Investigasi Anto Galon: Sekolah Cuma SMP, Tak Aktif di Lingkungan, Pengetahuan Agama Sangat Minim


[PORTAL-ISLAM.ID] Semarang – Belakangan ini nama Anto Galon mendadak populer. Film kontroversial berjudul “Kau Adalah Aku yang Lain” yang dibesutnya memenangi Police Movie Festival 2017. Karyanya semakin viral setelah diunggah oleh akun sosial media Divisi Humas Polri dan menuai kecaman dari banyak pihak.

Kontroversi menghampiri pria kelahiran 38 tahun silam itu karena ia dianggap membuat film yang dinilai menyudutkan nilai-nilai Islam. Juga melanggar kode etik perfilman.

Berbekal sebuah foto dan siaran pesan yang beredar luas di sosial media, jurnalis Kiblat.net melakukan investigasi berusaha menelusuri latar belakang kehidupan Anto Galon dan bersilaturahmi di kediaman orangtua pria bernama asli Sugiyanto ini di wilayah Semarang, Jawa Tengah.

Pada Ahad, (02/07), reporter Kiblat.net, Jundi Al-Kayyis bertandang ke kawasan Genuk Krajan III, Tegalsari, Kota Semarang, sesuai dengan alamat yang tertera di siaran pesan di sosial media.

Untuk menuju kediaman Anto Galon, kami harus melalui jalanan sempit lagi curam. Beberapa warga yang ditemui dan ditanyai tentang sosok Anto Galon banyak yang tidak mengetahui di mana letak rumahnya.

Setelah hampir satu jam memutari kampung Genuk Krajan, dan beberapa kali bertanya pada penduduk setempat, Alhamdulillah, Kiblat.net berhasil menemui ibunda Sugiyanto alias Anto Galon yang bernama Tukiyem. Usianya terbilang sepuh karena tahun ini genap 71 tahun.

Dengan gestur khas orang tua di Jawa, Tukiyem yang saat itu ditemani oleh keponakannya, Sri mempersilahkan reporter Kiblat.net masuk ke rumah yang berdinding kayu.

Tukiyem lalu bercerita perihal masa kecil dan sekolah Anto Galon sebelum akhirnya membuat kontroversi dengan filmnya yang menjuarai Police Movie Festival.

“Sejak TK hingga kelas 3 SD, Anto berada di Solo, ikut sama mbaknya. Lalu, saat naik kelas 4 saya pindahkan ke Semarang,” ujarnya dengan logat Jawa kental.

Tukiyem pun menjelaskan, masa sekolah Anto Galon hanya dihabiskan di bilangan Genuk Krajan, Semarang. Kendati demikian, Anto hanya menyelesaikan pendidikannya di bangku SMP. Anto Galon tidak pernah melanjutkan sekolah sampai ke tingkat SMA.

Keponakan Tugiyem, Sri, menambahkan, Anto hanya bersekolah setingkat SMP di Sekolah Tekhnik Negeri 2, yang sekarang jadi SMPN 39 Semarang. Ketika dikonfirmasi soal itu, Tukiyem membenarkan, “Nggak SMA, cuman sampe SMP. Trus lama di Teater Lingkar itu.”

Ia menjelaskan perihal tidak lanjutnya pendidikan Anto karena ada kendala biaya. Setelah menyelesaikan sekolah setingkat SMP, Anto aktif di Teater Lingkar yang berada di Jl. Gemah Jaya I No.1, Kedungmundu, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Namun, selain ada kendala biaya, Anto Galon juga memang bukan siswa yang berprestasi di sekolah. “Sekolahe yo bodo, sekolahe bodo mas,” ujar Tukiyem dengan gaya Jawanya yang khas.

Tak Aktif di Lingkungan

Sementara itu, Anto pun selama di Genuk Krajan hingga tahun 2009 hanya menjadi warga biasa saja. Anto, menurut ibunya, tidak terlalu aktif dalam kegiatan lingkungan semisal kerja bakti dan pengamanan kampung. Meski begitu, setahu dia, anaknya dikenal cukup baik di lingkungan mereka.

Sejak aktif di Teater Lingkar tersebut, Anto Galon akhirnya hijrah ke Jakarta untuk berperan sebagai Pandu, tokoh figuran dalam film 'Merah Putih'.

“Pertama di film Merah Putih, terus ke Jakarta, main film itu. Setiap 5 Agustus disetel, dia main film itu, gak tahu jadi apa, orang tua gak ngerti gituan mas,” ujar Tukiyem yang sudah sejak tahun 1960 tinggal di Genuk Krajan.

Pihak keluarga juga menyatakan bahwa pengetahuan agama Anto Galon sangat minim. Anto tidak pernah mendapatkan pelajaran agama secara khusus atau ‘mondok’ untuk mendalami agama Islam. “Gak tau mas kalau di sini gak pernah mondok, setahu saya,” jawab Sri, kakak sepupu Anto.

Tukiyem juga menambahkan, bahwa pihak keluarga tidak pernah diberitahu apa pekerjaan Anto selama di Jakarta. Film-film buatannya pun tidak diketahuinya secara pasti. Tukiyem pun tak tahu film kontroversial buatan Anto Galon yang memenangkan Festival Film Kepolisian itu.

“Film-film nya gak tau, aku malah gak ngerti anakku kerja di mana. Anto jarang pulang, gak pernah saya dibawa ke Jakarta, kadang kerjo, kadang ora, ora tetep,” kata Tukiyem.

Menurutnya, sejak main 'Merah Putih' di Jakarta, Anto jadi jarang pulang ke Semarang. Paling pas momen hari lebaran saja Anto Mudik, kalau gak lebaran biasanya gak pulang. Sang ibu yang memiliki dua anak bersaudara ini.

Ditambahkannya, putra bungsunya ini baru saja mudik ke Genuk Krajan sejak tanggal 17 Juni lalu, atau sepekan sebelum lebaran hari raya Idul Fitri. Anto Galon baru kembali ke Jakarta pada tanggal 30 Juni.

“Mungkin kehidupannya belum sempurna, sendirian nggeh di sana,” tutup janda anak dua ini dengan penuh harap.

Seiring dengan berkumandangnya adzan maghrib, Kiblatnet pun menutup pertemuan ini. Sementara Anto Galon hingga saat ini belum dapat dihubungi, baik melalui sambungan telepon maupun pesan WhatsApp.⁠⁠⁠⁠

Sumber: Kiblat