JOKOWI, HTI, dan PEMILU 2019


Pemilu tinggal dua tahun lagi. Dalam dunia politik, suara adalah segalanya. Karena itu, sadar atau tidak, dalam dua tahun ini kebijakan-kebijakan Jokowi tentu punya orientasi untuk mendulang dukungan, mengambil simpati rakyat pemilih untuk pemilu 2019 nanti.

Di sinilah kenapa waktu Lebaran kemarin Jokowi mau menerima tamu dari GNPF-MUI, padahal sebelumnya selalu kucing-kuningan. Jokowi sadar, setelah kekalahan Ahok, suara umat Islam yang dimobilisasi oleh gerakan semacam GNPF-MUI sangat menentukan kemenangan. Jadi mereka jangan lagi dijauhi, harus dirangkul atau "dibohongi" kalau mau suara Jokowi meroket di tahun 2019. Harus ditimbulkan kesan bahwa Jokowi dekat dengan umat sebagai pemilik suara terbesar di Republik ini.

Tapi saya kemudian berpikir, kalau Jokowi ingin menggaet suara dari umat Islam, kenapa malah melahirkan Perppu untuk membubarkan ormas anti Pancasila yang jelas maksudnya adalah HTI, salah satu ormas besar Islam? Dengan jumlah anggota melebihi 1 juta saja misalnya, apakah Jokowi tidak takut kehilangan suara sebanyak itu?

Tapi saya kemudian sadar, pembubaran HTI tidak akan berdampak apapun terhadap suara Jokowi nanti. Dirangkul atau ditendang, HTI tetap akan golput, tidak punya efek apapun terhadap suara pemilu. Jadi wajar kalau Jokowi begitu berani menendang HTI. Istilah kasarnya, HTI tidak punya nilai tawar atau harga jual untuk dirangkul Jokowi dalam pemilu nanti.

Nasihat saya sih, supaya diserukan kepada anggota HTI agar jangan golput, biar punya nilai tawar untuk pemilu. Dengan suara itu HTI bisa "balas dendam" dengan memberikan suara kepada lawan Jokowi agar Jokowi tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI.

(Jauhar Ridloni Marzuq)