PEMIMPIN YANG CINTA RAKYATNYA


Erich Fromm, seorang ahli psikososial, bilang, "Cinta adalah lambang keakraban antara dua manusia di mana masing-masing saling menjaga keutuhan bersama". Orang-orang yang memiliki cinta akan berusaha menjaga perasaan satu sama lain demi terjaganya keutuhan bersama.

Pemimpin yang cinta rakyatnya pastilah tidak akan mengintimidasi apalagi sampai memusuhi rakyatnya sendiri. Pemimpin yang memiliki cinta akan berusaha sepenuh daya untuk menjaga keutuhan rakyatnya, bukan sebaliknya, membelah dan memecah rakyatnya.

Pemimpin yang mempersatukan adalah dia yang punya cinta yang melembutkan jiwa. Sikap lemah lembut ini menjadi perekat hubungan-hubungan antar manusia, antar warga dan antar bangsa.

Allah SWT mengatakan, "Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (Qs. Ali Imran: 159)

Jadi bohong kalau kita ingan membangun tenun kebangsaan dan menjaga kebhinekaan dalam persatuan tapi kita sering bersikap kasar lagi keras pada sesama.. yang tidak sepakat dengan kita dibully, diteror & diintimidasi. Kalaupun yang demikian bisa menjaga persatuan, maka hal itu hanyalah persatuan semu, persatuan yang lahir karena ketakutan & keterpaksaan, bukan karena cinta & keinginan sadar untuk menjaga persatuan.

Orang yang keras & kasar bisa menjadi halus & lembut jika Allah memberinya rahmat. Dalam sejarah Islam, ada tokoh Umar bin Khattab yang diceritakan konon jangankan manusia, syetan saja lari terbirit-birit kalau berpapasan dengan Umar.

Tapi ketika Allah beri hidayah, Allah beri rahmat kepada Umar, sikap dan perilakunya pun berubah. Suatu hari ada seorang ibu-ibu yang protes pada kebijakan Umar yang membatasi mahar. Sebagai pemimpin tertinggi dia punya kuasa untuk memaki-maki ibu tersebut..Umar bisa bilang, "ibu pengkhianat..ibu pembangkang berani protes kebijakan khalifah..ibu pasti mau makar!!"

Tapi Umar yang dimasa jahiliyah terkenal keras & kasar, justru menunjukkan sikap yang halus & lembut saat mendapat hidayah. Dengan tenang Umar mendengarkan protes sang ibu yang tidak lain adalah rakyatnya sendiri yang dia cintai.

“Wahai Amirul mukminin, apakah yang wajib kita ikuti itu Kitab Allah ataukah ucapanmu?” protes wanita itu sambil mengutip ayat Al-Quran tentang mahar yang tidak dibatasi.

Umar tersadar lantas meralat.

“Wanita ini benar dan Umar salah,” ucapnya di depan banyak orang.

Suatu hari Umar mendapati ada rakyatnya yang miskin tak sanggup menyediakan makan untuk anak-anaknya sehingga terpaksa merebus batu untuk menghibur anak-anaknya. Umar lalu memanggul sendiri makanan (gandum) dan dia berikan langsung kepada rakyatnya tersebut, padahal dia sangat bisa melempar makanan dari punggung kuda. Umar melayani kebutuhan warga tanpa membuat warga terhina. Saat bawahannya hendak membantu mengangkat makanan untuk rakyatnya yang kelaparan tersebut, Umar menolak dan berkata, "Apa kau akan memikul bebanku di hari kiamat nanti?"

Semoga kita punya cinta yang melembutkan jiwa dan menyatukan sesama anak bangsa..

06.04.2017

(Mukhamad Najib)