Jalan Panjang Erdogan Dalam Perjuangan Islam di Turki


Oleh: Mohamad Radytio

Akhir bulan lalu, Merve Kavakci (pejuang jilbab di institusi negara) ditunjuk sebagai duta besar Turki untuk Malaysia. Nama beliau cukup terkenal, sebagai seorang yang dicabut kewarganegaraannya dengan berbagai dalih, meski alasan utama adalah keengganannya melepas Jilbab saat mengambil sumpah sebagai anggota parlemen pada 1999.

Kavakci yang dulu dianggap musuh negara kini adalah duta bagi negara itu sendiri. Ini dijadikan banyak pihak sebagai contoh progresivitas di era Erdogan, dimana melalui narasi demokrasi sebuah masyarakat mampu menjadi modern tapi juga membangkitkan identitas agama yang sering dipersepsikan kolot.

Namun beberapa pihak tetap saja nyinyir dengan pencapaian era Erdogan.

Bagi kelompok yang sering menjuluki diri sebagai Islam liberal seperti tokoh Turki Mustafa Akyol yang sekarang lebih sering tinggal di luar negeri, upaya pemerintahan dibawah Erdogan yang dijuluki islamisasi merangkak akan menimbulkan sekularisasi masyarakat sendiri akibat penolakan pada “pemaksaan” nilai agama yang “kuno”, intinya ia menyebut upaya Erdogan akan gagal.

Bagi kelompok Islam lain, nyinyirannya lebih parah. Kelompok Islam Wahhabi dan yang sepaham dengannya maupun yang sering dilabeli sebagai “Islam tradisional" sering menuduh Erdogan menjual Islam. Ini belum pandangan sebagian nonmuslim, yang memberi label “kemunduran” atas apa yang terjadi di Turki pada era Erdogan.

Dalam memberi label, kelompok-kelompok tersebut memberi alasan yang ternyata hampir sama. Mulai dari adanya diskotik yang masih menjamur, anak-anak muda yang “bermaksiat” hingga hubungan terbuka yang dibina Turki baik dengan Israel maupun Iran dan Amerika Serikat.

Sejarah Turki modern bukanlah sejarah yang ramah pada Islam. Pasca keruntuhan Kekhalifahan Usmani, sekulerisme diterapkan demi melakukan "modernisasi". Seluruh anggota keluarga Usmani diusir dari Turki. Sejarah-sejarah Turkic pra-Islam mulai digali kembali, 16 negara kecil yang menjadi penghadang kemajuan Usmani sebelum satu persatu ditaklukan malah dielukan sebagai leluhur sejati bangsa Turki. Ada masa dimana Al-Quran dan Adzan wajib dibaca dan dikumandangkan dalam bahasa Turki. Para calon pegawai negara tak hanya harus menanggalkan simbol agamanya, tapi juga mendapat pressure untuk menunjukkan sekularitasnya seperti meminum alkohol dan mencukur jenggot. Para pegawai negara mulai guru hingga tentara tidak diperbolehkan melakukan shalat ditempat kerja mereka. Selama beberapa waktu ada moratorium (penghentian) pembangunan masjid, dan saat moratorium ini dicabut tetap berlaku aturan yang mengharuskan pembangunan masjid hanya boleh dilakukan negara, semua masjid non-negara adalah ilegal. Masjid yang dibangun negara, selama 80 tahun hingga awal era Erdogan pun bisa dihitung dengan jari. Pada saat Israel berdiri, militer Turki berhasil menekan pemerintahan untuk mengakuinya, menjadi salah satu negara muslim pertama yang mengakui Israel disaat semua negara arab dan muslim lain masih relatif bersatu menghadapi Israel dan sekutunya.

Militer Turki, yang menjadi benteng utama penjaga dan pewaris sekuler-kemalisme, dulu terus melakukan intervensi demi menjaga sekularitas macam ini, meski dulu pun telah jelas terbukti bahwa kemunduran agama tidak membawa kemajuan bagi negara dan bangsa Turki. Dulu, melalui tekanan pada berbagai institusi negara, militer dan kelompok masyarakat pro-Kemalis berhasil “mengendalikan” keislaman. Adanya program-program agama secara terbuka hampir pasti akan menarik kecaman, para pemakai jilbab dan orang yang menunjukkan identitas agamanya meski hanya dengan melaksanakan shalat dan menolak alkohol dipecat dari berbagai institusi mulai negara maupun swasta, dan ini malah didukung sebagian besar media Turki pada waktu itu. Meroketnya inflasi dan suku bunga hingga 1000% tidak membuka mata akan efek negatif tak langsung sekulerisme pada masyarakat. Ia malah dijadikan dalih untuk menganalisa menguatnya partai-partai konservatif pro-Muslim. Hingga saat inipun, meski telah kembali ke barak, kelompok militer dan media “lama" masih memegang kekuatan “pentung” (penggebuk) yang signifikan.

