MENYIKAPI KEMENANGAN


Menyikapi Kemenangan

Merunduk badan dan kepala yang mulia yang dihiasi surban hijau tua nan anggun itu, hingga ujung janggutnya hampir mengenai pelana. Di atas unta, ia SAW senandungkan berulang-ulang surat Al-Fath. “Inna fatahna laka fathan mubina…” Dibacanya dengan merdu dan penuh penghayatan. Disusurinya daratan tinggi Kida dengan diiringi suku Aslam, Ghiffar, Mazinah, Jahinah dan lainnya. Mereka menyongsong kemenangan, memasuki kota tercinta yang selama ini dirindukan: Makkah Al-Mukaromah.

Sepuluh ribu pasukan yang bersamanya tersenyum sumringah dengan dada bergemuruh. Kemenangan itu nyata di depan mata mereka. Sungguh pun begitu, ia SAW tak berlaku sebagaimana panglima perang angkuh yang baru saja mengalahkan musuh, dengan dada membusung, dahu terangkat, dan tawa keras penuh puas.

Di pangkal kemenangan, Rasulullah SAW hiasi dengan ketawadhuan. Ia sadari kejayaan di hari Fathu Makkah itu berasal dari Allah. Bahwa Ia Azza wa Jalla yang telah memenangkannya, sebagaimana redaksi ayat yang dibaca. “Andai orang-orang tak berkerumun di sekitarku, niscaya aku akan membacanya berulang-ulang,” begitu sabdanya.

Tentu kemenangan itu adalah salah satu episode dalam perjuangannya menyiarkan Islam. Di episode lain, kadang ia dapati tekanan yang hebat, kadang ia merebut kemenangan lain. Pahit dan manis silih berganti. Sementara kemenangan sejati adalah ketika dihimpun dalam keridhoan Allah SWT di akhirat. Di sana tak ada lagi peristiwa kekalahan.

Dan dalam satu episode itu, ia SAW telah mencontohkan bagaimana menyikapi kemenangan yang gemilang. Selain ketundukan di hadapan-Nya, kemenangan itu ia jadikan ajang rekonsiliasi dua pihak yang bertarung. Ia entaskan api permusuhan yang selama ini menyala antara dua pihak dengan cara memaafkan musuh-musuhnya.

Sa’ad bin Ubadah, ketika bertemu “walikota” Makkah Abu Sufyan di mulut lembah, ia berkata: “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari ini dibolehkan melakukan segala hal yang dilarang di Kakbah.” Perkataan ini dikoreksi oleh Rasulullah saw. “Bahkan hari ini adalah hari kasih sayang. Di hari ini, Allah mengagungkan Kakbah,” sabdanya.

Jadi bukan pelampiasan kekesalan yang selama ini memenuhi hati karena permusuhan. Tak ada ajang pembantaian dalam bentuk fisik atau pun verbal kepada musuh-musuhnya. Justru ia membuka pintu maaf, melakukan rekonsiliasi, mendamaikan, menjadikan dua pihak rukun kembali untuk bersama-sama membangun masa depan yang cerah untuk Mekkah.

Andai di kala itu sudah ada media sosial, tentu Rasulullah SAW tak kan memenuhi beranda media sosialnya dengan status-status bullying provokatif kepada pihak yang dikalahkan. Atau mengupload meme-meme mengejek dan menyindir pihak yang berhasil disingkirkan.

Sejatinya kemenangan tersebut bukanlah tujuan akhir. Itu hanya lah sebuah sarana. Allah SWT ingatkan, menyelingi untaian ayat kemenangan di surat Al Fath, tugas utama seorang Rasul:

"Sesungguhnya Kami mengutus engkau (Muhammad) sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Agar kamu semua beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, membesarkan-Nya, dan bertasbih kepada-Nya pagi dan petang." (QS Al Fath 8-9)

Jangan gembira berlebihan melupakan tujuan utama misi dakwah kepada umat manusia!

Dalam ayat lain, Allah swt mengajarkan umat Islam untuk menyambut kemenangan dalam tiga bentuk dzikir: tasbih, tahmid, dan istighfar. Sila rujuk kepada surat An-Nashr. Rasanya keterlaluan bila ada muslim yang tak hafal surat itu.

Bacaan tasbih, tahmid, dan istighfar itu bukanlah mantra penyambut kemenangan yang dirapalkan tanpa mengerti arti. Tapi bila kalimat-kalimat itu diresapi, akan mengkondisikan hati kita yang diliputi euforia, menjaga hati pada keadaan yang terkendali.

Tasbih yang dihayati harusnya menyingkirkan rasa takjub kepada diri sendiri atas kemenangan yang didapat. Semestinya ketakjuban itu hanya kepada Allah SWT yang Maha Suci nan Agung. Ia Yang Maha Sempurna yang mengatur peristiwa demi peristiwa sehingga kita meraih kemenangan.

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Anfal: 17)

Maka, Maha Suci Allah, sedang diri kita lemah dan diliputi dosa.

Tahmid terlantun sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah swt. Ia yang memberikan kelegaan luar biasa setelah letih penat perjuangan. Ia yang menghadirkan happy ending dalam sebuah episode pertarungan. Karena itu, panjatkan syukur dengan sepenuh hati kepada-Nya.

Dan istighfar diucapkan untuk memohon ampun atas segala bentuk ketidaksempurnaan amal kita. Agar Allah memaafkan khilaf atau hal yang melampaui batas ketika berjuang. Sehingga Allah SWT mengganjar kita dengan pahala yang utuh. Dan dalam istighfar itu kita terjaga dalam kerendah hatian di hadapan-Nya.

Bila belum seperti itu kita menyikapi kemenangan, segeralah bertaubat. Khawatir tak berkah kemenangan itu. Atau kita termasuk orang yang jumawa, kufur, dan menjadikan kondisi di atas angin sebagai jalan untuk perpecahan yang lebih besar.

(Zico Alviandri)