SENJA KALA KAMMI DAN GERAKAN MAHASISWA


SENJA KALA KAMMI DAN GERAKAN MAHASISWA

Oleh: Nana Sudiana
(Alumni & Penggembira KAMMI)

"Likullim marhalatin rijaluha wa likullim marhalatin masaakiluha" (Setiap marhalah itu ada rijalnya, setiap marhalah ada masalahnya - Penggalan percakapan Ust Rahmat Abdullah dengan Pa Mabruri dalam Film "Sang Murrobi").

Beberapa hari yang lalu, ketika beres-beres buku di rumah, tak sengaja saya menemukan sejumlah buku catatan lama. Mulai tahun 1997, 1998, 1999 hingga tahun 2000. Ada begitu banyak catatan saat dulu mahasiswa, dan terbanyak ternyata catatan tentang KAMMI. Mulai situasi dan acara di Malang pada 29 Maret 1998, muktamar Bekasi, November 1998 hingga Muktamar di Jogja pada tahun 2000. Saya bukan siapa-siapa di gerbong KAMMI, hanya sekedar tukang catat yang karena tak dipublikasikan maka jelas saja tetap sekedar catatan harian. Tapi setidaknya, kebiasaan membuat catatan di setiap moment KAMMI bisa untuk menjadi refleksi KAMMI. Syukur dibaca dan sama-sama direnungi. Bila tak berkeberatan, berikut catatan kecil saya tentang KAMMI di momentum hari lahirnya yang ke-19. Semoga berkenan membacanya.

Hari ini, bagi gerakan mahasiswa Indonesia adalah hari istimewa, karena tepat pada hari ini, 29 Maret 19 tahun lalu, sebuah gerakan mahasiswa yang bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) lahir di bumi Nusantara ini. Kelahiran KAMMI pada tahun 1998, sudah takdir jaman. Menjadi salah satu bagian tak terpisahkan dan gonjang-ganjing bumi pertiwi akibat momentum reformasi. Ada guncangan kuat kala itu pada perjalanan bangsa, sehingga atas nama semangat jaman dan kehendak bebas untuk hidup lebih baik, maka lahirlah reformasi.

Reformasi yang mencita-citakan hidup lebih baik dan penuh kebebasan menentukan kehendak dan nasib bersama pada perjalanannya tak semulus harapannya. Ada begitu banyak pemain baru lahir dan mengambil alih saham gerakan reformasi sehingga cita-cita reformasi banyak yang mengalami kemandegan dan bahkan disesali kelahirannya oleh sejumlah kalangan.

KAMMI yang hingga hari ini masih mewarisi semangat reformasi masih terus menyalakan idealismenya sepanjang waktu. Semangat momentum kelahiran KAMMI dalam mendorong reformasi 1998 terus dijaga agar tak padam ditengah dinamika yang ada. Bahkan semangat mengawal reformasi hingga cita-citanya mewujud pun terus dikibarkan.

Di usia KAMMI yang ke-19 ini, ternyata situasi gerakan mahasiswa telah berubah. KAMMI dan gerakan mahasiswa di Indonesia telah berada di situasi yang berbeda. Tahun 1998 gerakan mahasiswa masih memiliki kekuatan yang mengakar di dunia mahasiswa, termasuk memiliki pengaruh dan warna ideologi dalam beraktivitas di kampus. Namun di tahun-tahun ini, suasana yang terbangun di dunia mahasiswa telah mengalami pergeseran. Gerakan mahasiswa seolah berada di sisi yang berbeda ditengah dinamika mahasiswa.

Saat ini setidaknya ada 3 fenomena yang terjadi di dunia mahasiswa. Pertama, perubahan lansekap dunia mahasiswa. Dulu, kegiatan mahasiswa di kampus selain kuliah adalah diskusi, debat dan kegiatan akademik lainnya yang dilakukan disela-sela kuliah. Sisanya adalah kegiatan kemahasiswaan yang disesuaikan dengan minat dan bakat masing-masing. Sebagian lagi tenggelam di tumpukan buku-buku perpustakaan. Kini, mahasiswa hanya datang ke kampus sesuai jam kuliahnya dan begitu selesai langsung bubar. Tak ada lagi diskusi atau kegiatan lainnya, sedikit pula jumlah mahasiswa saat ini yang ingin berlama-lama di kampus. Termasuk pula menjadi jamak bila masa studi mahasiswa sekarang ini sangat cepat dan nilai-nya pun bagus-bagus. Mereka memang sangat fokus kuliah dan menjadi yang terbaik di sisi akademik. Menjadi aktivis gerakan mahasiswa dengan risiko kuliah akan terganggu dan lulus bisa lebih lama tentu saja tidak lagi menarik bagi mahasiswa di kampus.

