"Kalau Saya Jadi Presiden"


"Kalau Saya Jadi Presiden"

Oleh: Erizal

Bukan saya, tapi Fahri Hamzah. Ah, dia mau jadi marbot, bukan presiden! Demikian kata Fahri Hamzah, berkali-kali, saat ditanya mau kemana setelah ini? Awak media ingin tahu setelah dipecat PKS, Fahri mau kemana? Soalnya, meski menang di pengadilan, PKS tetap tak mengakui.

Makanya, awak media tetap ingin tahu. Apakah Fahri Hamzah mau pindah parpol? Kalau iya, ke parpol apa? Ada yang mendorong-dorong juga untuk membuat parpol baru? Atau maju di pilgub NTB 2018 mendatang? Tak hanya dari pihak luar, pihak dalam PKS pun, ikut mendorong.

Mendorong, ada dua versi pula. Mendorong, betul-betul serius mendorong. Tapi, ada juga mendorong tak hanya mendorong, melainkan agar lebih cepat habis karirnya dan keluar dari PKS.

Tentu, Fahri Hamzah tahu arah pertanyaan awak media. Makanya dia memilih menjawab, jadi marbot saja. Bukan sekadar mengalihkan, mungkin juga ingin memberikan nilai. Bahwa, dia bukan tipe orang yang haus jabatan, haus kekuasaan, atau gonta-ganti baju parpol semau-maunya.

Mungkin juga ingin menyindir PKS. Pasca dipecat, macam-macam tuduhan, malah fitnah, datang menghantam Fahri Hamzah. Tak hanya, orang yang tak betul-betul mengenal, orang yang mengenal pun ikut-ikutan. Hampir tak ada celah untuk tabayun. Fahri Hamzah betul-betul disikat.

Selain memang pekerjaan marbot bukanlah pekerjaan asing bagi Fahri Hamzah. Saat baru tiba di Jakarta, menjadi mahasiswa UI, dia pernah tinggal di masjid sebagai marbot. Menjaga dan membersihkan masjid. Azan bila datang waktu shalat, sekaligus menjadi imam bila tak ada imam.

Artinya, bukan juga merendahkan. Malah, suasana menjadi marbot itu sepertinya suasana yang berbekas di hati Fahri Hamzah. Dia pernah bilang ke saya: "Jal, enak ya kalau udah pensiun, di rumah, pakai sarung, saat azan berkumandang, kita jalan ke masjid, terus balik lagi ke rumah."

Menurut saya, perkataan Fahri Hamzah itu bukan mengada-ada apalagi pencitraan belaka. Itu tulus keluar dari hatinya. Dan itu bekas dari menjadi marbot yang pernah dilaluinya. Tak bisa orang yang tak pernah melalui akan lurus mengatakan itu. "Dunia ini fana," kata Fahri di saat lain.

Untuk hal-hal yang begitu, terus terang, Fahri Hamzah kadang lebih sufi dari para sufi itu sendiri. Dia bisa menukik lebih dalam mengkaji soal hakikat hidup, hakikat kembali, dan hakikat pertanggungjawaban. Karena itu mungkin, Fahri kadang tampak terlalu kuat dalam pendiriannya.

Lalu, apa kaitannya dengan "kalau saya jadi presiden?" Bukankah hanya mau jadi marbot? Ada yang bilang marbot Indonesia. Fahri Hamzah layak menjadi marbot Indonesia. Menjaga dan membersihkan Indonesia, jadi muazin bagi Indoensia dan jadi imam bila tak ada imam Indonesia.

Ya, ada betulnya juga marbot Indonesia itu. Beberapa kali saya dekat Fahri Hamzah, saya perhatikan tak sekali dua kali, dia mengatakan, kalau saya jadi presiden, kalau saya jadi presiden. Yang sering terdengar soal korupsi. Kalau saya jadi presiden, setahun saya akan berantas korupsi!

Dan bukan rahasia lagi, Fahri Hamzah adalah orang yang terdepan mengkritik KPK. Dia sudah sampai pada kesimpulan, bahwa setelah 15 tahun, gaya KPK menengani korupsi, tak akan pernah berhasil. Malah, berpotensi munculnya korupsi-korupsi gaya baru. Lebih besar uang yang dikeluarkan ketimbang uang yang diselamatkan. Dan uang yang diselamatkan tak semuanya jelas.

Sebetulnya, tak hanya soal pemberantasan korupsi perkataan Fahri Hamzah itu diucapkan. Dalam konteks lain juga sering. Misalnya, saat Fahri bicara soal demokrasi: Satu sisi soal hukum, sisi lain soal kebebasan. Salah memahami kedua sisi ini, tak aneh pemimpin juga salah kebijakan.

Apalagi pemimpin yang tak memahami masa dan kompleksitas. Demokrasi hanya tinggal istilah. Yang ada, justru tirani, otoritarianisme, berbungkus demokrasi. Kalau sudah begitu, Fahri Hamzah akan langsung berkata, kalau saya jadi presiden...kalau saya jadi presiden, begini-begitu.

Termasuk, juga soal birokrasi, aparat polisi dan militer, otonomi daerah, bahkan soal olah raga atau sepakbola. Fahri Hamzah seolah-olah lupa bahwa dia mau jadi marbot, bukan presiden. Itu juga di antara makna dari tulisan saya, "Manusia Publik" (Singgalang, 11/6/17). Bahwa, Fahri itu selalu mengecas akinya saat di depan publik dan merasa lebur satu saat perenungan, sendirian.

Tapi, apakah orang Indonesia sudah siap berpresidenkan Fahri Hamzah? Orang yang apa adanya, ceplas-ceplos, tak ada basa-basi, dan keras. Di saat orang Indonesia masih membutuhkan presiden yang mencongkel gorong-gorong, berbagi kaos, sepada, dan peduli terhadap meme raisa.***