Membandingkan Jawara Habib Rizieq dengan Pengecut Ahok, jauuuh, Bro!


Ada banyak orang yang otaknya konslet. Pikun, pura-pura atau males buka Gugel, yang namanya Habib Rizieq Syihab itu tidak pernah takut penjara. HRS sudah dua kali masuk penjara. Dan itu biasa saja bagi beliau. Berapa lama pun HRS di penjara, penjara dijadikannya sebagai medan dakwah. Bahkan Habib menikmati penjara, dengan segala hal yang ada di dalamnya. Karena di dalam penjara beliau bisa memberikan penyadaran pada banyak bekas pelaku kejahatan, yang itu tidak akan ditemui di luar penjara.

Tidak seperti Ahok, baru satu malam saja di LP Cipinang, sudah minta pindah ke Rutan Mako Brimob, dengan segala fasilitas yang menyertainya. Jangan percaya dengan penjelasan Kalapas dan para pejabat, yang menerangkan bahwa dipindahnya Ahok karena ulah para pendemo yang beraksi hingga malam. Ulah orang-orang kalap ini dianggap mengganggu kenyamanan Napi yang lain. Atau mengancam keamanan Lapas.

Lah! Kalau masalahnya kemanan dan ketertiban, kenapa bukan mereka saja yang diusir. Toh jumlah mereka tak banyak, kalau dibandingkan Aksi Bela Islam, berjumlah jutaan, tapi Polisi berjibaku harus membubarkan mereka. Padahal Aksi Bela Islam tidak membuat keributan seperti mereka, yang bakar-bakar dan berantem sesama mereka rebutan nasi bungkus. Kasihan!

Coba tengok saja, di Mako Brimob Ahok ditempatkan dimana? Ngapain aja? Mendapatkan fasilitas apa saja? Bisa bebas bertemu siapa saja?

Jadi membandingkan Jawara Habib Rizieq dengan Pengecut Ahok, jauuuh, Bro! Jangankan penjara, kematian tidak pernah HRS takuti. Dari awal perjuangan melawan rezim ini dengan segenap mafia yang mengitarinya, HRS sudah tahu pasti bahwa nyawa beliau adalah taruhannya. Namun beliau bergeming, demi untuk tegaknya NKRI dengan kebenaran yang terus digenggam tanpa dipecundangi oleh Ahok, yang telah mencabik Pancasila dengan umpatan-umpatan rasisnya.

Habis Rizieq Syihab tidak pernah lari dari masalah. HRS tidak pernah gentar menghadapi semua kriminalisasi yang dihadapinya sejak Ahok ditetapkan jadi tersangka. Bahkan semua penyelidikan dan penyidikan dijadikan sebagai ruang-ruang kuliah untuk mengkuliahi para polisi yang rata-rata sebenarnya tidak tahu banyak perihal Pancasila dan apa itu Bhineka Tunggal Ika. Nanti kalau berkasnya memang dilimpahkan ke Kejaksaan, hal yang sama pun akan dilakukan HRS kepada para Jaksa.

Habib Rizieq Syihab memang saat ini sedang berada di luar negeri. Beliau meninggalkan Indonesia untuk umroh. Kemudian beliau lanjut ke Malaysia untuk ngurus desertasi beliau, yang sempat terbengkalai karena berbagai urusan perjuangan menjaga Indonesia dari akuisisi Aseng.

Ahoker pasti tidak percaya dengan penjelasan di atas, walau begitulah kenyataannya. Tapi baiklah, coba saya jelaskan menurut pandangan saya sekedar untuk mendorong logika, yang tidak bisa begitu saja mempercayai kenyataan. Jadi begini,

1. HRS tidak ada di Jakarta menjelang Aksi 505, ini sebagai pembuktian bahwa tanpa HRS pun aksi akan tetap jalan. Karena ummat Islam beraksi memang bukan semata karena HRS. Tapi kami tidak rela kalau penista agama seperti Ahok terus bebas berkeliaran.

2. HRS tidak di Jakarta pada saat vonis Ahok diputuskan. Sebab kalau Ahok sampai divonis bebas, ummat Islam akan berduyun-duyun menemui beliau meminta komando 'perang' segera ditabuh! Jadi ketiadaan HRS adalah untuk memberikan kebebasan kepada hakim memutus secara independen tanpa dibayangi kekhawatiran tekanan massa yang HRS menjadi simpulnya.

3. HRS tidak di Jakarta pada saat dan setelah vonis Ahok dibacakan, untuk memberikan kesempatan kepada Polisi, Jaksa dan Lembaga Pemasyarakatan bekerja secara profesional mengekskusi putusan hakim yang telah menghukum Ahok dua tahun penjara. Tanpa dibayangi oleh desakan barter-barteran dengan penahanan Habib Rizieq.

Demikian menurut saya. Anda tidak harus sepakat dengan saya.

by Ust. Abrar Rifai
(Pengasuh Pondok Pesantren Babul Khairat Lawang Malang)