STRATEGI DUTA BELIA


"STRATEGI DUTA BELIA"


Oleh: Eko Jun

Salah satu cara efektif untuk mempromosikan sesuatu adalah dengan mengangkat duta. Merekalah yang akan bertugas untuk mengkomunikasikan berbagai macam hal kepada khalayak ramai. Bisa diambil dari orang yang sudah terkenal, bisa dari proses kompetisi, bisa pula yang asal berani maju. Mereka akan dipoles, dipromosikan, diberi panggung dan dijadikan ikon. Jika sebelumnya kita hanya mengenal konteks duta wisata, duta produk (bintang iklan atau brand ambassador) dan duta lembaga, maka kedepan kita juga akan mengenal fenomena duta pemikiran. Setidaknya, itulah hal yang bisa kita lihat pada kasus Afi dan Tsamara.

Afi dan Tsamara itu statusnya nobody. Karena dari segi ilmu, pengalaman, kedewasaan dan kapasitas, mereka toh masih kalah jauh dari Boni Hargen, Guntur Romli, Fardjroel Rachman dll. Mereka tidak lebih dari "Gadis remaja yang baru kenal dunia". Jika saat ini kita saksikan mereka mendapatkan publisitas yang sedemikian rupa dan sanjungan berbusa - busa dari para pendukungnya, maka posisi mereka harus kita pahami sebagai duta dari orang atau kelompok dibelakangnya. Mereka hanya boneka yang menjadi penyambung lidah sebuah komunitas.

Menarik untuk dikaji, apa sebenarnya keuntungan menggunakan duta-duta belia?

Pertama: Penyegaran Tampilan

Orang pasti capek lihat generasi tua seperti Wimar Witular, Dawam Rahardjo, Ulil Abshar, Nusron Wahid, Komarudin Hidayat, Ahmad Syafi'i Ma'arif dll. Omongannya berat, chasingnya tidak menarik. Agar ide, konsep dan wacana tetap disambut dengan hangat, maka butuh tokoh - tokoh muda, lugu dan polos sebagai penyambung lidahnya. Dititik ini, agak sulit untuk mengambil tokoh dari akun - akun anonim yang ada dimedsos. Sulit juga untuk mengambil tokoh tua yang memiliki track record perdebatan dengan kosakata yang rusak dan grafis menjijikkan. Dalam situasi begini, mencari duta belia adalah salah satu opsi yang terbaik.

Kedua: Keberhasilan Regenerasi

Duta belia juga menyiratkan keberhasilan proses regenerasi pemikiran dan estafet perjuangan. Ditingkat grassroot, pemikiran dan gerakan liberal itu sulit disemaikan kepada masyarakat. Apalagi jika pihak yang menyampaikan adalah tokoh - tokoh tua yang sudah ditahdzir oleh para ulama. Mereka juga perlu membuktikan bahwa ide, pemikiran dan gerakan mereka juga diminati oleh generasi muda. Karena itu mereka pun sangat berkepentingan untuk menampilkan dan memplublish skuad U-17 hingga U-21 yang dimilikinya. Mereka ingin mengirim pesan kepada kita "Jangan senang jika anda memiliki program kaderisasi untuk para dai muda. Karena kami pun memiliki program yang sama".

Ketiga: Merebut Pangsa Pasar

Generasi dewasa dan tua, umumnya sulit untuk berubah orientasi politiknya. Alasannya cukup banyak ; bisa karena idealis (mampu memilih dan memilah), pragmatis (tidak mau berpartisipasi jika tidak ada insentif kontan) ataupun apatis (kecewa dengan situasi dan kondisi). Pangsa pasar anak muda (pemilih pemula) menjadi alternatif yang menjanjikan untuk direngkuh. Market sharenya besar, mudah diarahkan, minim pemahaman sejarah dll. Pasar anak muda tentu sulit dijangkau oleh wajah - wajah tua. Menggunakan jasa duta belia dengan pendekatan popculture menjadi cukup efektif, baik untuk menyemaikan ide dan gagasan maupun untuk menggalang dukungan.

Keempat: Mendulang Simpati

Orang tua kalau bertindak salah dan bodoh, pasti akan jadi bahan cemoohan. Asumsinya, mereka sudah kenyang dengan ilmu dan pengalaman. Tapi jika kaum muda melakukan kesalahan, cenderung akan mudah dimaafkan dan bahkan dibela. Asumsinya, mereka adalah pribadi yang masih butuh bimbingan dan pembinaan.

Membenturkan mereka dengan kelompok senior (sebagaimana kasus Tsamara vs Fahri Hamzah) juga efektif mendulang simpati. Berdebat dengan duta belia itu serba pusing, karena menang tidak membanggakan, kalah sangat memalukan. Apalagi jika didalam forum tersebut mereka di-KO hingga menangis umpamanya, simpati publik jelas akan mengalir deras. Inilah salah satu alasan yang membuat orang-orang dewasa lebih memilih untuk berhadapan dengan singa ketimbang bebek.

Strategi duta belia sepertinya akan akrab dengan jagad medsos ditanah air. Patah tumbuh, hilang berganti. Jika satu duta belia gagal diorbitkan karena satu dan lain hal, maka nominasi yang lain siap untuk dipromosikan. Apalagi para remaja, umumnya memang senang dengan publisitas. Industri pers penyokongnya, tak ubahnya seperti rumah produksi yang sibuk mencari pemain berbakat dari kalangan anak muda. Jika dimasa depan muncul lagi artis-artis pendatang baru, ya dimaklumi saja.***