Balada dr Fiera, Pulang Malu Tak Pulang Rindu



[PORTAL-ISLAM.ID]  Waktu terus berjalan, Lebaran pun menjelang, memupuk rindu setiap insan yang memiliki hati dan rasa akan rumah tercinta.

Dan tak terasa hampir sebulan pula dokter Fiera Lovita meninggalkan Kota Solok, tempat di mana selama ini ia mengais rezeki sebagai pegawai negeri di sebuah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

Ibarat kidung, pulang malu tak pulang rindu, mungkin itulah suasana batin dokter wanita itu saat ini. Masalah yang dibuatnya telah mengunci kakinya untuk kembali ke Kota Solok, menyembunyikan muka di balik opini media.

Polemik dokter Fiera sempat membuat gaduh media massa, warga Kota Solok dan Provinsi Sumatera Barat terkait tulisan atau status kontroversinya perihal Habib Rizieq Shihab yang berujung gorengan isu persekusi.

Namun pernyataan beberapa kalangan di Kota Solok yang meminta agar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memeriksa kondisi psikologi atau kejiwaan dokter beranak dua ini menjadi pemicu untuk lebih mencermati kehidupan di seputar dokter umum yang dinas di RSUD Kota Solok tersebut.

Orang yang tinggal dan menetap di Kota Solok tentu tidak akan sulit mencari tahu alamat rumah ataupun informasi seputar kehidupan orang perorang, terlebih bila orang tersebut mendadak menjadi “SELEB” di media sosial ataupun di media massa. Pasalnya Kota Solok cuma dua kecamatan, untuk mengelilingi kota cukup menghabiskan waktu 15-20 menit.

Dokter Fiera berdomisili di sebuah kompleks perumahan di daerah perbatasan antara Kota Solok dan Kabupaten Solok, dan jarak dari rumahnya ke tempat kerja di RSUD Solok hanya membutuhkan waktu kurang dari 3 menit. Ya, sangat dekat, terlebih volume kendaraan di jalan di jalur rumahnya ke RSUD tidak begitu padat.

Warga di lingkungan kompleks sekitar rumah tinggalnya ternyata sudah mengetahui betul karakter dokter Fiera yang akrab disapa Lola ini.

Seandainya Lola alias Fiera ini seorang murid, maka rapor terkait sikap dan pergaulannya dengan tetangga akan mendapat angka merah alias di bawah rata-rata.

Sedangkan di lingkungan kerja di RSUD, dokter Fiera sudah beberapa kali dipindahtugaskan, karena sikapnya yang tidak friendly dan temperamental. Kerap gaduh atau ribut dengan keluarga pasien dan perawat di rumah sakit, hingga akhirnya ia ditempatkan di bagian cuci darah (Hemodialisa). Mungkin tempat tersebut cocok baginya karena tidak berhubungan langsung dengan banyak pasien, keluarga pasien, ataupun perawat dan rekan sejawat sehingga tidak ada keributan yang timbul seperti ketika dia masih menjadi dokter jaga.

Yang menarik, dalam rumah tangganya dokter Fiera ini telah 2 kali bersuami, dengan suami pertamanya ia bercerai dan dengan suaminya sekarang ia tengah pisah ranjang.

Di Kota Solok, realita kehidupan sikap dan watak dokter tersebut sudah diketahui banyak orang sehingga wajar bila kemudian beberapa kalangan meminta IDI sebagai lembaga yang menanungi para dokter untuk turun tangan memeriksa kejiwaan dokter tersebut.

Saat ini, massa cutinya sudah habis dan dikabarkan ia meminta perpanjangan masa cuti hingga 3 bulan ke depan. Walikota Solok Zul Elfian telah menyatakan akan memberi jaminan keamanan, dan Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Barat Nasrul Abit sudah meminta dokter Fiera untuk kembali ke Solok dan jika ingin pindah dinas dari Kota Solok akan dibantu, namun yang bersangkutan tidak muncul. Bahkan ketika Wagub menelepon ia tidak mau mengangkat bahkan me-reject telepon dari Wagub.

Sebenarnya tidak ada sesuatu yang tidak selesai dengan dama. Orang Minangkabau punya adat istiadat, warga Kota Solok memang berang dengan ulahnya, tidak banyak yang diminta warga, warga hanya meminta dia minta maaf secara terbuka guna mengembalikan citra Kota Solok di mata nasional.

Karena apa yang dijualnya di media massa soal persekusi tidak sesuai dengan realita, bahkan akibat ulahnya itu Kapolres Kota Solok AKBP Susmelawati Rosya menjadi tumbal hingga dicopot dari jabatanya oleh Kapolri.

Menjelang Idul Fitri, ketika semua umat muslim berbenah diri untuk kembali suci menyambut kembali fitrahnya, dokter Fiera tentu juga merindukan hangatnya silaturahim.

Akankah ia meneruskan baladanya sebagai korban persekusi, atau memilih memperbaiki laku dan mensucikan diri dengan tobat agar pantas kembali ke fitrah sebagai muslimah minang yang cinta damai?

Sumber: Swamedium
Editor: Portal Islam [*]