Arab Saudi Terpilih Jadi Anggota Komisi Hak-hak Perempuan PBB, Haters Liberalis Kejang-Kejang


Banyak yang kejang-kejang ketika baru-baru ini PBB menunjuk Arab Saudi sebagai anggota Komisi Hak-Hak Perempuan (UN Women’s Rights Commission). Menurut benak mereka sebagai insan-insan kapitalis eksploitir, "Saudi adalah Negara yang sebenarnya belum memberi hak penuh pada perempuan. Bangsa yang perempuannya butuh perjuangan lebih untuk sekedar nyetir mobil".

Bahkan saking gak move on-nya dengan peraturan muslim Saudi untuk menjaga istri-istri dan anak-anak putri mereka agar tidak dijadikan tenaga sopir di jalanan, mereka menuduh dan menduga bahwa Saudi sudah menyogok PBB, mereka mengatakan bahwa, "Kuat dugaan karena kekuatan duit. Saudi mampu tawarkan segepok materi untuk kampanye hak-hak perempuan dunia".

Dalam hati saya berfikir, betapa naifnya kaum liberal itu, Perempuan kok disuruh nyetir. Para penyembah Eropa tuh lugu betul, jadi anak cowok yang ganteng kok tega-teganya membiarkan ibunya nyetir. Jadi suami kok miskin tanggungjawab, membiarkan istri stres nyetir dijalan. Masyarakatnya sangat "miskin", perempuan makhluk lembut itu masih aja mau dieksploitasi sebagai tenaga supir. Betul-betul menghina perempuan, dan mereka juga lupa kalau perempuan nyetir gak fokus dan baper, lampu sen kiri tapi belok nya ke kanan, nyetir sambil nelpon atau chatingan ngomongin bumbu dan model fashion, atau sambil update status di medsos atau ...

Repot deh pokoknya...

Di Mesir, yang perempuannya dibolehkan nyetir, para cowok terzolimi sekali. Ketika perempuan nyerempet mobil cowok, terus perempuan berteriak dan berkata kepada orang-orang yang datang melihat kejadian bahwa yang salah adalah si cowok, para pendatang berpihak kepada si cewek, apalagi kalau ceweknya cantik dan judes pula. Terus pria gak boleh ngotot, karena ngototin pada cewek dianggap aib dan gak sopan. Terzolimin kwadrat banget...

Makanya warga Mesir senang betul, andai saja di Mesir juga diberlakukan larangan wanita tidak boleh nyetir atas nama keamanan, bukan atas nama "Kebaikan untuk si Muslimah/mashlahah muslimah (agama)" seperti yang dilakukan Saudi. Karena kalau atas nama "mashlalah muslimah" nanti dibully ama liberal dan kaum dodol. Tapi kalau atas nama safety, keren dan keliatan modern :)

Kata-kata "Wanita Saudi Tidak dapat hak untuk nyetir", ini kalau dibahasaindonesiakan secara kultural bermakna "tidak dapat hak untuk nyangkul atau tidak dapat hak untuk ngebecak dayung", karena di Saudi tenaga sopir adalah tenaga kasar yang didatangkan dari luar, biasanya supir-supir didatangkan dari India, Bangladesh, dan he he... Indonesia. Cowok-cowok Saudi gengsi nyetir, mereka malu jadi sopir, masak ia suruh istri mereka nyetir, "itu bukan pekerjaan wong saudi, tapi pekerjaan wong bangla," kata mereka.

Disini kita melihat betapa rendahnya selera kaum liberal. Mereka berjuang bukan untuk membahagiakan istri dan anak-anak perempuan mereka, tapi mereka berjuang agar kaum wanita mereka bisa jadi sopir.

Mereka, mungkin ya, belum pernah kayak orang Saudi, belum pernah merasakan naik Mercy :)

Dalam tradisi mobil mercy, kalau ada yang nyetir mercy, yang liat pasti langsung mikir bahwa yang nyetir itu pasti bukan pemilik mercy, tapi hanya sopirnya. Sehingga kalau bawa mercy itu malu nyetir sendiri, karena pasti dikirain abang sopir :)

Saya aja sebagai cowok, lebih senang disetirin, masak emak-emak saudi lebih senang nyetir mercy sendiri? :D

Bos-bos, kalau bawa mercy jadi sopir, malu kan? Gengsi kan?

Mereka warga Saudi yang punya mobil bagus-bagus, tidak sudi istri-istri dan anak-anak putri mereka mengerjakan pekerjaan yang memalukan...

Nyetir sendiri mobil bagus-bagus di saudi, pasti dikira sopir...perempun pula!

Mereka bisa beli mobil mahal, masak gak bisa beli sopir yang gajinya perbulan mereka bayar pakai uang receh?

Kaya, banyak duit, tapi nyetir sendiri? Walah walah...

Orang-orang Liberal, karena mungkin sering jadi tenaga perahan kapitalis ya, makanya bisa jadi sopir aja, itu bagi mereka sebuah perjuangan besar. Sementara sebahagian orang, nyetir itu adalah pekerjaan rendahan yang tidak perlu diperjuangkan.

[Kivlein Muhammad]