Kisah Mengharukan "HAJI DRONE" dari Ghana Afrika


[PORTAL-ISLAM.ID] Kisah ini memang sedang viral-viralnya di Jazirah Arab, apalagi di Turki. Tapi saya baru mendengarnya ketika Guru kami AlHabib Abu Bakar Al-Adni menceritakannya di Jalsah Itsnain Darul Musthafa 2 hari yang lalu.

Namanya Alhasan Abdullah, seorang kakek miskin berusia 82 Tahun yang tinggal di pelosok desa Ghana (Afrika), gak punya FB, Wa, Instagram dan belum pernah naik haji.

Meski ekonominya dibawah pas-pasan dan hidup di daerah terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dunia, ia sama seperti aku, engkau, dan muslim- muslim lainnya diseluruh penjuru bumi, bercita-cita untuk bisa pergi naik haji, meskipun hanya sekali. Apalagi kalo udah musim haji begini, rasa rindu ke Mekkah Madinah rasanya sudah sampai ubun-ubun.

Wallahu Gholibun 'Ala Amrihi, siapa yg bisa menghentikan kehendak Allah? Ia sama sekali tak pernah menyangka bahwa pesawat kamera tanpa awak "Drone" yang nyangkut dipinggir rumahnya akan membantunya untuk mewujudkan impian mulianya. Ia juga tak pernah menyangka bahwa kelak akan ada orang yang bersedia memberangkatkannya ke Tanah suci, bukan kerabat atau tetangganya, melainkan seorang yang nan jauh di Turki sana.

Semua bermula ketika rombongan kru stasiun TV Turki (TRT Word) berkunjung ke Ghana untuk meliput kehidupan Masyarakat disana sebelum kunjungan Presiden Erdogan ke Ghana pada Maret 2017.

Kala itu kamera Drone milik salah satu jurnalis jatuh dan ditemukan oleh salah satu penduduk setempat, kakek Alhasan Abdullah itulah orangnya. Ia melihat benda itu dengan perasaan heran, baru pertama kali ia temukan "pesawat" kecil berkamera semacam itu, maklum ia hidup di pedalaman Afrika yang mungkin masih belum ada internet dan listrik disitu.

Tak lama setelah itu, datanglah sang jurnalis untuk menjemput dronenya, Kakek itu tersenyum dan segera mengembalikannya. Lantas dengan polosnya ia bertanya pada jurnalis itu :

"Bisakah pesawat ini (drone) menjadi besar hingga dengannya aku bisa terbang ke Saudi untuk naik haji?"

Sebuah pertanyaan tulus yang muncul dari hati yang telah lama memendam rindu ke Baitullah, dan itu sudah cukup membuat para kru mengharu biru.

Rupa-rupanya setelah itu, ada salah seorang kru yang memposting foto Kakek itu di akun Facebook-nya lengkap dengan ceritanya, dan dengan izin Allah, dalam waktu singkat postingan itu menjadi viral, dibaca dan dishare oleh ribuan rakyat Turki. Kisah itu berhasil menarik simpati berbagai kalangan, banyak dari pengusaha dan pejabat Turki yang menyatakan bersedia untuk memberangkatkan sang kakek ke Tanah Suci.

Sampai akhirnya ia resmi menjadi calon jamaah haji dari Ghana dengan biaya ditanggung oleh salah seorang tokoh Turki, (dari berbagai sumber, ada yang mengatakan ia adalah anggota kepolisian Turki ada juga yang menyatakan bahwa Menteri Luar Negeri Turki-Mevlut Cavusoglu sendiri yang menanggung semua biaya hajinya.) Ini menunjukkan betapa banyaknya pihak yang berlomba-lomba untuk membantu si kakek asal Ghana mewujudkan impiannya.

Dan beberapa hari yang lalu, Kakek Alhasan Abdullah dijemput dari Ghana menuju Istanbul untuk kemudian terbang ke Makkah dan Madinah untuk melaksanakan Ibadah Haji.

Aku jadi teringat dawuh Al Imam Junaid Bin Muhammad:

"Barang siapa yang membuka satu pintu niat tulus maka Allah akan membukakan untuknya 70 pintu Taufiq dan pertolongan-Nya".

Kisah Kakek Hasan Abdullah dan kisah-kisah Haji "Ajaib" lainnya seakan mengajak kita untuk selalu berhusnudzon kepada Allah, bahwa kita semua mempunyai peluang untuk berhaji ke Tanah suci, baik saya yang ada di Yaman, yang hanya "beberapa langkah saja dari Saudi", atau kalian yang berada di Indonesia dan bumi-bumi Allah lainnya. Inti dari semua itu adalah Allah mengizinkan atau tidak, meridhoi atau tidak.

Sebagai hamba-hambaNya, Kita hanya bisa berharap, mendekat, terus merayu dan berdoa, agar kelak Sang pemilik Baitullah memilih kita sebagai tamu-tamu-Nya di Tanah suci-Nya.

Rabbii.. Meski masih berlumur kesalahan, kelalaian dan dosa-dosa, tapi hati kami masih memiliki rasa rindu pada Tanah Haramain-Mu, maka demi kerinduan yang kau berikan ini, Ridhoilah kami untuk mengunjungi Tanah suci-Mu suatu saat nanti, untuk menyucikan diri dan untuk berziarah kepada Baginda Nabi. Aaamiin.

Ismael Amin Kholil
(Tarim Yaman, 1 Dzulhijjah 1438 H)