Banyak yang Tanya, Kenapa NU Banyak 'Wong Aneh-Aneh'


Oleh: Hartono Ahmad Jaiz
(Peneliti dan Penulis Buku)

Ini jawaban yang mudah dicerna, kurang lebihnya begini.

NU itu entah kenapa, dulunya dikesankan ndesani, kampungan, kaum sarungan, kurang gaul dan sebagainya. Hingga ketika untuk diikutkan jadi utusan dalam kongres Islam sedunia di Mesir atau kemudian Makkah, setelah jatuhnya Khilafah Turki Utsmani 1924,  jagonya kaum tradisional (yang belakangan kemudian jadi NOe, ejaan lama dari NU) itu ga’ jadi diikutkan, karena dipandang oleh kaum pembaharu sebagai orang yang kurang gaul. Jadi  kurang memadai kalau untuk mewakili Umat Islam Indonesia.

Walau kongres itu ga’ jadi, tapi seakan cap kampungan kurang gaul itu melekat di mereka (tokoh kaum tradisional). Nah dari situ, mereka yang dianggap (dan mungkin memang merasa) kampungan kurang gaul itu kemudian ngumpul, bareng-bareng bikin jum’iyyah, namanya NOe (Nahdlatoel Oelama, maknanya kebangkitan Ulama) tahun 1926.

Dalam perkembangannya, kesan kampungan itu ditambah-tambah oleh (mungkin PKI) dengan sebutan Kaum Sarungan. Terjadilah kemudian sikap over akting, karena kesan-kesan negatif itu. Akibatnya, mereka jadi lebih sok gaul, maka gabunglah dengan aneka macam, hingga PKI komunis dan nasionalis (sekuler dan agama-agama lain) digauli juga. Jadilah Nasakom (Nasional agama-NU- dan komunis) zaman Soekarno. Hingga dikumandangkan apa yang disebut lagu wajib, nyanyian yang judulnya Nasakom bersatu, hancurkan kepala batu. Kepala batu itu konon maksudnya Masyumi (minus NU, karena NU sudah ga’ lagi di Masymi, gabung di Nasakom itu). Lagu wajib itu diajarkan kepada anak-anak sekolah sebelum peristiwa geger pemberontakan PKI yang disebut G 30 S/ PKI (Gerakan 30 September/ PKI Partai Komunis Indonesia). Makanya PKI kemudian dibubarkan secara resmi dengan Tap MPRS:

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan seluruh ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 ini, kedepan diberlakukan dengan berkeadilan dan menghormati hukum, prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Karena sikapnya yang over akting itu ga’ sembuh-sembuh, ya terbawa-bawa hingga selanjutnya. (Silakan baca buku saya, Hartono Ahmad Jaiz, Bila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU, terbitan Pustaka Al-Kautsar, Jakarta).

Dari kenyataan itu, ada pelajaran yang dapat dipetik. Mari kita hati-hati, bila punya anak, jangan sampai dipoyoki, dicela, dipojokkan, diberi laqob-laqob/sebutan-sebutan negatif dan sebagainya. Karena akibatnya fatal. Makanya kalau kita mengkaji Al-Qur’an Surat Al-Hujurat 11, ketemu ada larangan memberi laqob-laqob yang negatif.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ} [الحجرات: 11

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." [QS. Al Hujurat: 11]

Kembali ke NU, kaum pembaharu (Unsur Masyumi yang bukan kaum tradisionalis/NU) kemungkinan menilai kaum tradisionalis yang kemudian kumpul jadi jum’iyyah NU dengan penilaian bahwa kurang mampu untuk mewakili Muslimin Nusantara, itu bukan mengada-ada. Tapi mungkin merupakan kenyataan. Nah, bagi kaum tradisional yang kemudian ngumpul bareng jadi NOe, itu merupakan stigma. (Di situ mulai kesruknya/ konflik batinnya) dan dihimpunlah kekuatan dengan mendirikan jum’iyyah NOe itu.

Kalau secara nggladrah (ngombro-ombro secara melebar) ke sebelah luar sana, dapat dibandingkan dengan wong Parsi yang kini syiah Iran. Manusia Parsi yang tadinya merasa lebih tinggi dan lebih jaya, tahu-tahu harus tunduk nglempuruk takluk bertekuk lutut di bawah kekhalifahan Umar bin Khatthab tahun 16 Hijriyah.

