LOGIKA HUKUM & LOGIKA AGAMA Kasus FH dan PKS


Oleh @hasmi_bakhtiar
(Kader PKS, Alumni Al-Azhar, S2 Hubungan Internasional Lille Prancis)

1. Ada yang menyikapi beberapa twit gw hari ini dengan argument: FH salah karena menyelisihi (keputusan) beberapa Qiyadah.


2. Mungkin ini pemahaman beberapa kader perlu gw lurusin sedikit.

3. Terlepas dari fakta di persidangan yang sudah terang benderang memperlihatkan siapa yang pantas dibela oleh kader2 PKS dalam konflik ini... (Pengadilan Memenangkan Gugatan FH)

Fahri Hamzah Menang Lawan PKS di PN Jaksel, Pemecatannya Tidak Sah
https://news.detik.com/berita/d-3371102/fahri-hamzah-menang-lawan-pks-di-pn-jaksel-pemecatannya-tidak-sah

4. Karena yang berasumsi spt tadi adalah kader yang gw rasa pemahaman agamanya cukup bagus, jadi gw coba lurusin memakai logika agama.

5. Pertama, dalam politik Islam kita belajar bahwa Islam tidak mengenal Negara Agama, tetapi kita mengenal Negara Madani.

6. Di balik prinsip yang kita pelajari tsb ada tujuan bahwa pemegang kekuasaan hanyalah manusia biasa yang kebetulan diberi jabatan.

7. Oleh sebab itu dalam politik Islam kita tidak mengenal "pemimpin selalu menang" atau "pemimpin selalu benar".

8. Islam menolak negara agama apalagi dalam berkelompok, tujuannya menghindari penyelewengan pemimpin yang mengatasnamakan agama atau wahyu.

9. Bahkan sejak kekuasaan Islam dipegang Nabi Muhamamd yang kemudian diteruskan oleh para Sahabat kita mengenal budaya "kritik dan masukan".

10. Dalam bernegara atau berkelompok tidak ada satu pun yang berhak mewakili Tuhan, tetapi bersama berjalan di atas jalan Tuhan.

11. Dalam berkelompok sah2 saja berbeda pandangan dengan pemimpin dan yang berbeda tidak berarti langsung salah.

12. Dalam bernegara, benar atau salah itu hak pengadilan. Tidak dibenarkan pemimpin apalagi hanya pemimpin partai lebih tinggi dari pengadilan.

13. Kita dari kecil mendengar kisah Ali yang baju besinya dicuri seorang Yahudi, ketika itu Ali sang Khalifah yakin baju tsb miliknya.

14. Akhir cerita, pengadilan memenangkan si Yahudi, padahal Ali Amirul Mukminin tapi tetap taat terhadap hukum dan membuang logikanya.

15. Kedua, dalam politik Islam kita belajar bagaimana Khalid bin Walid atau Amr bin Ash sejak masuk Islam selalu menjadi panglima di medan jihad

16. Karena Islam melihat "maharah" atau kecakapan adalah syarat penting dalam sebuah jabatan.

17. Saat ini oknum Qiyadah PKS tidak hanya kehilangan "maharah" tsb, tapi sudah sampai pada "khiyanah" atau berkhianat.

18. Masih dalam politik Islam, kita mengenal bahwa pengkhianatan terbesar adalah pengkhianatan terhadap konstitusi yang sudah disepakati bersama.

19. Jika ada Qiyadah PKS mengatakan: PKS punya logika sendiri dalam pemecatan FH. Itu masih masuk akal.

20. Tapi jika PKS punya logika sendiri di hadapan hukum itu keliru.

21. Sebut satu teori politik Islam yang membenarkan parpol menggunakan logika sendiri di depan hukum negara. Gw siap diskusi.

22. Doktrin PKS punya logika sendiri itu benar jika dalam mengelola parpol, tapi itu masuk bab "khiyanah" jika memakai doktrin tsb di depan hukum.

23. Dari dua point tadi saja kelakuan oknum Qiyadah PKS sudah bertentangan dengan logika Islam. Jadi logika yang dipakai logika siapa?

24. Kader PKS terkenal loyal, tapi jangan mau disesatkan dengan doktrin sesat yang itu entah berasal dari mana.

25. Jika kita bahas prinsip2 politik Islam lebih jauh maka kita akan menemukan banyak keanehan dalam sikap DPP PKS terhadap FH.

26. Gw ngetwit begini karena gw melihat PKS jauh lebih besar dari MSI atau FH.

27. PKS ga hanya dibesarkan oleh MSI dan pendukungnya walau jasa mereka banyak. Logika kacau begini hanya akan merusak partai ke depan.

28. Logika kacau yang dipaksakan DPP PKS mungkin terlihat keren oleh sebagian kader, tapi sejatinya adalah racun untuk generasi mendatang.

29. Itu yang gw pesan, jangan memaksakan logika sesat untuk kenikmatan sementara. Entah juga siapa yang menikmati.

30. Pesan gw, ayo segera bertaubat. Dakwah bahkan Islam besar karena perjuangan dengan akal dan keimanan, bukan taqlid buta yg dilapisi firman.

-Sekian-

(dari twit @hasmi_bakhtiar, 1/5/2017)