GEGER PENGAKUAN Boss Beras Cipinang, Aria Bima PDI P dan Djan Faridz PPP Diduga Terlibat


[PORTAL-ISLAM]  Kabar bahwa Pilkada DKI 2017 dinodai bagi-bagi bahan kebutuhan pokok semakin kuat.

Badan Pengawas Pemilu menemukan indikasi politik uang oleh tim pasangan inkumben Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat setelah menemukan bukti-bukti yang memperkuat kecurigaan tersebut.

Pengawas menerima laporan dari setidaknya tujuh tempat penyimpanan bahan pokok milik tim pasangan nomor urut dua yang hendak dibagikan ke pemilih sejak Ahad pekan lalu. Dua lokasi di Jakarta Selatan, dua di Jakarta Barat, dan masing-masing satu di Jakarta Utara, Jakarta Timur, serta Kepulauan Seribu.

"Akan kami klarifikasi lebih lanjut," ujar Mimah Susanti, ketua lembaga itu, Senin, 17 April 2017.

Temuan Panwaslu juga dikuatkan pernyataan Billy Haryanto, seorang pedagang besar beras dari Pasar Cipinang terkait penerimaan pesanan beras berton-ton dari politikus PDI Perjuangan.

Diduga ada juga pesanan berton-ton beras dari petinggi Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Billy merinci catatan pemesanan senilai Rp 500 juta lebih yang,  menurut Billy, belum dibayar oleh Bima Arya, seorang politisi PDI P.

Pemesan lain, kata Billy, adalah Djan Faridz yang juga pendukung Basuki-Djarot. Ia memesan 30 ton beras, yang dikirimkan ke Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ketika diwawancara oleh Tempo, Billy menelpon Bima Arya dan menyampaikan bahwa pesanan telah dikirim semua ke berbagai wilayah, terutama Jakarta Timur dan Selatan, yang pada putaran pertama dimenangi Anies-Sandi.

Dimintai konfirmasi secara terpisah, Aria Bima mengakui pernah meminta beras ke Billy. Tapi, kata dia, permintaannya tak dipenuhi pedagang beras asal Sragen, Jawa Tengah, itu.

Sementara Djan Faridz berkelit dan menuduh Billy memfitnahnya.

“Saya bukan padagang, tidak jualan beras. Pilkada? Saya juga bukan calon, elaknya.

Masifnya praktik bagi-bagi sembako dalam Pilkada DKI 2017 ini, menurut mantan pemimpin KPK Bambang Widjojanto, mencederai demokrasi.

"Politik uang dan bagi-bagi sembako ini terjadi sangat masif, sistematik dan terstruktur di seantero Jakarta. Politik uang dan bagi-bagi sembako itu bagian dari sikap perilaku koruptif. Pasti setelah itu korupsi, kolusi, kolusif dan nepotistik," ujar Bambang.