PEMBALASAN ISRAEL Pada TURKI Pasca AL-AQSA


Oleh: Mohamad Radytio

Pada minggu lalu, rezim Zionis Israel akhirnya takluk di Al Aqsa, mengalah oleh tekanan dari berbagai Negara dan puluhan juta orang di seluruh dunia. Diantara Negara dan orang tersebut, Turki menjadi satu-satunya Negara besar yang berani frontal menentang kebiadaban Israel tersebut.

Bagaimana tidak, selain Raja Yordania hanya presiden Erdogan-lah yang lantang menelepon presiden Israel dan mengatakan bahwa tabiat mereka tidak dapat diterima (unacceptable), percakapan ini pun diumbar oleh pemerintah Turki kepada khalayak. Semua elemen rakyat Turki mulai pemerintah, diplomat, bahkan kelompok oposisi ikut mengecam Israel, dan melakukan berbagai lobi internasional.

Kemenlu Israel membalas dengan menyebut bahwa Khilafah Utsmaniyah telah runtuh dan Yerusalem akan menjadi ibukota Israel tanpa boleh dibagi-bagi. Ini menimbulkan kemarahan besar di Turki, hingga rakyat Turki melakukan demo di berbagai kota. Israel pun menutup misi diplomatiknya, takut pada reaksi rakyat Turki.

Bila melihat berbagai postingan berita dari twitter media Israel Haaretz dan The Jerusalem Post (dua media besar Zionis yang mewakili Zionisme sayap kiri dan kanan), Israel merasa dipermalukan. Ini akibat banyak tokoh Turki mulai dari intelektual Kadir Misiroglu hingga wakil menteri luar negeri yang terang-terangan menyebut bahwa di era Utsmani, semua penganut sekte dan agama di Kudus-i-Serif Mutasarrifligi (Palestina dan Israel sekarang) bisa bebas beribadah tanpa gangguan, secara tak langsung mengunggulkan Khilafah dibanding negeri Zionis tersebut.

Terlebih, suara Turki dianggap mercusuar karena berani bergaung sehingga menjadi “tameng” bagi banyak pihak lain untuk bergerak melawan mereka.

Dari sinilah, saya menemukan bagaimana akibatnya bila anda telah menyinggung Zionis.

Pada hari Minggu (30 Juli 2017) kemarin, berbagai pihak bergabung melaksanakan demo puncak di Istanbul dalam rangka merayakan terbebasnya Al-Haram Al-Syarif (Masjidil Aqsa) dari Zionis.

 
Namun, yang mengejutkan adalah pada hari yang sama di Turki heboh berbagai isu, mulai dari penyerangan pada patung Ataturk, demo besar-besaran perempuan Turki dari kelompok sayap kiri, penembakan bersenjata pada turis, hingga diserangnya rombongan walikota dari kelompok oposisi sayap kiri Turki.

Tenggelam-lah berita demo besar-besaran merayakan pembebasan Masjidil Aqsa ini.

Ini unik, mengapa?

1. Hal Baru dan Cepatnya Penyebaran

Penyerangan pada patung Ataturk oleh seorang berjenggot secara terang-terangan belum pernah terjadi di Turki sebelumnya, tidak pernah bahkan disaat hubungan Konservatif-Oposisi kiri-Kemalis dalam titik terburuknya dulu.


Erdogan bersama AKP secara tersirat selalu menekankan bahwa isi lebih penting dari symbol, biarlah “mereka” menikmati symbol-simbol sementara kita mengubah isinya. (Hal mana saat dakwah Nabi di Makkah yang tidak langsung menghancurkan patung)

Terlebih, insiden ini terjadi di Sanliurfa, wilayah konservatif-Islamis di perbatasan Suriah dimana kelompok DAESH (ISIS) pernah memiliki jaringan bawah tanah cukup kuat dan sering melakukan tindakan yang mencederai bangsa dan Negara Turki. Bila pun tak ada hubungan dengan DAESH, cepatnya isu ini menjadi trending topic di hari demo pro-Palestina berlangsung adalah menarik, karena sebelum ini banyak tindakan konservatif Turki yang dipersepsikan menyerang symbol sekulerisme (pemindahan foto Ataturk dsb) namun tidak seheboh ini. Kematangan respons pemerintah Turki dengan menangkap sang lelaki atas tuduhan merusak property public serta tidak beri pernyataan resmi membuat isu yang sempat menjadi trending topic twitter nomor satu ini tak berkembang menjadi liar.

2. Demo dengan waktu dan pemberitaan yang “tepat”

Kedua adalah mengenai demo perempuan kaum kiri di Turki, yang sempat menjadi trending topic hari Minggu kemarin sebelum tersebarnya isu penyerangan pada patung Ataturk.


Bisa dilihat di laman Trends24 bagian Turki seperti screenshot diatas, pada Minggu 30 Juli hashtag #HaydiYenikapiya (Yenikapi merupakan tempat dilaksanakannya demo pro-Palestina) sempat menjadi trending topic Turki selama 3 jam. Pada jam pertama, hashtag Macka Parki’nda (Taman Macka adalah tempat digelarnya demo kelompok perempuan kiri) berada di peringkat cukup atas. Namun pada 2 jam sesudahnya, hashtag Siverek’te Ataturk (Patung Ataturk) menjadi trending melebihi Macka Parki. Di jam paling kiri, hashtag ini mengalahkan Yenikapi menjadi trending topic paling atas yang berlanjut selama beberapa jam.

