Tolak Gereja yang Didirikan di Tengah 2 Pesantren Besar, Warga Jadi Korban Kekerasan Fisik

From: Facebook

[PORTAL-ISLAM]  Ribuan umat Islam Bekasi yang menamakan diri Majelis Silaturrahim Umat Islam Bekasi menolak pendirian gereja Santa Clara yang berlokasi di jalan Kaliabang Harapan Baru Bekasi Utara, Jumat, 24 Maret 2017.

Aksi penolakan tersebut berakhir dengan bentrokan fisik setelah para peserta aksi unjuk rasa ditembaki gas air mata dan dilempari balok berpaku.

"Kami ditembaki gas air mata dan balok berpaku," ujar salah satu Koordinator Aksi Ahmad Syahidin, Lc kepada sejumlah awak media.

Aksi penolakan dilakukan karena lokasi pembangunan Gereja St. Clara berada di kawasan berpenduduk mayoritas muslim dan berada di antara dua pesantren besar.

Ustaz Aang Kunaifi, tokoh Islam Bekasi Utara selaku perwakilan dari pengasuh Pondok Pesantren At-Taqwa yang didirikan oleh Almarhum KH Noer Ali, pernah menjelaskan, bahwa pembangunan Gereja Santa Clara yang berada di tengah perkampungan Muslim dan pondok pesantren sangat meresahkan warga.

“Gereja Santa Clara itu terletak di antara pesantren At-Taqwa dan pesantren An-Nur, itu pesantren besar di Bekasi Utara, di tengah-tengah bercokol gereja besar, itu yang membuat masyarakat gerah dan menolak, agar Santa Clara ini tidak diizinkan berdiri,” ujarnya.

Aksi yang dilaksanakan selepas Salat Jumat ini sudah diantisipasi oleh sejumlah petugas kepolisan yang telah berjaga sejak pukul 11.00 wib.

Aksi penolakan ini merupakan gelombang protes yang kesekian kalinya. Sebelumnya, pada tahun 2015, aksi unjuk rasa ini sudah pernah dilakukan. Surat penghentian pembangunan sementara pun sudah dikeluarkan. Namun pada tahun 2017, pembangunan kembali dilanjutkan.

Peserta aksi membubarkan diri setelah Kapolres Bekasi berjanji untuk mendinginkan suasana dengan menghentikan sementara pembangunan gereja ini.

Menurut seorang warga Paroki St. Clara, Juniwaty, gereja ini dibangun di atas tanah seluas 6.000 meter persegi dengan luas bangunan seluas 1.500 meter persegi.

"Gereja ini memang agak besar karena harus menampung 12.500 umat, karena di Bekasi Utara belum ada Gereja Katolik," tulisnya melalui pesan singkat.