Dari situasi sejarah selama 80 tahun sekulerisasi Turki yang seperti inilah Erdogan dan timnya muncul. Bukan seperti di negara kita yang masih terjaga budaya islamnya, atau bahkan negara tertentu yang menjadikan islam sebagai dasar negara resminya.

Ditengah kondisi dan sejarah seperti itu, Erdogan dan tim mampu mencabut sepenuhnya larangan berjilbab, memberi ruang bagi sistem perbankan Islam tumbuh dan berkembang, menampung jutaan pengungsi Suriah dan Iraq tanpa gejolak dalam negeri yang berarti, menjadikan lembaga madrasah Imam Hatip setara dengan sistem pendidikan umum, menghasilkan ribuan hafidz Quran setiap tahunnya, membatasi peredaran alkohol secara komprehensif, memperbesar peran dan anggaran Kementerian Agama (Diyanet) hingga setara dengan Kementerian Dalam Negeri maupun Kementerian Pendidikan Nasional, memugar dan membangun banyak masjid, serta mulai membangun Universitas Islam di Istanbul yang diproyeksikan pada 2023 akan setara dengan Al-Azhar di Kairo.

Benar bahwa “kemaksiatan” banyak terlihat di Turki, tapi perlu diingat bahwa Erdogan, timnya dan rakyat Turki menghadapi hantaman ganda. Ditengah pergulatan mereka menghadapi “lawan” berupa sekuler-Kemalisme dan Gulenisme, mereka juga harus menghadapi “lawan” berupa globalisasi. Disaat Turki masih memulihkan diri dari jeratan Kemalisme, masuk gelombang liberalisme melalui “ekspresi muda” dan media. Disaat banyak negara Eropa lain melegalisasi pernikahan sesama jenis, Turki mampu membimbing anak mudanya hingga dukungan pada hal serupa terbatas pada anggota gerakan kiri yang ekstrim. Disaat rasa keagamaan di banyak negara barat dan timur lainnya mengalami penurunan, di Turki keislaman malah menguat, terbukti dengan semakin ramainya masjid, meningkatnya keikutsertaan di Madrasah Imam Hatip dan lembaga hafidz Quran serta banyak dan meningkatnya pemakai jilbab di angkatan-angkatan baru baik di institusi sekolah menengah, kepolisian dan militer Turki.

Benar bahwa Turki berhubungan dengan Israel, Tapi ia juga satu-satunya negara muslim yang pemimpinnya menentang Shimon Peres dan berhasil memperbesar bantuan ke Gaza serta menguatkan pengaruh ke Yerusalem dan Al Aqsa. Turki juga memiliki jaringan masjid, lembaga pendidikan dan kebudayaan serta lembaga kemanusiaan di puluhan negara mulai Jerman di Eropa hingga Pakistan di Asia. Benar bahwa Turki memiliki komitmen dengan NATO/sekutu AS, tapi Turki adalah negara muslim dengan jumlah pangkalan militer di negara lain yang terbanyak (Qatar, Azerbaijan, Suriah dan Somalia) dan pada 2023 diproyeksikan mampu mengurangi impor alutsista dibawah 20% kebutuhan totalnya.

Benar bahwa ekonomi Turki alami inflasi dan defisit dagang yang tinggi. Tapi Turki yang sama adalah Turki yang mampu menampung jutaan pengungsi Suriah dan Iraq, memberi dampak positif asing terbesar kedua di Somalia, mengkoordinasi penembusan blokade atas Qatar, serta menyelenggarakan layanan kesehatan dan pendidikan universal secara gratis. Benar bahwa Turki mengimpor 95% kebutuhan minyak dan gasnya. Tapi Turki yang sama mampu memberi banyak beasiswa bagi mahasiswa asing, mampu menjadikan Turkish Airlines sebagai salah satu maskapai terbesar didunia.

Benar bahwa terjadi banyak penangkapan di Turki, tapi ini terjadi dengan kondisi Turki yang menghadapi perang di perbatasannya, lalu konflik dengan DAESH (ISIS) dan PKK (Komunis Kurdi) sekaligus, ditengah pergolakan menghadapi gerakan Gulen yang pernah memanfaatkan AKP & rakyat untuk kepentingannya sendiri, banyaknya kepentingan Iran, UEA dan Eropa yang berbenturan dengan Turki dan pasca menghadapi sebuah percobaan kudeta yang dalangnya berlindung di Amerika.

Intinya saya ingin memberi pemahaman bahwa Turki era Erdogan adalah sebuah keunikan, bila bukan sebuah paradoks. Turki adalah negeri Khilafah, tapi dari Turki pula khilafah diruntuhkan. Turki adalah negeri muslim pertama yang meredam Islam-Usmani, tapi dari Turki pula kekaguman modern pada Islam-Usmani dimulai. Turki adalah negara miskin sumber daya, tapi ia dikelilingi oleh negeri-negeri dengan sumber daya melimpah. Turki adalah negara berkonstitusi sekuler, tapi juga negara yang islami. Turki adalah negara yang menjalin hubungan dengan Israel, tapi Turki juga negara berhubungan dengan Israel yang paling keras mendukung Palestina.***