KIM JOK WIE DAN KECEMASAN YANG MELANDA


KIM JOK WIE DAN KECEMASAN YANG MELANDA

Tersebutlah suatu cerita,
Negeri dongeng berjuluk Kroya Ngu-tara,
Karena hobbynya ngutang tiada tara,
Dipimpin penguasa yang dikenal sederhana,
Hanya seratus ribuan harga baju dan celana,
Tapi entah kenapa…
Di tangan penguasa yang konon sederhana,
Rakyat tak juga sejahtera?

Kim Jok Wie namanya,
Ambisi berkuasa dia tak punya,
Setidaknya itu yang pernah dikata,
Oleh 204 psikolog dari perguruan tinggi ternama.

Sudah tiga tahun Kim Jok Wie berkuasa,
Rasa hormat rakyat makin tak dirasa,
Satu persatu topengnya mulai terbuka,
Kelihatan aslinya ternyata tak sederhana.

Akhir tahun lalu saudara mudanya,
Keseleo lidah menista agama,
Kim Jok Wie telah cukup berusaha,
Membantu adiknya agar kembali berjaya.

Tapi apa mau dikata,
Akhlak adiknya jauh dari mulia,
Rakyat banyak sudah muak dibuatnya,
Berton-ton sembako rayuannya,
Tak juga membuahkan hasil di bilik suara,
Telak sekali kekalahan yang dideritanya.

Kim Jok Wie diliputi rasa cemas yang melanda,
Adiknya yang didukung dana luar biasa,
Uang tak berseri milik Sembilan naga,
Kenapa bisa menguap begitu saja?!

Si adik hanya bisa mengais empat puluh dua persen saja,
Sisanya lima puluh delapan persen diraih lawannya,
Meski hanya didukung dua partai politik saja,
Yang prosentase suaranya tak seberapa,
Tapi didukung penuh suara rakyatnya,
Maka kemenangan pun di tangan lawannya!

Kim Jok Wie resah dan gelisah hatinya,
Bagaimana kalau hal serupa menimpanya,
Bapak Jendral itu akan kembali jadi penantangnya,
Head to head merebut simpati rakyat Kroya Ngu-tara,
Yang sudah lelah menunggu janji manis tak terlaksana,
Ekonomi makin terpuruk yang justru dirasa.

Tiga tahun yang lalu ada akal bulus sedot suara,
Dua tahun lagi belum tentu bisa..
Ada Emak-emak seantero Kroya Ngu-tara,
Bersiaga di te-pe-es agar suara tetap terjaga,
The power of emak-emak yang selalu waspada,
Berkolaborasi dengan pengacara dan jawara.

Ah…, sulitnya memainkan suara!
Agar bisa kembali melenggang ke istana!

Kalau memenangkan kadernya saja bisa,
Boleh jadi Pak Jendral bisa memenangkan dirinya,
Atas ridho Allah dan dukungan rakyatnya,
Bisa terkapar Kim Jok Wie dibuatnya.

Apalagi kalau mengandalkan kendaraan tua,
Yang sudah terbukti keok di pilkada,
Wong Cilik menghajar Wong Licik membuat banteng tak berdaya,
Banteng merah itu kini tak lagi perkasa,
Tubuhnya penuh luka menganga,
Akibat banyak yang korupsi dimana-mana.

Maka Kim Jok Wie pun memutar otaknya,
Syukurlah masih tersisa akal liciknya,
Batasi lawan agar tak bisa masuk ke arena,
Buatlah tak ada lawan tanding yang bisa berlaga,
Agar kau tampak sakti mandraguna,
Supaya rakyat mengira kau memang digdaya.

Tandukan banteng tua tiga tahun lalu dihitungnya,
Meski itu cuma kisah lama, sekedar nostalgia masa jaya,
Dijadikannya syarat untuk berlaga,
Semua penantang wajib punya bekal suara,
Dua puluh sampai dua puluh lima persen minimalnya,
Meski banteng tua belum tentu bisa,
Mengulang sukses pertarungan sebelumnya.

Yang penting lawan sudah dibikin tak bisa,
Masuk ke arena apalagi berlaga,
Maka jalan bagi Kim Jok Wie akan terbuka,
Menang tanpa ada yang melawannya.

Tapi semudah itukah skenarionya?
Belum tentu juga rakyat menerimanya!
Meski yang mengaku wakil rakyat sudah se-iya se-kata,
Demi meloloskan Kim Jok Wie di arena tanpa laga.

Permainan diktator baru saja dicobanya,
Amarah rakyat belum ditakarnya,
Restu alam pun belum tentu mengarah padanya,
Apalagi ridho Sang Maha Kuasa.

Kim Jok Wie, tunggulah rakyat bersuara,
Dahaga kuasa yang kian membara,
Berhadapan dengan kemuakan rakyat jelata,
Dan untaian ribuan doa,
Dari mereka yang teraniaya,
Oleh janji dusta yang tak terhingga.

Tunggulah “tangan” Tuhan yang bekerja,
Akan tiba saatnya kau terhina,
Seperti para diktator yang jadi legenda,
Dalam sejarah di berbagai belahan dunia.

Semoga yang mengaku wakil rakyat Kroya Ngu-tara,
Masih punya iman dan nurani meski sejumput saja,
Bahwa mereka duduk disana dibayar dengan keringat rakyatnya,
Bukan untuk melanggengkan penguasa.

Semoga mereka ingat suatu ketika,
Saat mulut tak lagi mampu berkata,
Meski voting tertutup dari mata rakyatnya,
Tangan yang bicara jadi saksi amanahnya,
Itulah bekal yang abadi selamanya,
Dibawa pulang hingga menghadap Tuhannya.

Cilegon, 20 Juli 2017

(by Iramawati Oemar)

__
*Sumber: dari fb penulis