KENAPA HARUS "KORUT" PAK TJAHJO?!


KENAPA HARUS "KORUT" PAK TJAHJO?! 

(by : Iramawati Oemar)

Kata-kata dan kalimat yang keluar dari mulut seseorang sejatinya adalah cerminan dari apa yang ada di dalam benak pemikirannya.

Pernah mengalami kejadian maksud hati ingin menyebut "A" tapi yang keluar dari mulut justru "B"? Atau mau memanggil si Fulan justru mulut menyebut nama si Polan?

Saya yakin hampir semua orang pernah mengalaminya, itu hal yang lumrah, wajar.

Otak lah yang memperoses instruksi menjadi aksi. Itu sebabnya ketika pikiran kita sedang tertuju pada B, maka yang keluar dari mulut B, meski yang dimaksudkan A.

Itu pula sebabnya kata-kata dan ujaran yang keluar dari mulut seseorang yang sehari-hari berkutat dengan premanisme dan prostitusi, akan berbeda dengan tutur kata yang keluar dari mulut seorang customer service atau marketing yang setiap hari harus bersikap santun dan menjaga etika di hadapan pelanggan. Ucapan yang keluar dari mulut seseorang dipengaruhi oleh mindset dan pola pikir yang ada di benaknya.

Pemimpin yang dihormati rakyatnya tentu banyak contohnya. Namun tentu saja TIDAK TERMASUK KOREA UTARA. Kalau hanya sekedar menyebut contoh, sebut saja Raja Salman yang sangat dihormati oleh rakyat Arab Saudi. Sebenarnya ini justru lebih mudah diingat, sebab Raja Salman baru beberapa bulan lalu berkunjung kemari dan menyita segmen pemberitaan media massa.

Tapi kenapa yang disebut pak Tjahjo justru Korut? Benarkah rakyat Korut MENGHORMATI pemimpinnya?!

Rakyat Korut TAKUT kepada pemimpinnya, itu benar! Bagaimana tidak takut, meniru model potongan rambutnya saja tidak boleh. Salah posisi duduk saja bisa di"dor" mati! Saudaranya saja dijadikan pakan anjing, apalagi rakyat biasa.

Bertahun-tahun rakyat Korut hidup dalam ketakutan luar biasa. Dicekam kengerian setiap saat, tak ada kebebasan memilih, semua sudah ditentukan penguasa yang DIKTATOR.

Yang tidak tahan, kabur ke perbatasan dan menjadi pengungsi di Korea Selatan.

2 tahun lalu saya pernah bertemu salah seorang pengurus dari sebuah yayasan (foundation) yang didirikan oleh sebuah perusahaan besar di Korsel. Yayasan yang fokus berkutat di bidang pengelolaan program CSR itu salah satunya memberikan pekerjaan sederhana bagi para pengungsi Korut, hanya agar mereka bisa mencari nafkah demi menyambung hidup.

Para pengungsi Korut di Korsel itu dipekerjakan me-laundry pakaian kerja (wearpack) di perusahaan induk pendiri yayasan.

Nah, kalau rakyat Korut sangat menghormati pemimpinnya, kenapa mereka memilih jadi pengungsi di negara tetangga? Bukankah rakyat yang hormat pada pemimpinnya tentu mencintai pemimpinnya dan patuh pada setiap kebijakannya?!

Saya tidak yakin Mendagri Tjahjo Kumolo wawasannya sempit sampai tidak tahu apa yang sebenarnya dialami rakyat Korut. Tidak mungkin!

Tapi kenapa dia menyebut rakyat Korut lah yang harus ditiru warga Indonesia dalam hal menghormati pemimpinnya?!

Tentu kita tidak tahu apa persisnya yang ada di benak Tjahjo. Hanya saja, patut diduga Tjahjo kagum pada cara Kim Jong Un memerintah Korut sehingga mampu membuat rakyatnya tunduk (BUKAN PATUH) pada pemimpinnya. Dalam mindset Tjahjo, menghormati pemimpin sama dengan ketundukan tanpa syarat. Sama seperti rakyat Korut yang pasrah tak berdaya atas apapun yang diperintahkan Kim Jong Un.

Kepemimpinan ala Kim Jong Un mungkin dianggap efektif oleh Tjahjo. Padahal, seperti halnya bapaknya, Kim Jong Il, Kim Jong Un adalah seorang DIKTATOR BERPAHAM KOMUNIS. Dia memastikan seluruh rakyatnya hidup dalam keseragaman di bawah perintahnya, dengan cara paksa : menurut atau dihukum! Tak ada pilihan, tak ada dialog, tak perlu dengar suara rakyat, sebab rakyatlah yang harus mendengar dan menuruti setiap apa yang dikatakan pemimpinnya.

Nah, terbaca bukan arah pemikiran Tjahjo? Seorang pemimpin otoriter, kejam, diktator dan komunis lah yang ingin dijadikan contoh sebagai pemimpin yang dihormati rakyatnya. Padahal, kalau mau Tjahjo bisa mengambil contoh negara lain, Jepang, misalnya. Bukankah bangsa Jepang lebih dikenal sebagai bangsa yang memegang teguh nilai penghormatan kepada pemimpin?

Di Korea Utara, ada pemilu untuk memilih presiden. Tapi calonnya ya Kim Jong Un juga, CALON TUNGGAL, tak ada pilihan lain. Itulah cara Kim Jong Un melanggengkan kekuasaannya di Korut.

Rakyat mau memilihnya?! Ya iyalah! Kalau tidak mau, bisa dihukum mati karena dianggap melawan pemerintah, makar, memberontak.

Tetiba jadi ingat soal presidential treshold. Kalau goal, si boss bisa jadi calon tunggal dong! Tetiba juga saya ingat Perppu pembubaran ormas. Jadi, kita rakyat harus hormat pada pemimpin dan mengiyakan saja apapun perintahnya, termasuk kalau ia membelenggu kebebasan kita?!

Oke Pak Tjahjo, terima kasih banyak sudah menunjukkan kepada kami apa isi pikiranmu.

Korea Utara, Kim Jong Un, calon tunggal saat pilpres, bubarkan ormas, blokir medsos (meski sementara ini sudah janji gak akan ada pemblokiran lagi, tapi belum tentu ke depan benar-benar gak ada), tangkap dan tuduh "makar" aktivis yang dianggap melawan, semua itu punya satu benang merah : OTORITARIANISME DAN KEDIKTATORAN!

Dan semua itu efektif bisa berjalan di bawah rezim KOMUNIS!

Mau jadi seperti rakyat Korut??!!

Kalau saya sih "TIDAK!". Kamu?