Kedua, tantangan yang berbeda. Gerakan mahasiswa dulu kental warna ideologinya. Namun sekarang, situasi yang ada dalam dinamika bangsa Indonesia sendiri telah mengalami pencairan kutub politik. Warna-warna kental atas ideologi seolah mencair dan lumer. Yang menonjol justru kemampuan personal dan kemampuan kapital. Sejumlah idiolog yang dikenal dalam gerakan mahasiswa ternyata seolah "meleleh" begitu memasuki panggung realitas politik praktis. Alasan ini pula yang berimbas pada dunia mahasiswa. Gerakan mahasiswa dengan ideologi yang kental seolah tak punya ruang memadai di dunia mahasiswa. Ada kebutuhan jauh lebih kompleks dari sekedar ideologi. Hal itulah yang akhirnya mempopulerkan gerakan-gerakan pragmatis sekelompok mahasiswa tampil menggantikan gerakan mahasiswa yang bernuansa ideologis.

Ketiga, lahirnya dunia tanpa batas. Gerakan mahasiswa, yang seringkali memposisikan ekslusif kini tak selaras lagi dengan semangat jaman. Anak-anak muda yang masuk ke kampus, adalah anak-anak jaman yang sejak kecil terbiasa terkoneksi dengan dunia yang luas. Mereka tak bisa didoktrin, apalagi diberi batasan-batasan yang kaku soal cara pandang dan perspektif dalam kehidupan. Pengetahuan dan wawasan mereka jauh melebihi keberadaan geografis yang mereka diami dan kemudian jelajahi. Dengan daya dorong global, karya-karya mahasiswa kini seolah bisa menembus sekat kampus dan bahkan negara. Inovasi dan kemampuan mahasiswa bisa berkembang tanpa memerlukan komunitas-komunitas di kampus, termasuk pula dari gerakan mahasiswa. Jadi nyata-lah kini, kebutuhan untuk maju dan berkembang bersama dengan gerakan yang ada di dunia mahasiswa semakin kecil perannya.

Dengan begitu, KAMMI dan gerakan mahasiswa lainnya yang ada di Indonesia harus lebih realistis bahwa apa yang selama ini diperjuangkan dan menjadi kebanggaan gerakan harus mau ditinjau kembali. Sudah saatnya gerakan mahasiswa melihat ke dalam lebih seksama dan penuh kejujuran atas situasi yang ada ini. Akuilah bahwa dengan situasi yang ada saat ini, kita harus berubah, bukan justru meminta dunia mahasiswa mengikuti kita, bahkan terus menganggap penting keberadaan dan eksistensi gerakan kita.

Perubahan waktu yang terus terjadi memaksa kita memasuki "senjakala", sebuah moment perjalanan hari yang tak lama akan mengantarkan sebuah gerakan memasuki fase kegelapan dan menunggu pagi hari. Pagi yang digambarkan bagai nyawa baru tumbuhnya harapan. Dan bila tak ada sesuatu yang baru di kala mentari muncul, maka berakhir sudahlah sebuah gerakan dalam kubangan malam. Ia hanya akan dijumpai di buku-buku sejarah dan mungkin hanya akan tercatat di mesium waktu.

Di tengah situasi yang serba tak pasti, apalagi muncul era baru di Asia, yakni mulainya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tahun di mana masyarakat semakin dipaksa tergantung dengan produk-produk dari luar negeri. Era di mana masyarakat harus beradaptasi dengan pesatnya kemajuan teknologi. Zaman di mana masyarakat dipaksa saling berhadapan demi untuk bertahan hidup seadanya. Fenomena perkelahian angkutan online dengan yang konvensional menjadi cermin dunia dihadapan kita mulai serius berkonflik bahkan hingga mengorbankan orang-orang kecil tak bersalah hingga mereka bersimbah darah dan kehilangan nyawa.