Wong Parsi yang semula beragama majusi menyembah api itu tunduk ya tunduk, tapi dendam kesumat tertanam di dada. Maka pentolan Majusi Parsi, Abu Lu’lu’ menikam Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu ketika mengimami shalat subuh di Masjid Nabawi Madinah tahun 23 Hijriyah, hingga beberapa hari kemudian Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu meninggal. Tahun 25 Hijriyah, Parsi yang sudah menyimpan dendam kesumat itu memodifikasi ajaran Nabi Palsu Majusi bernama Mazdak menjadi syiah. Sampulnya Islam, isinya majusi. Hingga ajaran Mazdak berupa ajaran zina tinggal diganti nama menjadi nikah mut’ah, yang intinya ya zina-zina juga.

Dendam Parsi semakin ditumbuh suburkan hingga kini, dan membentuk kekuatan berupa kekuasaan negara.

Kalau kini wong-wong NU ada sebagian yang cocok dengan syiah, itu karena ada latar belakang mirip, walau tidak sedrastis Parsi. Hanya saja NU lebih unik, karena dipoyoki/diberi laqob negatif oleh komunis PKI sebagai kaum sarungan, tapi malah gabung dengan PKI, dan celakanya, NU juga jadi korban keganasan pembantaian oleh PKI di Madiun tahun 1948, 1965 dan lainnya. Meskipun demikian, NU ya tetap tidak kapok, karena memang asal muasalnya kesruk/ konflik batin itu dengan kaum pembaharu (Masyumi dengan berbagai unsurnya yang non tradisional). Makanya kini wahabi dan semacamnya lah yang jadi sasaran. Hingga NU meneruskan “salah gaulnya” dan menemukan teman yaitu syiah, sekuler, abangan, komunis dan musuh-musuh Islam lainnya.

Saya berharap justru agar latar belakang yang seperti itu dihapus, agar bisa seperti bersatunya kaum Anshor (Madinah) dan kaum Muhajirin (dari Makkah) dalam ukhuwah Islamiyah sebagai sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa salam yang dipuji dalam Surat At-Taubah ayat 100.

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠ [سورة التوبة,١٠٠

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." [QS. At Tawbah: 100]

Dalam hal bergaul pun telah Allah berikan pujian ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap keras terhadap orang kafir, dan kasih sayang terhadap sesama kaum Muslimin.

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الفتح: 29

"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku´ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar." [QS. Al Fath: 29]

Meskipun Allah telah menunjuki bahwa: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka; namun ketika seseorang atau bahkan kelompok memilih meneruskan salah gaul, maka akibatnya bisa terbalik: bermesraan dengan manusia-manusia kafir, namun bencerengan tehadap kaum Muslimin.

Dari gejala panjang berupa stigma buruk pada awalnya yang disikapi dengan over akting hingga salah gaul tersebut, ada pelajaran berharga, jangan sampai kita dan anak-anak kita salah gaul. Toh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan gambaran jelas.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhori & Muslim).

Nah, akibat salah gaul secara berlama-lama itu, maka tidak mengherankan, kini bermunculan wong-wong NU yang justru menjadi saksi ahli meringankan Ahok terdakwa penista agama karena ucapannya, “Dibohongi pakai Al-Maidah 51”, berkaitan dengan masalah pilih pemimpin.

Sudah ketemu kan larah-larahanya? Walau mungkin ada yang menganggap bahwa ini hanya mencocok-cocokkan, namun kenyataan yang ada tidak selayaknya dibantah.

Jadi, ada dua pelajaran penting. Pertama, memberi sebutan negatif, kurang baik, itu terlarang. Bahkan disebutkan dalam Surat Al-Hujurat 11. Dalam kasus NU ini, walau sebutan negatif yang dari kaum pembaharu itu asalnya penilaian yang wajar saja, namun karena bagi NU sendiri dianggap sebagai stigma, dan ditambah oleh PKI yang memberi laqob ga’ bagus juga, kemudian disikapi dengan jalan keluar over akting yang kurang pas, maka akibatnya runyam.

Kedua, pentingnya berhati-hati dalam memilih teman, apalagi teman dekat. Hingga ada 19-an ayat yang wanti-wanti jangan sampai orang mukmin menjadikan orang kafir (Yahudi, Nasrani dan lainnya) sebagai wali, teman dekat, teman setia, penolong, pelindung apalagi pemimpin. Di antaranya yang kini sangat terkenal adalah al-Maidah 51.

Ketika seseorang apalagi kelompok besar yang sudah kadung (telanjur) salah gaul, maka larangan Al-Qur’an itu tidak digubris lagi, bahkan sikap kelirunya itu dibela-bela sampai berani melawan ayat-ayat Al-Qur’an. Makanya tidak mengherankan, mereka jadi pembela orang kafir bahkan dalam kasus penistaan terhadap Islam sekalipun.

Tulisan ini dicukupkan sekian, alhamdulillah. Karena sudah jelas.

__
Sumber: fb penulis