[ULAMA KOK DEMO?!] Eiiitsss.. Ternyata Gus Dur Pernah Pimpin Demo di Era SBY


[PORTAL-ISLAM]  Ulama asal Rembang KH Mustofa atau Gus Mus mengomentari banyaknya sebutan ustaz atau ulama yang mendadak melekat pada diri seorang.

Gelar ulama sesungguhnya mencerminkan perilaku yang baik dan saleh.

Gus Mus mengatakan, seseorang yang dipanggil ulama harus bisa menunjukkan kesalahen pribadinya. Ulama yang baik, yang punya ukuran nilai kepantasan.

"Ulama kok sobo (main) pendopo itu apa, apa mau ikut tender? Ulama kok mimpin demo. Ini aneh sekali," kritik Gus Mus, saat menjadi narasumber anti hoax di Semarang, Kamis 20 April 2017.
(regional.kompas.com/read/2017/04/21/06300401/gus.mus.sebut.ulama.yang.baik.menunjukkan.kesalehan.pribadi ).

Gus Mus memang benar. Banyak sekali Ustaz palsu berkeliaran di sekitar kita. Ada mahasiswa perguruan tinggi Kristen, beragama Kristen berpura-pura menjadi seorang Ustaz dan muncul di pentas-pentas kampanye pendukung Ahok.

Atau ada juga Ustaz yang menuding penuh kebencian terhadap sekelompok besar umat muslim yang berbaris tertib menuntut tegaknya keadilan bagi pengoyak ketertiban umum.

Ada pula ustaz-ustaz yang berkicau nyaris setiap menit di ruang media sosial dan mencibir umat Islam yang gigih mempertahankan jernihnya keyakinan akan agama.

Mereka-mereka inilah yang bisa disebut ustaz palsu.

Bagaimana dengan ulama pemimpin demo?

Sejarah Indonesia dan jejak digital mencatat Gus Dur pernah memimpin  longmarch menuju Istana Merdeka di era kepemimpinan mantan presiden SBY.

Berikut jejak digital perjuangan Gus Dur yang dicatat detik.com
(m.detik.com/news/berita/438336/pimpin-longmarch-ke-istana-gus-dur-pindah-ke-land-cruiser)

Gus Dur yang di awal perjalanan memimpin longmarch dari atas kursi rodanya, terpaksa pindah ke Land Cruiser warna hitam di tengah perjalanan.

Gus Dur memimpin aksi yang diikuti sekitar 500 orang dari
berbagai elemen masyarakat.

Massa bergerak dari Bundaran Hotel Indonesia sejak pukul 10.15 WIB, Jumat 9 September 2005.

--------

Hingga saat ini, tidak ada seorang pun yang berani menghakimi ulama besar Gus Dur, yang dengan gagah memimpin demo menuju istana kepresidenan.

Tidak... tulisan ini juga bukan pembanding antara Gus Dur dan barisan Ustaz dari Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI yang siang malam berpeluh mengawal umat, berada di barisan terdepan saat harus menembus barikade dan mungkin saja harus kehilangan nyawa bila diterjang peluru tajam.

Saat memimpin aksi, Gus Dur tentu tak perlu berpayah dan berpanas melakukan orasi yang membakar jiwa. Ini soal gaya bicara. Gus Dur punya cara 'orasi' tersendiri.

Merujuk kepada ucapan Gus Mus, apakah mereka yang memimpin demo sudah layak dipanggil Kyai, tentu sedikit sulit karena akan ada penilaian subjektif. Namun tentu boleh dicatat, dalam serangkaian Aksi Bela Islam, nyata dan jelas kiranya, para ustaz pengawal fatwa MUI dihormati oleh umat yang jumlah jutaan orang.

Jadi, tidak perlu ada paranoia. Sepanjang tuntutan aksinya jelas, terarah dan terukur membidik kepentingan umat akan penegakan hukum, ulama harus hadir untuk mengawal, menuntun dan menyejukkan.