GAK APA DIBILANG GAK BERKELAS, MENDING MAKAN MARTABUCKS


MENDING MAKAN MARTABUCKS

Penghujung bulan Nopember 2016, Presiden Jokowi bikin pernyataan tentang keberadaan Starbucks. Menurut Presiden, tanda sebuah kota maju adalah dengan adanya gerai Starbucks.

"Kalau ada Starbucks nya citra sebuah kota langsung sepertinya berkelas internasional meskipun tidak selalu seperti itu," ujar Presiden Joko Widodo saat membuka Pameran Indonesia Franchise dan SME Expo (IFSE), di JCC, Jakarta, Jumat (25/11/2016).

"Untuk generasi modern, begitu jalan-jalan di sebuah kota langsung yang dicek, ada Starbuck nya nggak," ungkap Jokowi.

(http://www.tribunnews.com/bisnis/2016/11/25/jokowi-ada-starbucks-imej-sebuah-kota-berkelas-internasional)

Bisa jadi Tribunnews beritanya provokatif, hanya mengutip ucapan itu saja. Padahal ada kelanjutannya. Presiden Jokowi ingin putra daerah bikin gerai yang bisa menyaingi Starbucks. Tapi bukan itu poinnya. Soal sebuah kota dianggap maju karena ada starbucknya itu lho yang bikin saya ngiri. Di daerah saya tinggal boro-boro ada Starbucks, yang ada cuma tukang Martabucks. Berarti daerah saya belon maju, dong …

Tujuh bulan berlalu. Belum juga ada tanda-tanda akan ada gerai Starbucks di dearah saya. Tapi soal maju mah warga daerah saya bisa bersaing dengan daerah lain. Cuma karena belum ada Starbucks, mengacu ucapan Presiden belum masuk hitungan daerah maju.

30 Juni 2017 saya membaca berita, Pengurus Pusat (PP) bidang ekonomi Muhammadiyah menyerukan boikot terhadap produk Starbucks. Boikot itu sebagai bentuk protes terhadap pernyataan CEO Starbucks, Howard Schultz yang dianggap mendukung pernikahan sejenis.

"Sudah saatnya pemerintah Indonesia mempertimbangkan untuk mencabut izin Starbucks di Indonesia karena ideologi bisnis dan pandangan hidup yang mereka dukung dan kembangkan jelas-jelas tidak sesuai dan sejalan dengan ideologi bangsa kita yaitu Pancasila," ujar Ketua Bidang Ekonomi PP Muhammadiyah, Anwar Abbas dalam keterangannya, Jumat (30/6/2017).

(https://news.detik.com/berita/d-3544742/bos-starbucks-dianggap-dukung-lgbt-muhammadiyah-serukan-boikot)

Seruan Muhammadiyah itu juga diamini oleh MUI, anggota DPR, dan para tokoh lainnya. Tentu saja yang nyinyir terhadap seruan itu juga cukup banyak, terutama para Galoners. Mau tahu kaya apa galoners? Jika nanti ada komentar nyinyir di status ini, kemungkinan besar anggota galoners.

Dalam hati saya bersyukur, biarin deh nggak dibilang daerah maju, biarin deh dibilang bukan generasi moderen, asal jangan ...amit-amit deh jangan sampai ada Starbucks di daerah saya.

Muhammadiyah memang dikenal dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Ini ormas Islam yang boleh dibilang berani dan tidak ragu menegakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jika ada kemunkaran, mereka kontan menyuarakan penolakan. Tak perduli walau Starbucks pernah dipuji sebagai lambang kemajuan sebuah kota oleh Presiden

Tapi usut punya usut, seruan boikot itu boleh dibilang terlambat. Pada tahun 2013, umat kristiani di negara asal Starbucks juga pernah menyerukan boikot gara-gara persoalan yang sama. Jauh sebelum Presiden Jokowi menganggap kehadiran Starbucks sebagai lambang kemajaun kota.

(http://www.gospelherald.com/article/society/48147/should-christians-boycott-starbucks-for-supporting-gay-marriage.htm)

Mending terlambat daripada diam. Lagian, kalaupun juragan Starbucks menolak LGBT, kehadiran Starbucks di daerah saya sama juga bohong. Lha kalau segelas kopi seharga lima puluh ribu, kan bisa buat beli sepuluh Martabucks. Kalau cuma soal ngopi, dengan uang lima puluh ribu, di daerah saya bisa sruput kopi sampai kelenger plus keselek Martabucks. Masih ada kembaliannya pula :)

(Balya Nur)