tentara yang kini jadi jenderal. Tentu pengetahuannya luas dan dalam soal republik ini, sejarah dan arahnya. Seperti supir bus yang bisa memprediksi jalan dan keadaan busnya masih stabil atau mulai oleng. Gatotlah yang mempopulerkan tentang proxy war dan ancaman geopolitik yang dihadapi Indonesia. Orang-orang meraba situasi dan menghindari membicarakannya, Gatot tampil di TV dan berbicara terbuka membuat publik aware, sontak mood publik terbelalak dan merasa menemukan sosok tumpuan untuk bergerak. Tak berapa lama, Gatot makin populer dan diperhitungkan sebagai calon presiden potensial.

Di tengah kegamangan Jokowi bersikap dalam berbagai isu dan momentum penting, juga sikap ‘me too’ dari seluruh pembantu presiden, ditambah lagi dengan lebih banyak diamnya Prabowo. Gatot berani bersikap dan berbicara lantang menyampaikan peta situasi yang dihadapi negara. Tanpa pretensi dan tetap dalam sikap hormat pada presiden. Gatot memukau publik. Tak butuh waktu lama dan tanpa komando, banyak pengagum berbaris di belakangnya, berubah menjadi ‘pasukan’. Entah Gatot sudah mulai berpikir jadi calon presiden 2019, beberapa partai sudah membicarakannya dan mengundang dalam kegiatan nasional partai.

Gatot mengingatkan kita pada SBY dan JK. Menterinya Presiden Megawati, membangun differensiasi meski tetap loyal dalam kabinet, hingga tiba masa untuk mengambil jalan sendiri, hasilnya SBY-JK menang 2004. Momentum Gatot perlu dirawat hingga tiba masa yang benar-benar matang. Kalau Gatot memilih cawapres, sinarnya redup tenggelam oleh capres. Gatot harus memanfaatkan harapan ummat yang besar ini, merawat dan menjadi tumpuan.

Fahri Hamzah, Last Man Standing

Dia sendiri melawan. Tanpa partai apalagi sokongan penguasa. Kawan perjuangan maju mundur, publik memuja dan mencibir. Sang demonstran reformasi ’98 ini tetap teguh dan bertahan, publik harus dibangunkan.

Fahri Hamzah seperti telah memutus urat takutnya dan mewakafkan seluruh dirinya dalam perjuangan. Dia harus menjaga alur reformasi, mempertahankan demokrasi dan kebebasan. Desakralisasi pada berhala kekuasaan dan melawan segala upaya mengembalikan sistem tertutup dalam bernegara.

Fahri yang pertama dan konsisten menentang sistem tertutup yang diterapkan KPK dalam operasionalnya tanpa pengawasan, juga operasi spy penyadapan yang melanggar HAM, dan Operasi Tangkap Tangan yang tidak dikenal dalam sistem hukum Indonesia.

Perjuangannya mulai berbuah, orang-orang waras mulai memahami cara berpikirnya. Apa yang diperjuangkan Fahri bukan untuk dirinya, dia membaca arah demokrasi yang oleng jika kembali melakukan sakralisasi dan pemujaan pada lembaga negara seperti KPK. Dulu arus reformasi menuntut sistem demokrasi yang terbuka dan desakralisasi lembaga negara even lembaga kepresidenan. Tiba-tiba ada lembaga sampir negara yang didewakan dan tak boleh diawasi.

Seharusnya lembaga KPK yang awalnya didirikan bersifat adhoc dikembalikan pada lembaga utama hukum Kepolisian, Kejaksaan, dan Kehakiman. Ini yang menjadi konsern perjuangan Fahri. Berkat sikap dan upaya kerasnya, Pansus Angket KPK berjalan di DPR dan terkuaklah berbagai operasi dan skandal yang membuat malu KPK dan membuka mata publik. Tahanan yang dipaksa mengaku, skandal suap pimpinan KPK, rumah penyiksaan tahanan, dan banyak lagi fakta temuan Pansus Angket KPK. Fahri memimpin sidang yang menyepakati pembentukan pansus Angket KPK dan baru saja memperpanjang tugas pansus Angket. Akan lebih banyak hal yang terkuak soal sistem tertutup KPK yang ditentang Fahri ini.

Fahri bukan sedang membela koruptor seperti yang dituduhkan. Dia sedang memperjuangkan narasi besar Indonesia tentang alur reformasi yang harus dituntaskan dan keterbukaan demokrasi. Fahri mendeteksi upaya membajak demokrasi dari orang-orang yang gagal dalam era perjuangannya.

Fahri Hamzah oleh media sering disalahpahami, tapi bagi rakyat, seperti sosok yang mewakili perlawanan pada kemunafikan. Dia tegas apa adanya, tak terbiasa dengan eufemisme yang mendayu menggiring hilangnya fakta. Seperti jamu pahit tapi menyembuhkan. Dia punya narasi kebangsaan yang kuat. Fahri Hamzah bahkan telah punya proposal mengelola negara dalam bukunya: Negara, Pasar dan Rakyat. Juga siap menuntaskan masalah korupsi dalam setahun jika diberi karunia memimpin republik, bukan sekedar kata manis tapi dituliskan dalam bukunya: Demokrasi Transisi Korupsi; Orkestra Pemberantasan Korupsi Sistemik.

Sebagai politisi, Fahri memahami situasi kebangsaan dengan lengkap, dia selalu memberi gagasan solusi dibalik kritiknya yang keras.

Fahri Hamzah memahami kehidupan bernegara, kemampuannya tak diragukan dalam berkomunikasi dengan berbagai kelompok sosial, ideologi juga partai-partai. Sebenarnya dia tidak sendiri, setahun terakhir Fahri bersama organisasi pemuda gencar membangun gerakan kebangsaan dalam pawai untuk merekatkan dan memajukan bangsa.

Hari-hari ini rakyat mencari tumpuan harapan baru, sosok yang berani tanpa banyak basa basi. Bersikap dengan cepat tanpa mudah menghakimi dan memberangus perbedaan. Fokus pada cita-cita bangsa dan menjaga alur demokrasi. Pada sosok Gatot Nurmantyo dan Fahri Hamzah yang berani mengambil sikap, Gatot menjaga nasionalisme dan keamanan negara, Fahri mengawal demokrasi dan HAM. Pada mereka rakyat menggantungkan harapan perubahan.

Semoga…

Ayo Bergerak!
Merdeka Bro!

__
*Sumber: Radar Nusa