Seandainya Mi'raj tak Didahului Isra'


Seandainya Mi'raj tak Didahului Isra'

Dalam Isra' Mi'raj terdapat 4 perjalanan ruang menggunakan Bouraq (kilat cahaya):
1- Pertama dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha
2- Kedua dari Masjidil Aqsha ke langit pertama di sebut alam nasut, alam manusia, alam mulk.
3- Setelah itu dari langit pertama ke langi ke tujuh, titik terakhir lapisan langit disebut alam malakut tempat kehidupannya para malaikat.
4- Lalu dilanjut lagi ke sidrat al-muntaha menembus batas terakhir langit yang disebut alam lahut atau alam ketuhanan.

Ini peristiwa yang sulit dinalar akal manusia dari dulu sampai sekarang. Ada manusia menembus empat alam tanpa perlengkapan apa-apa, tanpa baju ruang angkasa dsb, dalam semalam, pulang sehat wal afiat tak ada gigi rontok satu pun. Ini sudah di luar dimensi akal manusia, akal manusia mentok dan harus tahu diri.

Inilah yang disebut mukjizat, peristiwa nyata bukan fiktif yang membingungkan akal manusia.

Dari mana kita tahu itu nyata? Dari cara Allah memperlakukan akal kita. Allah tahu walau begitu kompleksnya otak kita, daya pikir akal sangat terbatas bila dibandingkan objek pikirnya yaitu semesta yang amat luas ini. Karenanya, selalu dalam memperkenalkan sesuatu yang tidak dipahami akal, Allah memulainya dengan sesuatu yang dimengerti akal, begitu uraian Syaikh Mutawalli as-Sya'rawi.

Manusia tak akan bisa paham Mi'raj karena begitu luar biasanya, maka didahuluilah dengan Isra' perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Walau perjalanan itu pun begitu ajaib hanya dalam beberapa menit, tapi bisa diverifikasi kebenarannya sebab mayoritas orang Arab pernah pergi ke Masjidil Aqsha dalam perjalanan niaga ke Syam. Ketika Nabi s.a.w mengaku telah isra' ke Masjidil Aqsha, kaum Quraisy memverifikasi kebenarannya. Beliau diminta menggambarkan Masjidil Aqsha sampai jumlah tiangnya. Nabi s.a.w menceritakannya dengan benar. Selain itu Nabi s.a.w pun melihat kafilah yang sedang pulang dari Masjidil Aqsha ke Makkah, dan ternyata itu pun benar. Walau pada akhirnya mereka tetap ingkar, setidaknya Nabi s.a.w telah membuktikan dirinya benar.

Maka ketika tidak mustahil Allah mengisra'kan Nabi s.a.w, tidak mustahil pula Allah memi'rajkan beliau s.a.w.

Berbeda dengan kaum kafir Quraisy, Abu Bakar r.a percaya tanpa verifikasi apa pun. Alasannya satu: tak sekalipun sejak dahulu Rasulullah s.a.w berbohong. Karakter yang kokoh akan selamanya seperti itu, termasuk saat beliau mengaku telah isra' dan mi'raj.

Demikianlah Allah s.w.t dalam mengajak akal berfikir. Manusia tak akan pernah tahu kehidupan kedua setelah mati, maka Allah s.w.t menciptakan kehidupan pertama yang bisa dilihat oleh mata mereka semua sebagai hujjah. Di mana kita yang sebelumnya termasuk benda cair seperti ingus bisa jadi manusia seperti ini, yang bisa bikin status dan baca tulisan saya.

Kehidupan pertama ini (dunia) adalah pengantar manusia memahami kehidupan kedua (akhirat), seperti isra' sebagai pengantar bagi akal memahami mi'raj.

Begitulah Allah mengajari akal manusia.

(Rudi Wahyudi)