Istri (alm) Munir Akhirnya Sadar: HAM Cuma Jadi Komoditi Politik Jokowi Buat Berkuasa


[PORTAL-ISLAM.ID] JAKARTA - Suciwati, istri mendiang penggiat Hak Asasi Manusia, almarhum Munir Said Thalib, menolak undangan Presiden Joko Widodo untuk menghadiri upacara kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/8/2017) kemarin.

Hal ini lantaran kecewa dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menyampaikan pidato di sidang tahunan MPR/DPR/DPD di gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (16/8), yang tidak menyinggung soal Hak Asasi Manusia (HAM) padahal dulu jadi jualan saat kampanye Pilpres.

Suciwati menilai isu HAM hanya komoditi Jokowi untuk berkuasa.

"Kalau saya satu kalimat 'Kau yang mulai kau yang mengingkari'. Artinya ya dia memang jadi bisa melihat dengan kasat mata bahwa HAM itu hanya komoditi politik. Supaya dia bisa berkuasa," kata Suci di Kantor KontraS, Jakarta Pusat, Rabu (16/8).

Dia juga menilai Jokowi mengingkari janjinya. Menurutnya Jokowi sebagai presiden gagal melindungi hak asasi manusia setelah gagal menuntaskan kasus Munir.

"Ini berarti saya bilang pemerintahan tanpa jiwa ini kosong. Saya pikir dalam penindakan hukum dan HAM Jokowi nol," ujar Suciwati.

Seperti diketahui Jokowi dulu pernah menyampaikan komitmennya untuk menyelesaikan kasus-kasus masa lalu yang belum tuntas termasuk kasus Munir.

Suciwati dengan tegas menolak jika Jokowi dicalonkan kembali sebagai presiden dalam pemilihan presiden selanjutnya.

"Ah enggak lah. Tiga tahun saja dia gagal. Mau milih lagi ogah," kata Suciwati.

Bahkan Suciwati mengingatkan kepada masyarakat untuk ke depannya jika para calon presiden menjanjikan mengungkap HAM bisa langsung dicoret.

"Ini catatan penting untuk masyarakat ke depan kalau mereka menggunakan itu (isu HAM) siapapun yang mencalonkan presiden kita bisa ignore dan tidak pilih," tegasnya.

Seperti diketahui, pada Pilpres 2014 kubu Jokowi menggunakan isu HAM untuk mendiskreditkan dan menjatuhkan Prabowo Subianto. Banyak pemilih yang kemudian termakan propaganda HAM ini. Walau akhirnya menyesal kemudian.