Demo ini dilaksanakan kelompok perempuan Turki atas apa yang mereka pandang meningkatnya “aura” desakan masyarakat agar perempuan Turki memakai pakaian yang lebih sopan serta adanya pelecehan pada perempuan yang memakai pakaian minim. Ini terjadi ditengah upaya pemerintah Turki untuk terus menanggulangi pelecehan dalam berbagai bentuk. Uniknya, pada kasus ini selain sempat menjadi trending topic sebelum isu patung, dua media online Israel yakni Haaretz dan The Jerusalem Post memposting berita mengenai demo ini, saat media asing lain bahkan sekelas The Independent, New York Times & Daily Mail yang terkenal anti-Erdogan tidak memposting berita ini di akun twitter mereka.

 
Yang lebih menarik, meski demo ini diliput kedua media Israel tersebut, isu patung Ataturk tidak diberitakan di akun twitter mereka. Perlu diketahui bahwa selama beberapa tahun, kelompok Kemalis dibawah Kilicdaroglu berusaha keras menjauhkan diri dari stigma “tangan asing” akibat perilaku mereka didalam negeri. Menarik pula melihat bagaimana demo ini bisa saja dilakukan serentak oleh kelompok-kelompok tersebut dengan beberapa demo kecil yang terjadi saat Erdogan melegalisasi pemakaian jilbab di institusi militer beberapa bulan lalu, namun baru dilakukan pasca Turki “menyerang” posisi Israel.

3. Penembakan Turis

Ketiga adalah soal penembakan bersenjata pada turis di Bodrum, wilayah pro-partai kemalis yang menjadi destinasi utama turis asing. satu orang terbunuh sementara lainnya terluka.


Hingga sekarang, pelaku penyerangan di Bodrum ini belum terlacak keberadaannya. Penyerangan ini juga terjadi persis di hari yang sama dengan demo pro-Palestina. Sulit untuk tidak melihat kaitannya. Kerja sigap berbagai pihak di Turki-lah yang mungkin mencegah berbagai serangan lain kembali terjadi.

4. Penyerangan Walikota

Yang terakhir adalah penyerangan pada walikota Eskisehir Yilmaz Buyukersen, seorang tokoh kemalis terkemuka dan anggota partai oposisi CHP.


Sehari sebelum demo pro-Palestina dilaksanakan, ia dan rombongan disergap sekelompok orang yang menodongkan senjata. Hanya kesigapan dari pengawal dan polisi-lah yang mencegah ia terluka. Walikota kemudian menyebut bahwa diketahui orang-orang yang menyerangnya adalah orang bermasalah yang senang memeras dan menjadi penagih uang/debt collector (terdengar familiar?) .

Saya tidak menuduh semua yang memprotes Erdogan dan berbuat kacau adalah bagian dari scenario jahat. Banyak diantara mereka yang betul memiliki kekhawatiran masing-masing serta tidak terkait scenario apapun.

Tapi disini yang perlu dilihat adalah mereka di atas tingkat koordinator, para elite di berbagai lini yang secara tak langsung mengarahkan dan menunggangi. Membuat semuanya tepat sesuai waktu. Tak ada kebetulan.

Anda bisa bayangkan, andai bila pada hari Sabtu-nya tokoh popular oposisi Turki terbunuh, lalu pada hari Minggu ada demo para perempuan (yang akan dipersepsikan tak berdaya) mengecam “keadaan dalam negeri”, ditengah insiden penyerangan pada turis (yang bila terjadi dalam skala lebih besar/pemerintah tak sigap) yang akan menarik perhatian media internasional, lalu ditutup dengan insiden penyerangan patung Ataturk yang bisa di-spin sebagai “symbol atas serangan pada nilai-nilai sekuler dan kebebasan”, maka akan lengkaplah badai yang dihadapi pemerintah Turki dan presiden Erdogan.

Minimal, Turki akan mendapat nyinyiran seperti “Tak bisa mengurus dalam negeri saja berani mengurusi urusan Negara lain (Palestina)”, serta nyinyiran sejenis.

Dan ini semua terjadi pada rentang 29-30 Juli 2017, disaat pegiat pro-Palestina Turki akan adakan demo pamungkas, setahun setelah upaya kudeta pada 15 Juli 2016, serta hanya beberapa hari setelah Israel “mundur” dari kebringasan di Al-Aqsa yang mereka perbuat, ditengah kisruh antara 5 negara Arab (Arab Saudi, Bahrain, UEA, Mesir & Yaman) dengan Qatar.

Kita mungkin tak akan pernah mendapat keterangan resmi atau langsung dari Israel dan yang bekerja sama dengannya, tapi bukan berarti ini hanya teori konspirasi. Tak ada yang kebetulan. Ini adalah contoh bagaimana balasan zionis pada mereka yang lancang. Ini adalah gambaran bagaimana tangan-tangan zionisme menggurita.***