[Jonru Ditahan] Mantan Timses Jokowi Sarankan Jokowi Tutup Media Sosial Kalau Tak Tahan Dikritik

(Ibu Nanik Sudaryati bersama Jokowi)

[PORTAL-ISLAM.ID] Tulisan ibu Nanik Sudaryati, wartawan senior dan aktivis kemanusiaan Jaringan Merah Putih (JMP) yang deket dengan Prabowo, tentang penahanan pegiat media sosial Jonru Ginting, Jum'at (29/9) dini hari tadi.

Ibu Nanik pernah menjadi Timses Jokowi di Pilkada DKI 2012. Lalu pada Pilpres 2014 mendukung Prabowo. Demikian pula Jonru yang saat Pilpres 2014 getol mendukung Prabowo melalui media sosial.

Ibu Nanik menyarankan Presiden Jokowi untuk menutup saja Media Sosial kalau tak tahan dikritik.

Berikut selengkapnya tulisan ibu Nanik Sudaryati di akun fbnya (299/2017):

Turut berduka cita Jonru kabarnya Jum'at dini hari tadi ditahan.

Semoga Allah melindungi Jonru, dan keluarga yang harus ditinggal karena sang kepala rumah tangga ditahan.

Saya waktu Pilpres 2014 malah tidak kenal Jonru, namun setelah Pilpres saat acara JMP di Taman Mini saya bertemu Jonru, dia rupanya diajak temannya datang ke acara kami.

Pertemuan kedua terjadi saat Ultah Pak Prabowo Subianto (PS) tiga tahun lalu di Hambalang dia datang diajak oleh Mas Hazmi Fitriyasa. Dan ternyata itu untuk pertama kalinya dia bersalaman atau bertemu dengan Pak PS. 

Dari dua kali pertemuan tersebut, saya melihat Jonru sosok seorang muslim yang patuh dan kehidupannya juga sederhana. Tidak terlihat dia seorang yang punya keinginan politis apapun.

Saya agak kaget dengan penangkapan Jonru. Pertanyaan saya apakah yang ditulis Jonru benar-benar membahayakan negara? Atau membahayakan kesatuan dan persatuan? Jujur saya hingga hari ini belum pernah sekalipun membuka Fan Page atau menjadi followernya Jonru, sehingga saya tidak tahu apa sebetulnya atau tulisan yang mana yang membuat Jonru ditangkap?

Saya hanya berkawan di FB, dan kalau kadang ada status lewat di time line, kok rasanya gak ada tulisan Jonru yang luar biasa membahayakan ya? 

Kalau soal mengkritisi pemerintahan atau penguasa, bukankah hak berbicara dan menyampaikan pendapat itu dilindungi UU?

Kalau semua kritikan dimasukkan dalam ujaran kebencian, mohon ubah UU-nya dulu, buanglah kata berdemokrasi, dan ubah menjadi negara otoriter.

Teman semua, saat ini mungkin ujian terberat bagi kita, saat begitu berat kondisi ekonomi kita lalui, tetapi kita yang mengeluh dan mengkritisi senantiasa dituduh melakukan ujaran kebencian.

Kepada Yth, Bapak Presiden Jokowi, dari pada rakyat ditangkapi karena bicara di Medsos, mohon TUTUP MEDSOS, agar kami tidak tergoda untuk menyuarakan apa yang ada di dalam hati kami.

Kepada Pak Prabowo Subianto, mohon pikirkan ulang untuk Nyapres, kalau yang terjadi rakyat yang tidak bersalah ditangkapi hanya karena ketakutan mereka menjadi pembela Bapak dalam Pilpres 2019 nanti, atau menjadi perorong wibawa pemerintahan saat ini.

Kepada Habib Rizieq yang selama ini menjadi panutan kami umat Islam, doakan kami umat Islam kuat di Indonesia, dan kami bisa melihat Islam akan tetap tumbuh dengan baik di negeri ini...Aamiin YRA.  

*Sumber: Fb Nanik Sudaryati