Antara Afi dan Anggito Abimanyu, Mengapa Harus Berbeda Sikap?


[Pro-Kontra kasus "Plagiarisme" Afi menyedot perhatian publik. Berikut salah satu tulisan di Kompasiana membandingkan kasus Afi dan Anggito Abimanyu]

"Antara Afi dan Anggito Abimanyu, Mengapa Harus Berbeda Sikap?"

Oleh: Ken Hirai*

Dalam hiruk pikuk kehebohan Afi yang “mendadak artis” karena artikelnya di facebook menjadi viral, saya harus memberikan apresiasi pada Kompasiana yang sejak berdiri hingga detik ini tetap konsisten melawan plagiarisme. Sebagai rumah sehat para penulis lepas, Kompasiana memang tidak mentolerir tindakan plagiat. Banyak akun-akun tukang copas yang sudah dibekukan oleh Admin Kompasiana.

Kompasiana juga menjadi pelopor dalam gerakan melawan plagiarisme. Tentu kita masih ingat bagaimana akun Penulis UGM membongkar aksi plagiat Anggito Abimanyu. Padahal saat itu, tidak ada seorang pun yang meragukan kualitas dan integritas seorang Anggito Abimanyu. Deretan jabatan mentereng di pemerintahan plus statusnya sebagai dosen favorit di fakultas Ekonomi UGM membuat banyak orang tidak percaya Anggito telah melakukan tindakan plagiat, sebuah perbuatan yang identik dengan tindakan korupsi.

Tapi plagiat tetaplah plagiat. Bukti artikel Anggito di Kompas sama persis dengan artikel Hotbonar Sinaga yang juga dimuat di Kompas jauh sebelumnya. Anggito hanya sedikit mengganti judulnya saja dari “Menggagas Asuransi Bencana” karya Hotbonar Sinaga menjadi “Gagasan Asuransi Bencana”. Celakanya, keduanya di muat di Kompas.

Publik pun heboh. Dan akhirnya Anggito harus melepas seluruh jabatannya baik di pemerintahan maupun di UGM. Banyak yang sedih, bagaimana pun Anggito adalah aset bangsa yang secara intelektual sangat mumpuni. Tapi sekali lagi, plagiat tetaplah plagiat. Dan Indonesia menganut rezim zero toleransi terhadap tindakan plagiat, tidak ada tempat terhormat bagi para plagiator. Banyak para plagiator yang telah “divonis hukum seumur hidup” oleh publik.

Sebelum Anggito yang ‘dipaksa” lengser dari seluruh jabatan prestisiusnya, Professor Anak Agung Banyu Perwita pun harus rela melepaskan jabatan bergengsinya di UNPAR karena terbukti melakukan plagiat. Profesor Anak Agung Banyu Perwita adalah dosen berprestasi yang merupakan salah satu ikon Jurusan Hubungan Internasional UNPAR. Dosen favorit para mahasiswa yang juga pernah menjadi kebanggaan UNPAR dan pernah menjabat berbagai jabatan prestisius di UNPAR tersebut terbukti melakukan tindakan plagiat. Tulisan opininya yang dimuat di koran berbahasa Inggris The Jakarta Post dengan judul "RI as A New Middle Power" ternyata merupakan plagiat dari tulisan Carl Ungerer, penulis asal Australia yang berjudul "The Middle Power, Concept in Australia Foreign Policy". Akibat melakukan kejahatan intelektual tersebut Profesor Anak Agung Banyu Perwita pun harus kehilangan jabatan prestisiusnya di UNPAR. Padahal saat itu karir Profesor Anak Agung Banyu Perwita sedang mocer-moncernya. Tapi sekali lagi, plagiat tetaplah plagiat yang merupakan kejahatan intelektual.

Selain Anggito Abimanyu dan Professor Anak Agung Banyu Perwita masih banyak kisah tragis orang-orang “HEBAT” yang harus kehilangan jabatannya karena melakukan plagiat. Dr. Mochammad Zuliansyah harus kehilangan gelar Doktornya karena terbukti melakukan plagiat. Beberapa professor di perguruan tinggi ternama harus kehilangan seluruh gelarnya dan diturunkan pangkatnya karena terbukti melakukan tindakan plagiat.

Tentu menjadi aneh dan tidak masuk akal jika kita memilih sikap berbeda terhadap para plagiator hanya karena Sang Plagiator tersebut seide dan sekubu dengan kita. Seharusnya kita belajar pada mahasiswa UGM dan seluruh civitas akademika-nya yang rela melepas Anggito Abimanyu menjalani hukumannya. Awalnya mereka kecewa, tapi plagiat tetaplah plagiat. Tidak ada tempat terhormat bagi para plagiator.

Jika kita begitu tegas terhadap tindakan plagiat Anggito Abimanyu lantas mengapa kita begitu mentolerir terhadap dugaan tindakan plagiat yang dilakukan oleh Afi, Cosmo, Dewi, Linda dan lain-lain. Saya katakan dugaan karena memang belum ada klarifikasi dari Afi, Cosmo, Dewi, Linda dan Mita Handayani. Meskipun jejak-jejak tulisan digital berjudul “Agama Kasih” sudah menjadi prasasti di dunia maya.

Jika Cosmo, Dewi dan Linda tetap menggunakan judul asli “Agama Kasih” dan melakukan copas 100% dari artikel aslinya, maka Afi merubah judul tulisannya menjadi “Belas Kasih Dalam Agama Kita”. Artikel sejenis juga ditulis oleh Willy Liu dengan judul yang sama “Agama Kasih”. Bedanya jika Willy Liu diakhir tulisannya mencantumkan kalimat “Oleh Mita”, maka Afi justru mencantumkan @copyright yang merupakan klaim tulisan tersebut milik Afi. Padahal tulisan yang diposting oleh Afi tertanggal 24 Mei 2017 tersebut sudah banyak beredar sejak 30 Juni 2016.

Kini berkat tulisan yang diduga plagiat tersebut telah menjadikan Afi menjadi bintang yang sinarnya mampu menembus istana presiden dan media mainstream. Sungguh tragis, disatu sisi kita telah menghukum Anggito dkk dengan “hukuman seumur hidup” yang sangat keras, sementara terhadap Afi kita begitu sangat toleran. Jujur saja, saya pun masih berharap Afi bukan seorang plagiator. Meskipun bukti-bukti di facebook sulit terbantahkan. Tanggal posting difacebook memang bisa disetting sesuai keinginan, tapi komentarnya tidak bisa disetting. Semoga ada klarifikasi dari Afi.

Di Kompasiana banyak penulis-penulis muda yang sangat hebat dan berbakat tanpa harus melakukan plagiat. Ada nama Dewa Gilang, Amri Mahardhika dan Anindya Gupita Kumalasari. Afi bisa belajar dari keduanya.


*Sumber: http://www.kompasiana.com/kenhirai/antara-afi-dan-anggito-abimanyu-mengapa-harus-berbeda-sikap_592f4c2a50f9fd0808a9b7f1