PROBLEMATIKA Pengusung KHILAFAH


Oleh: Ust. Arda Chandra

Bagi sebagian kaum Muslim, demokrasi adalah produk buatan thogut, hasil karya orang kafir yang tidak layak untuk diikuti, alasannya kelihatan memang masuk akal juga, Pemilihan pemimpin berdasarkan suara mayoritas masyarakat, 1 orang 1 suara, maka seorang bromocorah sama nilainya dengan suara seorang ulama, 1 suara idiot tidak ada bedanya dengan suara filsuf. Apalagi dalam masyarakat sering berjangkit penyakit histeria massa dan bisa diarahkan melalui pencitraan tokoh. Ada pepatah yang mengatakan 'anda bisa membohongi satu orang seumur hidupnya, anda bisa membohongi semua orang dalam suatu masa yang pendek, namun anda tidak akan mampu membohongi semua orang selamanya'. Karena memilih pemimpin biasanya dilakukan pada saat tertentu saja, rumus ini bisa dipakai, bohongi rakyat ketika masa pemilihan umum, setelah itu menyesal karena ternyata pencitraan, itu urusan lain.

Kita bisa bertanya kepada mereka yang menolak sistem demokrasi: "Lalu dengan cara bagaimana kita akan mendirikan khilafah Islam..?"

Situasi yang paling musykil adalah ketika pengusung khilafah berada dalam titik awal perjuangan di negara demokrasi. Sebagai konsekuensi penolakan terhadap sistem tersebut, maka mereka tidak mau ikut pemilu/pilkada. yang terjadi adalah pemimpin justru dipilih oleh orang-orang yang berseberangan. Katakanlah pihak yang anti demokrasi berhasil mempengaruhi 50% suara rakyat untuk tidak ikut pemilu, maka sistem tetap jalan dengan 50% suara yang lain, lalu yang tidak ikut tetap saja harus mematuhi hasilnya.

Cara yang lain adalah melalui revolusi, baik menggunakan senjata ataupun tidak. Pemerintah yang sah digulingkan secara tiba-tiba dan semua sistem diganti. Ini juga menimbulkan pertanyaan karena biasanya gerakan revolusioner muncul pada kekuasaan yang otoriter, sedangkan demokrasi membuka saluran untuk menyampaikan aspirasi, ada hak rakyat yang dilindungi, maka dalam sistem ini pasti muncul keberagaman. Usaha revolusi dalam sistem demokrasi malah akan dianggap sebagai pemaksaan kehendak sekelompok orang. Buat apa mau merebut kekuasaan dengan cara yang tidak sesuai aturan, kalau keinginan tersebut diakomodasi oleh undang-undang..? Anda berminat untuk berkuasa..? tidak ada larangan, silahkan berjuang lewat pemilihan umum.

Belum lagi kalau ditanyakan: "Bentuk pemerintahan yang bagaimana yang sesuai khilafah..?", apakah pemimpin diwariskan turun-temurun seperti jaman khalifah Islam dulu..? Siapa kira-kira yang bisa ditunjuk sebagai pemimpin yang akan mengendalikan umat Islam secara turun-temurun kelak..? Anda mau menunjuk seseorang,belum tentu umat Islam yang lain akan setuju, dan akhirnya harus memilih berdasarkan suara terbanyak juga, balik lagi ke demokrasi..

Ada yang punya pikiran bahwa khilafah dipilih oleh para ulama, orang saleh, pemuka agama. Masalahnya adalah : status ulama bukan seperti gelar profesor diperguruan tinggi yang ada lembaga akreditasinya, berwewenang untuk menentukan seseorang layak penyandang gelar doktor, profesor, dll. Sedangkan ulama, kiyai, buya dipilih oleh umat Islam yang mengakuinya. Penyebab seseorang disebut ulama bisa bermacam-macam, bisa karena memang berilmu, bisa juga karena keturunan,bisa karena penampilan atau gaya bicara. Sebelumnya orangtuanya punya pesantren, lalu setelah meninggal pengelolaannya diserahkan kepada anaknya, tidak peduli si anak memang pantas mengurus pesantren atau tidak, maka otomatis para santri akan memanggil dia ulama, kiyai, dll.

Belum lagi ulama yang satu tidak mesti diakui sebagai ulama oleh yang lain. bagi orang NU misalnya, Said Aqil Siradj jelas ulama yang dihormati, namun bagi sebagian lainnya beliau tidak pantas dikategorikan ulama. Bagi sebagian orang Abu Janda al-Boliwudi mungkin diakui sebagai kiyai, karena tulisannya banyak dijadikan rujukan, bagi yang lain dia tidak lebih hanya pelawak. Sekarang anda diakui ulama..? besok lusa belum tentu, ketika anda menyampaikan fatwa yang nyeleneh maka sebagian umat akan mencaci-maki anda sebagai orang sesat. Jadi kalau khilafah dipilih oleh 'dewan ulama', bagaimana cara menentukan ulama mana layak untuk duduk di lembaga tersebut..? Ujung-ujungnya mereka harus dipilih juga, balik lagi ke sistem demokrasi..

Ada lagi satu organisasi yang mengklaim kelompoknya sebagai penerus kekhalifahan yang sah, lalu memilih pemimpin dari lingkungan anggota sendiri, dipilih oleh mereka sendiri, dan meminta agar seluruh umat Islam menerima hasil pilihan mereka tersebut. Ketika si pemimpin meninggal dunia, maka para tokoh organisasi kembali berembuk untuk mengangkat penggantinya, tidak melibatkan ulama lain seperti dari MUI, NU, Muhammadiyah, dll, lalu menyatakan inilah khalifah yang harus dipatuhi oleh seluruh umat Islam.

Berbicara soal khilafah memang merupakan urusan ruwet dan setahu saya sampai sekarang tidak ada satupun konsep yang diajukan yang bisa diterima oleh seluruh umat.

Tapi melalui status ini ijinkanlah saya menyampaikan suatu rahasia soal khilafah ini: Adanya seorang pemimpin umat Islam tergantung dari ketundukan hati kaum Muslim untuk berada dibawah kepemimpinannya, secara ikhlas dan sukarela mau dikomandoi dan dipatuhi perintahnya. Satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk menundukkan hati umat Islam hanyalah Allah, karena tidak ada seorang manusiapun, suatu organisasipun, kekuasaan sebesar apapun yang mampu untuk membolak-balikan hati manusia. Dan Allah hanya akan merealisasikan hati yang bersatu tersebut bagi hamba-Nya yang memang dinilai sudah pantas untuk menerimanya. Maka pertanyaan pokoknya adalah: "Apakah umat Islam saat ini memang sudah patut untuk menerima anugerah Allah tersebut..?". Bagaimana bisa kita mengatakan sudah pantas kalau kenyataannya kaum laki-laki yang tertidur dirumah diwaktu shubuh lebih banyak dibandingkan yang pergi shalat berjamaah ke masjid misalnya..?

Mimpi soal khilafah..? sebaiknya umat Islam introspeksi diri dulu..


Baca juga :