[Tragedi Meriam Buatan Cina] Ahli Aeronautika Indonesia: Mengapa Bukan PINDAD, Kok Impor Dari China


Tulisan Tommy Firmansyah (ahli aeronautika alumni Bristol University) tentang tragedi meledaknya meriam buatan Cina saat latihan militer TNI-AD kemarin yang menewaskan 4 prajurit TNI:

Pagi ini saya dikejutkan oleh berita duka yang menimpa prajurit-prajurit kita di Angkatan Darat. Saya pernah bekerja sama dengan bapak-bapak dari TNI AD untuk beberapa proyek penelitian strategis. Keberhasilan TNI AD adalah kebanggaan dan kebahagiaan juga untuk saya. Sebaliknya kesedihan yang menimpa mereka adalah kesedihan yang ikut saya rasakan.

Peristiwa ledakan meriam buatan Cina yang terjadi kemarin ketika latihan beberapa anggota TNI AD sungguh menimbulkan beberapa pertanyaan besar. Dari beberapa berita di media massa nasional yang saya baca, tidak menyebutkan secara spesifik jenis dan tipe meriam yang dipakai dalam latihan tersebut. Tapi yang jelas sudah terjadi adalah meriam yang disebut bernama “Chang Chong” buatan China tersebut mengalami malfungsi. Ketika anggota TNI AD kita menembakkan meriam tersebut alat penopang yang harusnya menjaga arah moncong ke atas tidak dapat bekerja (malfunction). Sehingga moncong akhirnya mengarah ke bawah tepat ke arah prajurit kita berada. Terbayang betapa mengerikannya ketika detik-detik tragedi itu terjadi. Empat prajurit kita wafat dalam tragedi ini sementara delapan lainnya luka-luka.

Saya sudah berusaha mencari-cari informasi seputar “Chang Chong” buatan Cina yang dipakai untuk keperluan menembak drone tersebut. Namun sayangnya usaha itu sia-sia karena tidak ada informasi sedikitpun yang bisa saya dapatkan di mesin pencari Google. Ingin sekali mengetahui bagaimana sistem dan teknologi yang dipakai meriam ini sehingga bisa mengalami kecelakaan malfungsi.

Betapapun minimnya informasi namun kita tetap amat berharap kepada tim internal TNI AD untuk menginvestigasi secara tuntas penyebab utama terjadinya tragedi tersebut.

Jika peralatan tersebut betul-betul malfungsi karena kesalahan manufaktur tentu bisa menuntut balik ke pabrik pembuat meriam di Cina tersebut. Keluarga korban harus mendapat kompensasi yang sebaik-baiknya atas musibah yang menimpa mereka.

Satu pertanyaan besar dalam benak saya adalah mengapa meriam penembak drone ini harus kita impor jauh-jauh dari Cina? Tenaga ahli dan terdidik Indonesia sudah dapat membuat Pesawat yang memerlukan teknologi rekayasa yang sangat tinggi. IPTN atau PT DI sudah menghasilkan pesawat komuter yang dipakai di dalam negri maupun luar negri sehingga sudah diakui teknologinya.

PINDAD pun sudah dapat membuat amunisi, senjata maupun peralatan tempur seperti panser dan tank. Ketika menjadi peneliti di Surya University saya ikut terlibat dalam proyek optimasi performa Senjata SS2 dan panser Anoa buatan PINDAD. Performa yang saya maksud adalah performa dalam aspek termal dan aerodinamika menggunakan tool simulasi rekayasi yang sangat detail.

Dalam bayangan saya meriam penembak drone ini kompleksitasnya ada pada kontrol mekanika (guided control) dengan presisi tinggi seperti yang diharapkan. Selebihnya semua teknologi yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa.

Teknologi itu sendiri ada hirarkinya. Tapi di dunia rekayasa desain dan teknologi, ada frasa jika anda sudah menguasai teknologi dirgantara (Aerospace) maka anda akan menguasai teknologi lain dengan mudah. Karena teknologi rekayasa dirgantara (penerbangan) mencakup semua aspek disiplin teknologi mulai dari struktur (static dan dinamik), kontrol (mekanika), avionics (elektronik), aerodinamika (lentur struktur), ergonomik (kenyamanan tempat duduk). Semuanya lengkap ada disitu.

Indonesia sudah mampu menguasai ilmu bahkan menjadi pembuat/industri pesawat terbang. Maka kita juga pasti mampu menjadi perekayasa teknologi dan industri apapun. Termasuk industri peralatan militer.

Pak Habibie seringkali mengingatkan kita agar jangan terus menerus membeli jam kerja bangsa lain.
Tinggal bagaimana pihak penentu arah kebijakan kita saat ini bersikap. Apakah kita rela terus menerus menjadi bangsa pengimpor sementara semua negri-negri maju di dunia memiliki fondasi tekno-ekonomi (ekonomi berbasis teknologi) yang mapan.

Harapan dan mimpi kemandirian teknologi harus terus kita pelihara, tentunya kita tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar dan konsumen teknologi bangsa lain.

Kita bisa menjadi produsen dengan keberadaan PT DI, PINDAD dll, yang walaupun tertatih tatih tanpa dukungan yang cukup tapi sebenarnya bisa menjadi kunci kekuatan dan ketahanan yang luar biasa bagi bangsa kita.

(Tommy Firmansyah)

*Sumber: fb penulis