"KAIDAH KEBAHAGIAAN" Oleh @anismatta


Kaidah Bahagia: Stabilitas dan Dinamika

Oleh : Anis Matta

(1) Ada pepatah Arab mengatakan "sebodoh-bodohnya orang ketika dia tua dia akan menjadi matang karena umur". Umur yg membuat kita menjadi lebih dewasa walaupun akal kita kurang.

(2) Kenapa umur? Karena pengalaman yg terakumulasi dalam waktu yg panjang membuat kita bisa menangkap kaidah-kaidah yg membuat kehidupan itu menjadi baik.

(3) Kadang-kadang kita menafsirkan kebahagiaan secara sederhana dalam perkawinan sebagai rasa senang, seperti secara sederhana kita menafsirkan kata cinta dalam arti menyukai, padahal pada dasarnya tidaklah demikian.

(4) Kebahagiaan itu adalah akumulasi dari banyak sebab yg bertemu pada suatu waktu, pada suatu tempat, dan jika sebab-sebab itu tidak bertemu, maka rukun-rukun kebahagiaannya juga tidak sempurna.

(5) Seperti lapisan dalam bawang, lapisannya banyak, semakin ke dalam semakin kita menemukan inti.

Dan jika kita ingin menemukan inti dari kebahagiaan itu kita perhatikan firman الله سُبْحَانَهُ وتَعَالَى yang ini tidak berhubungan dengan pernikahan:

‎وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

"....Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta mengikuti hawa nafsunya dan keadaannya sudah melewati batas". (Al Kahfi ayat 28)

(6) Janganlah engkau mengikuti orang-orang yang Kami buat hatinya lalai dari mengingat
‎الله dan karena itu dia terseret mengikuti hawa nafsunya, maka berantakanlah seluruh urusannya.

(7) Perhatikan الله menutupnya dengan kalimat‎ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا (seluruh urusannya berantakan), jadi ujung dari semua urusan yang berantakan itu berawal dari suatu awal yg namanya الغفله (kelalaian).

(8) ‎الله سُبْحَانَهُ وتَعَالَى ‎adalah pusat kehidupan kita, semakin jauh kita dari Dia (الله) semakin berantakan kehidupan kita, semakin kita dekat ke Pusat (الله) itu semakin terkonsolidasi kehidupan kita.

(9) Derajat pertama dari kejauhan kepada ‎الله سُبْحَانَهُ وتَعَالَى itu namanya غَفْلَه (kelalaian) dan obat dari غَفْلَه ini adalah dzikir, dan dzikir ini yang membuat kita mengikuti "road map"...itu yang membuat kita menjauh dari hawa nafsu.

(10) Kebalikannya ‎الله سُبْحَانَهُ وتَعَالَى mengatakan:

‎مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik." (An-Nahl ayat 97)

(11) ‎مَنْ عَمِلَ صَالِحًا
(barang siapa yg berbuat kebaikan)

‎مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ
(dari laki-laki atau perempuan)

‎فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
(akan Kami berikan kehidupan yang baik)

(12) Perhatikan kalimat حَيَاةً طَيِّبَةً (good life, kehidupan yang baik)

(13) Beberapa tahun yang lalu perdana menteri Inggris membuat tema kampanye tentang "good life", karena dalam kehidupan "individu" ini disebut oleh الله dalam ayat ini tapi kalimat طَيِّبَةً ini juga disebut untuk "negara" بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

(14) Ada penelitian tentang generasi sekarang di Eropa dan Amerika: "Apa yang mereka mimpikan didalam hidupnya?" Ternyata mimpi anak-anak sekarang itu sederhana; ingin punya keluarga.

(15) Rata-rata anak-anak sekarang yang menginginkan keluarga adalah mereka yang lahir dulunya dari orang tua yang di era industrialisasi dulu (era dimana bapak dan ibu keluar bekerja bersama), kemudian bercerai di tengah jalan dan anaknya tidak diperhatikan. Kemudian anak-anak yang tumbuh dalam keluarga broken home ini tumbuh dg sebuah mimpi yg natural yg sangat sederhana, mimpi primitif seluruh manusia sejak awal dia diciptakan; mempunyai keluarga bahagia.

(16) Simpul dari semua kebahagiaan adalah semakin dekat kita ke Pusat kehidupan ini yaitu ‎الله سُبْحَانَهُ وتَعَالَى maka kita semakin berbahagia.

(17) رَسُولُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم mendefinisikannya secara lebih jauh apa itu sebab-sebabnya dan kita akan menyaksikan hadits berikut ini ternyata pernikahan dan istri adalah salah satu rukun kebahagiaan.

