"GARUDA DI DADAKU", Belajar dari Framing Chaos Pasca Kemenangan TRUMP


"GARUDA DI DADAKU"

Ditulis oleh: Kanaya Tabitha
(Harvard student, social science)

Masih ingat bagaimana shock dan marahnya para pendukung Hillary Clinton karena kalah telak dari Trump?

America diisukan pada saat itu akan terjadi chaos.

Di kota-kota besar dimana pemilih terbesar Hillary terjadi demo besar-besaran yang dibiayai konglomerat-konglomerat lawannya partai Republik.

Amerika dibuat seolah-olah berduka karena KALAH dari Trump.

Media-media mainstream yang pemiliknya kebanyakan adalah pendukung Hillary sibuk memasarkan framing-framing untuk membuat suasana makin gaduh sampai menjelang inagurasi (pelantikan Trump).

Bahkan Artis dan pemusik kelas dunia banyak yang menolak untuk tampil di malam inagurasi Trump sebagai Presiden USA.

Dan akhirnya Penyanyi/grup band Country lah yang kebanyakan tampil pada malam gala itu. Pada saat itulah kita melihat bahwa Amerika memilih untuk kembali pada nilai nilai hakiki bermasyarakatnya "Awaking ness of America". (yang menurut analisa sosial)

Banyak pihak mencibir, tapi kita bisa lihat Rakyat Amerika mendukung kebijakan kebijakan Trump karena nilai nilai konservatif dan ke-kristenan yang dianut sebagian besar penduduk Amerika.

Tak habis framing yang dibuat media mainstream disana akan fobia islam, fobia immigrant dll. Namun kebanyakan rakyat Amerika merasa selama kepemimpinan Partai yang mendukung Obama, kemunduran ekonomi dan terutama kebijakan-kebijakannya bertentangan dengan "Jiwa Ke-Amerikaan" mereka.

Bahkan untuk bersuara sebagai pemilih Trump, takut di bully teman-temannya. Aneh kan ?!

Iya memang begitu, suara mayoritas disana tenggelam oleh hiruk pikuknya kampanye dan framing media.

Tapi sesungguhnya siapa yang memenangkan Trump?

Yaitu kelompok Gereja-gereja dan masyarakat konservatif yang militan memilih untuk Amerika to be Great again. Mereka diam tapi jumlah nya lebih banyak tentunya di banding pemilih Hillary yang sibuk di sosmed dan Media.

Saya bisa menulis disini, karena kebetulan ini adalah KAJIAN grup saya dari Harvard pada saat panas-panasnya musim Election (Pilpres) dan setelah terpilihnya Trump.

Drama bersambung terus menerus, dengan FRAME yang dibuat oleh team PR/Media bahwa "Hillary KALAH karena dia seorang PEREMPUAN".

Padahal (tolong digaris bawahi) bukan karena itu !!

Namun framing yang terus menerus membuat sebagian masyarakat Amerika percaya.

"Suara rakyat adalah Suara Tuhan" kalau anda percaya slogan ini; berarti anda tahu maksud saya.

Isue yang berkembang selalu ada.

Tapi kita tak perlu menjadi korban emosi-emosi yang sengaja dibuat untuk kita larut di dalamnya.

Indonesia jauh lebih baik,
menurutku Ahok ditahan bukan karena dia keturunan Cina dan Kristen. Dia ditahan karena "Ucapannya yang melukai aqidah saudara kita yg muslim" dan itu diucapkan di depan publik dan saat itu ia sedang berbicara sebagai pejabat publik (gubernur).

Ahok juga kalah dalam pemilihan Gubernur bukan karena dia pemimpin yang tidak baik, tapi karena suara rakyat yang terkumpul TIDAK CUKUP banyak untuk menjadikannya sebagai Gubernur terpilih.

Se-simple itu.

Melodrama ini sudah menghabiskan banyak uang rakyat. Untuk biaya berkali-kali sidang selama pengadilan sudah menghabiskan menurut informasi +_ 200 Milyar, itu uang rakyat; uang dari pajak kita; keringat kita.

Namun seperti akhirnya masyarakat konservatif Amerika memilih untuk diam, berdoa dan tidak terpancing "keruwetan yang di hyperbola-kan" maka keadaan pun membaik. Surut dan damai kembali.

Berbagai krisis yang sengaja diciptakan adalah supaya sebuah negeri akan berujung pada Conflict. Perang Saudara.

Siapa yang akan kalah dan menang?

Yang menang adalah yang memberi "SPONSOR" dan

Yang akan kalah adalah kita: yaitu rakyatnya, bangsa ini akan mengalami kemunduran luar biasa ... baik keamanan ataupun perekonomiannya.

Negeri kita ini target EMAS untuk setiap provokator kelas dunia.

Gak percaya?! terus aja ributin (apalagi  minta bantuan pihak LN -red) maka Badan-badan dunia dan konglomerat dunia akan ada dibelakangnya untuk TURUN mencaplok Indonesia, bila kita terus terus meributkan Framing SARA.

Sasaran Empuk. Pada saat itulah kedaulatan Indonesia akan dipertanyakan.

Dan korban korbannya adalah kamu, saya dan saudara-saudara kita semua..

Karena bukan "Ahok" yang akan berdiri untuk membela kita. Paham kan?

Bila saat ini Ahok diturunkan derajatnya sebagai Rakyat kembali; itu bukan hal yang buruk juga. Dengan dekat berdiri sejajar dengan kita; mungkin beliau bisa mengumpulkan daya dan upaya untuk berjuang kembali menjadi lebih bijak dan santun, bila nanti diberi amanah kembali. Apalagi bila beliau pejabat anti korupsi, suatu saat negeri ini bisa memanggilnya kembali. Betulkan?!

Saya sangat yakin Bahwa kita bisa bersatu kembali.

Seperti Amerika yang makin ca-em.

Jangan kita larut, ribut ribut dan kemudian berakhir perang saudara seperti di Bosnia.

Mari bersama kita jaga kesantunan, ramah tamah dan goyong royong an kita ....

Ini Garudaku... !

Mana Garuda di dadamu ?

(Kanaya Tabitha)

__
Sumber: fb