KALAH TELAK, Saksi Ahok Tolak Tandatangani Hasil KPUD, Netizen: HAHAHA.. PECUNDANG!


[PORTAL-ISLAM]  "Kekalahan itu sangat menyakitkan".

Hal ini tentu disadari semua pihak yang pernah bertarung secara gagah.

Rasa sakit ini pernah dinikmati para pendukung Prabowo dalam pemilihan presiden 2014 yang konon menurut mantan komisoner KPU pada era tersebi, Chusnul Mari'yah, perlu dipertanyakan kejujurannya.

Kala itu, para pendukung Jokowi bersorak sorai dan mengejek para pendukung Prabowo dengan berbagai cara.

Mulai dengan ejekan, sindiran, kicauan nyinyir, hingga pembuatan meme yang boleh dibilang agak kurang ajar.

Pertarunan panas antara kubu Jokowi dan non Jokowi (pendukung Prabowo + golput)  terus meruncing.

Seiring berjalannya waktu, ada ketidakpuasan dari para pendukung Jokowi yang membuat mereka akhirnya berbalik dan membuat kubu tersendiri. Sebuah poros nasionalis religius.

Menguatnya elemen umat Islam pasca kasus penodaan agama oleh Ahok, menjadi sebuah rebound yang mungkin tak pernah pernah terbayangkan oleh para pendukung Jokowi yang kini berbaris tertib mendukung Ahok dalam pilgub DKI 2017.

Dalam momen yang sama, keberadaan poros nasionalis religius ini diwakili oleh Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni, yang sayangnya harus tersingkir di putaran pertama pilkada DKI Jakarta.

Keberadaan poros ini, harus diakui, menjadi faktor yang akhirnya membuat kubu Ahok kocar-kacir. Mereka kehilangan fokus karena harus 'menyerang' 2 kubu sekaligus. Kubu Anies-Sandi dan kubu Agus-Sylvi.

Serangan yang brutal sepanjang kampanye putaran pertama dari pendukung Ahok-Djarot kepada AHY-Sylvi seperti kita ketahui, akhirnya berbuah pahit bagi Ahok. Dengan dukungan para loyalis Agus-Sylvi, Anies-Sandi akhirnya menang telak dan mempecundangi Ahok-Djarot.

Dalam penyelesaian tahapan rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017, KPU Daerah DKI Jakarta menetapkan pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno dipastikan mengungguli Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Basuki-Djarot mendapatkan 2.350.366 suara atau 42,04 persen. Pasangan Anies-Sandi mendapatkan 3.240.987 atau 57,96 persen. Total suara sah mencapai 5.591.353.

Lucunya, ketika kalah dari pasangan Anies-Sandi, kubu Ahok-Djarot ogah legowo. Mereka tak mau mengakui kekalahan jagoan mereka.

Hal ini bisa dilihat dari penolakan saksi pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat untuk menandatangani hasil pleno rekapitulasi  penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah 2017.

Anggota tim saksi, Candra Irawan, mengatakan penolakan tersebut lantaran banyak kesalahan yang dilakukan penyelenggaraan pilkada.

“Banyak catatan penyelenggaraan yang masih di luar ketentuan,” kata Candra setelah setelah rekapitulasi suara Pilkada DKI Jakarta di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu 29 April 2017.

Meski menolak, tim Ahok akhirnya menerima hasil penghitungan dengan sejumlah catatan.

Ketua KPU DKI Jakarta, Sumarno, menilai penolakan tandatangan keputusan rekapitulasi tak berpengaruh pada keabsahan rekapituasi.

“Ini tidak ditentukan oleh apakah saksi menandatangani atau tidak,” ujar Sumarno. KPU, ujar Sumarno, menghormati keputusan itu karena itu hak setiap saksi.

Menanggapi penolakan tim Ahok-Djarot untuk menandatangani hasil rekapitulasi, sejumlah netizen langsung bereaksi keras. Beberapa dari mereka, mengunggah twit lawas milik @sahal_AS yang pada tahun 2014 digunakan untuk menasihati pendukung Prabowo.