Anis Matta dan "Pihak Tertentu"


Oleh: Erizal

Hampir dua tahun menghilang, Anis Matta (AM) hadir kembali, di tengah-tengah kader PKS. Kehadiran pertama di Semarang, Jawa Tengah dengan tajuk "Tarhib Ramadhan". Malah, di sana tampil tiga sesi sekaligus, hingga ke Salatiga. Salatiga istimewa, karena termasuk basis PKS.

Sebelumnya, sebetulnya, juga sudah hadir di tengah-tengah kader PKS, yakni di Bandung. Tapi, acaranya, jauh dari makna kehadiran yang bermacam-macam karena tajuknya "Mengenang Taufik Ridlo". Seorang sahabat yang tidak hanya akrab, tapi sudah seperti Saudara, karena saling memikul beban, seiya-sekata di tengah badai, tapi oleh "pihak tertentu", dianggap angin lalu, saja.

Sebetulnya, juga sudah hadir, tapi di tengah-tengah umat, dalam "Aksi Bela Islam" yang berjilid-jilid itu. Tapi, itu bukan AM sebagai "orang PKS" atau mantan Presiden PKS, melainkan AM hanya bagian kecil dari umat Islam yang terusik. Atau, terseret gelombang umat yang marah.

Ternyata, kehadiran AM terus berlanjut. Setelah di Semarang terus ke Makassar, Cirebon, Palembang, Pangkal Pinang, Samarinda, Surabaya, Bali, Banjarmasin, dan terakhir Jakarta Utara. Entahlah, apakah terus berlanjut ke daerah-daerah lain, hingga ke seluruh Indonesia, seperti dulu?

Itu, belum termasuk daerah-daerah yang hendak didatangi, tapi batal seperti Bandung dan Batam, termasuk Jakarta Barat. Batal bukan faktor AM tapi selain AM. Batal bukan faktor teknis. Acaranya sih, oke. Tapi, dibatalkan "pihak tertentu" yang terusik. Terusiknya kenapa, juga kabur?

Sebetulnya, hampir semua acara dihadiri AM itu, ingin dibatalkan, atau digembosi "pihak tertentu" itu. Termasuk, yang dihadiri Salim Segaf Al-Jufri (SSA) di Surabaya, dan Banjarmasin. Entah kenapa, kehadiran AM, termasuk sepanggung bersama SSA, dihalang-halangi? Aneh juga?

Aneh karena "pihak tertentu" itu begitu ngotot mengerahkan kemampuannya menghalang-halangi kemunculan AM, sementara SSA sendiri tidak mempermasalahkan? Mestinya, saat SSA tidak mempermasalahkan, "pihak tertentu" itu juga tak berani aneh-aneh, kecuali mereka juga tak menganggap posisi SSA sebagai Ketua Majelis Syuro (KMS), yang merupakan formatur tunggal.

Siapakah "pihak tertentu" itu? Seberapa kekuatannya, hingga mau menjegal AM dan SSA? Orang struktur PKS atau non-struktur? Rasanya tak mungkin jika berasal dari orang non-struktur? Bila orang struktur, pihak manakah? Bukankah yang mengundang AM-SSA, juga orang struktur?

Lalu, apakah ada kesepakatan atau "rahasia" antara SSA dan AM? Atau malah, kehadiran AM di daerah-daerah atas restu atau perintah dari SSA? Karena, bisa dipastikan, tanpa restu atau perintah dari SSA, AM bersedia tampil di daerah-daerah, dengan segala penghalang-halangan itu.

Tapi, anehnya, AM juga tidak ngotot hadir di daerah-daerah jika memang ada penghalang-halangan itu. Mestinya, kalau ada restu, apalagi perintah dari SSA, AM bisa saja "memaksakan" diri hadir di daerah-daerah itu. Sebab, penghalang-halangan itu bisa dicap sebagai gerakan ilegal.

Tapi, tidak! AM sepertinya tidak menginginkan adanya benturan keras sesama kader atau malah sesama struktur di atas atau di bawah. Sekadar gesekan tak masalah. Tapi, kalau mengarah kepada benturan, AM juga tak mau. Entahlah, apakah itu, juga bagian dari kesepakatan SSA-AM?

Apalagi, niatnya bukan untuk berkelahi, tapi memberikan inspirasi. Memberikan inspirasi dengan cara berkelahi, kisah apa pula itu? Bukan tenaga yang bertambah, tapi letih yang semakin mendera. Dua tahun berlalu, hanya kontroversi yang dirasa. Ditambah, twit-twit menyebalkan itu.

Tak bisa dimungkiri, kehadiran AM disambut meriah jika tak mengatakan gegap-gempita. Seperti oase di tengah padang pasir. Jika tak ada usaha penghalang-halangan itu, tentu akan lebih heroik. Apalagi, saat tampil bersama SSA di Surabaya. Halal bi halal berubah menjadi kampanye.

Pasca "Aksi Bela Islam" yang berjilid-jilid itu, tak hanya PKS, juga umat Islam Indonesia, memang dirasakan ada kekosongan narasi soal Islam dan negara. Kebetulan, AM sudah ada buku "Menikmati Demokrasi" dan "Dari Gerakan menuju Negara". Artinya, AM termasuk yang cakap bicara soal itu. Aneh saja ada "pihak tertentu" di PKS yang mau mengganggunya. Apakah "pihak tertentu" ini menginginkan umat Islam balik ke belakang atau selalu masuk ke lubang yang sama?***