(18) ‎رَسُولُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم mengatakan :

‎أَرْبَعٌ مِنَ السَّعَادَةِ
(4 hal yg membuat orang bahagia)
‎الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
(Istri yg sholihah)
‎وَالْمَسْكَنُ الْوَاسِعُ
(Rumah yang luas)
‎وَالْجَارُ الصَّالِحُ
(Tetangga yang baik)
‎وَالْمَرْكَبُ الْهَنِيء
(Kendaraan yang nyaman)

(19) 2 dari 4 unsur ini adalah manusia yang berhubungan dengan kita dalam waktu yang lama; yang pertama istri dan yang kedua tetangga. Kalau kita punya masalah dengan istri atau tetangga hidup kita susah, 2 lagi yang lainnya itu materi, satu namanya rumah satu lagi namanya kendaraan...tapi dua-duanya melekat dengan kita.

(20) Rumah melekat dg kita, kendaraan melekat dg kita. Seakan-akan رَسُولُ الله صَلَّي الله عَلَيْهِ وَ سَلَّم ingin mengatakan bahwa rumah itu simbol kestabilan dan kendaraan adalah simbol dinamika. Seperti juga istri adalah simbol kestabilan dan tetangga adalah simbol dinamika.

(21) Jadi 4 unsur yang membuat kita bahagia ini bisa kita simpulkan dalam 2 kata: STABILITAS dan DINAMIKA.

(22) Hidup itu akan menjadi baik manakala dia terus bertumbuh dan pertumbuhan itu akan menjadi stabil kalau kita punya basis yang kokoh dan karena itu kita perlu mendefinisikan ulang arti cinta yang selama ini biasanya ditafsirkan dengan: rasa suka, padahal itu kulitnya.

(23) Begitu kita mengucapkan kepada seseorang I LOVE YOU FULL itu artinya kita mengambil suatu keputusan untuk melakukan beberapa hal secara berturut-turut:

(24) Yang pertama adalah keputusan untuk memperhatikan, kita perhatikan orang yang kita cintai itu. Yang kedua adalah keputusan untuk merawat, merawat orang yang kita cintai. Yang ketiga adalah keputusan untuk menumbuhkan orang yang kita cintai itu.

(25) Jadi seperti kita melihat pohon, kita memperhatikannya apa yg dia perlukan, lalu kita merawatnya supaya dia tumbuh.

(26) Dalam suatu hubungan jangka panjang yang membuat hubungan itu rusak adalah ketika kita merasa tidak bertumbuh dan pasangan kita juga tidak bertumbuh, ilmunya tidak bertambah, segala hal dalam hidupnya tidak bertambah, kita merasa hidup kita stagnan.

(27) Dan karena itu hanya ketika kita membuat seseorang yang kita cintai itu terus-menerus bertumbuh menjadi lebih baik daripada sebelumnya maka kita akan menyaksikan sebuah perubahan yang positif yang terus menerus dan itu yang membuat cinta itu bertumbuh.

(28) Ada satu penyakit yang diturunkan الله kepada manusia ini yang tidak ada hubungannya dengan iman dan taqwa, haq dan batil, baik dan buruk, indah dan jelek..nama penyakitnya : BOSAN.

(29) Semata-mata karena kita melihat seseorang itu dalam waktu yang lama kita bosan dengan orang itu.

(30) Dan karena itu di awal pernikahan sentuhan fisik itu akan banyak, semakin banyak melakukan sentuhan fisik semakin banyak kita mengenal jiwa seseorang. Dan biasanya pengaruh seseorang dari gelombang elektromagnetisnya secara biologis ketika auranya mempengaruhi kita, itu selesai ketika kita melakukan hubungan fisik...setelah itu keluarlah intinya yang namanya jiwanya...keluarlah kepribadiannya.

(31) Karena kita menikah di awal masa dewasa bukan di ujung masa dewasa kita, maka jiwa ini adalah jiwa yang tidak utuh yang tidak dewasa, inilah yang butuh proses penumbuhan.

(32) Jika seseorang yang kita cintai jiwanya tidak tumbuh terus-menerus itu adalah pangkal kebosanan.

(33) Kenapa kita bosan? Karena sesuatu itu statis, jika sesuatu yang terus berubah-ubah Insha Allah akan membuat kita tidak bosan.

(34) Kalau hidup berhenti bertumbuh, suasana jiwa kita akan keruh dan begitu kita keruh hal yang kecil dalam kehidupan kita akan membuat kita bertengkar besar.

(35) Tapi kalau kita terus bertumbuh itu yang disebut dengan dinamika tadi. Hal besar dalam kehidupan kita, perbedaan besar dalam kehidupan kita membuat kita tetap dinamis, stabil dan tidak terpecah.

(36) Kita semua membutuhkan pelajaran tentang bagaimana caranya kita sebagai pribadi terus menerus bertumbuh untuk mempertahankan kebahagiaan. STABILITAS dan DINAMIKA itulah kaidahnya.***