KETIKA Inspektur Vijay dan Anak Buahnya Gerebek Pabrik Beras


[PORTAL-ISLAM.ID] Inspektur Vijay dan anak buahnya, Ajay, sedang melakukan konferensi pers...

Vijay: "Hari ini, Kepolisian berhasil menggerebek pabrik penggilingan padi skala nasional yang telah merugikan negara ratusan triliun rupee."

Ajay membisikkan sesuatu pada atasannya: "Bukan ratusan triliun bos. Tapi 15 triliun."

"Maaf, maksud saya, yang telah merugikan negara 15 triliun rupee," ralat Vijay pada para wartawan yang hadir.

Ajay kembali membisikkan sesuatu: "Maaf bos. Barusan dapet WA. Setelah saya hitung, kerugian negara ternyata hanya 10 triliun."

"Biawak kutilan lu, Jay. Kasih info yang bener dong!" Inspektur Vijay marah-marah pada Ajay.

Vijay kembali meralat pernyataannya kepada wartawan: "Tepatnya, kerugian negara mencapai 10 triliun rupee."

Wartawan: "Darimana kepolisian dapat angka 10 triliun, Tn. Vijay?"

Ajay coba menjelaskan: "Dari hasil perhitungan, sekitar 1000 ton beras yang kami sita. Jika kerugian negara per kilo anggap saja 10.000, dapatlah angka 10 triliun."

Wartawan: "Bukankah 1000 ton kali 10.000 hanya sekitar 10 Miliar, Pak?"

Vijay berbisik ke Ajay: "Kadal buntung kurang gizi lu Jay. 1000an ton dikali 10.000 hasilnya cuma 10 miliar."

"Kirain 1 ton itu sejuta kilo bos, hihihi... " jelas Ajay.

"Golok banget sih lo! Sini, biar gw jelasin!" Vijay mengambil alih kuasa.

"Angka 10 triliun termasuk kerugian immateril. Benar kerugian materil hanya 10 miliar. Tapi kerugian immateril lebih besar dari itu. PT. MAMA membeli gabah jauh lebih mahal dari harga yang ditetapkan pemerintah, yang menyebabkan, para petani berbondong-bondong menjual gabahnya ke PT. MAMA. Ini mengakibatkan pengusaha penggilingan padi lainnya mengalami kerugian karena tidak kebagian gabah, yang kami perkirakan kerugiannya sekitar 10 triliun."

Wartawan: "Bukankah bagus buat petani, Pak, jika gabah mereka dibeli mahal? Jika pengusaha lain tidak kebagian gabah, kan mereka bisa menaikkan harga lebih tinggi sedikit dari harga yang dibeli PT. MAMA? Kerugian immaterilnya juga luar biasa sekali?!"

Vijay: "Jika semua pedagang menaikkan harga beli, otomatis harga jual juga akan naik. Padahal ini kan gabah bersubsidi, yang harga jualnya sudah ditetapkan pemerintah."

Mensos yang kebetulan hadir meralat keterangan Inspektur Vijay: "Maaf Pak Vijay. Kita tidak memberi subsidi untuk gabah. Dan benih padi yang gabahnya dibeli oleh PT. MAMA, juga bukan jenis benih yang disubsidi pemerintah."

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Inspektur Vijay membela diri: "Tapi pupuk yang digunakan petani kan disubsidi Pemerintah, Bu Mensos. Inilah masalahnya!"

Mensos diam. Lebih baik mengalah, katanya dalam hati.

Mentan yang juga hadir di konpres ini coba menengahi: "Masalahnya begini, PT. MAMA ini menjual harga sangat mahal ke konsumen, sehingga konsumen merasa dirugikan. Mereka mengambil untung terlalu banyak."

Wartawan: "Jika margin yang diambil PT. MAMA terlalu tinggi, bukannya bagus buat pengusaha lain Pak? Mereka bisa mengambil peluang dengan menjual beras yang kualitasnya sama, dengan harga lebih murah. Dan jika konsumen merasa dirugikan, mengapa beras dengan merek ini sangat laris di pasaran? Lagi pula kan konsumen banyak pilihan, tidak harus mengkonsumsi beras dari PT. MAMA."

Vijay: "Begini lho. PT. MAMA ini telah melanggar dua pasal sekaligus. Yaitu peraturan Menteri Pedagangan no. 7/2017, dan UU Perlindungan Konsumen thn 1999. Makanya kami grebek."

Wartawan: "Kapan PerMen 7/2017 ini dikeluarkan Pak?"

Vijay: "3 hari yang lalu."

Wartawan: "Baru diterbitkan 3 hari, langsung dieksekusi, tanpa sosialisasi?"

Vijay: "Kami memang profesional."

Wartawan: "Dan kok bisa memakai UU perlindungan konsumen? Apa sudah ada konsumen yang komplain? Saya sudah lama komplain tarif PLN, tapi tidak ada tindakan sampai sekarang."

Ajay membisikkan sesuatu ke Inspektur Vijay: "Bos, wartawan satu ini cerewet banget. Kita tangkap saja gimana?"

Vijay: "Jangan. Disini banyak wartawan. Lu cari info aja, nanti dia pulang lewat tol mana."

Ajay: "Siap boss!"

Vijay ke wartawan: "Baiklah. Konpres ini kita tutup karena sudah jam makan siang. Selamat siang semua!"

Sekian.

NB: Cerita diatas hanya fiksi belaka. Jika ada kesamaan peristiwa dan nama, itu hanya kebetulan semata.

__
dari fb Wendra Setiawan