Sebelum senjakala itu nyata datang, marilah sejumlah penggagas dan pendiri serta para aktivis gerakan KAMMI dan gerakan mahasiswa di negeri ini merencanakan 3 hal, yaitu : (1). Melakukan re-orientasi gerakan, (2). Melakukan re-positioning gerakan, dan (3). Melakukan Sinergi. Begini uraian singkatnya :

Pertama, melakukan re-orientasi gerakan. Ini kedengarannya klise barangkali. Siapa saya (penulis) sehingga berani mengajari orang-orang hebat dijaman-nya serta orang-orang penting dan petinggi KAMMI saat ini. Namun, namanya juga saran, siapa tahu bisa direnungkan. Re-orientasi gerakan sebenarnya sederhana. Ini walau bahasanya susah, namun mudah aktivitasnya. Intinya berusaha jujur membaca situasi yang ada dengan sejumlah perangkat alat analisis sederhana. Bisa juga dengan SWOT Analisis untuk memetakan apa yang terjadi. Sehingga nantinya muncul peluang dan kesempatan untuk gerakan KAMMI bisa tumbuh kembali dan berperan maksimal di tengah dinamika jaman.

KAMMI dengan hasil pembacaan tadi jadi punya ruang untuk melakukan kegiatan yang seseuai kebutuhan jaman dan mudah pula melakukannya karena didukung potensi internal yang memadai. Dengan kemampuan baca yang baik, KAMMI nanti akan berada ditengah suasana yang paling sesuai alias aktual dan sangat mungkin akan menjadi kiblat gerakan mahasiswa dan juga publik secara umum.

Kedua, melakukan re-positioning. Ini tentu konsekuensi dari yang pertama. Di mana begitu ketemu rencana yang sesuai di tengah jaman yang ada, mau tidak mau, KAMMI harus menempatkan diri yang paling sesuai atau dalam bahasa lainnya ada segera melakukan positioning. Ini memaksa KAMMI merubah sejumlah hal seperti kebiasaan (habbit), kultur serta asesoris lainnya yang ada dalam gerakan. Mungkin pula produk wacana yang ada sesungguhnya sama, namun diperlukan formula yang sesuai jamannya yang dihadirkan. Ini butuh kecerdasan melakukan packaging gerakan sehingga KAMMI nantinya akan terus bisa mengikuti geliat jaman dan terus dianggap aktual dan sesuai jamannya.

Ketiga, melakukan sinergi. Ini yang harus diakui KAMMI cukup berat situasinya. Karena faktanya KAMMI hari ini memiliki dua kelompok alumni yang masing-masing merasa memiliki historis dengan KAMMI. Bukannya harus dijauhi oleh KAMMI, namun sebaiknya justru KAMMI yang harus cerdas memposisikan diri sehingga semua potensi alumni tetap menguntungkan untuk KAMMI dan mampu didayagunakan bagi kepentingan masa depan KAMMI.

Tantangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi KAMMI untuk menunjukkan bahwa KAMMI sejatinya tetap solid dan kuat bingkai ukhuwahnya. Juga KAMMI justru matang ditengah godaan jaman. Sejarah juga nantinya yang akan mencatat seberapa ikhlas gerakan alumni KAMMI ini dalam berjuang menjadi bagian masa depan KAMMI atau sebaliknya, mengorbankan KAMMI untuk sebuah kepentingan lain di luar KAMMI.

Kembali ke soal senjakala, apabila akhirnya hari berganti. Dan esok matahari akan kembali terbit, semoga berganti pula nantinya kepemimpinan KAMMI yang paling sesuai jaman. Sebagaimana yang saya kutip di awal tulisan. Likulli marhalatin rijaluha wa likulli marhalatin masyakiluha. Setiap marhalah itu ada rijalnya, setiap marhalah itu ada masalahnya. Jadi masing-masing masa kepemimpinan KAMMI ada cobaannya dari Alloh Subhaanahu Wa Taala, begitu juga gerakan mahasiswa Indonesia lainnya. Kata Ustadz Rahmat Abdullah, resepnya adalah kesabaran, keikhlasan dan pengorbanan para aktivisnya. Satu hal lagi yang harus diingat adalah kita semua harus kembali ke asholah dakwah ini. Kata beliau lagi, ngapain kita nyemplung habis-habisan dalam sebuah gerakan bila ternyata niat kita bukan karena Allah.

Ustadz Rahmat juga mengingatkan bahwasannya memang sudah suatu kenicayaan bahwa Allah SWT memberikan ujian pada tiap diri seseorang (dan juga sebuah gerakan) marhalah (tingkatan) kedewasaan dan tempat dia berada. Semakin tinggi tingkat kedewasaan seseorang semakin banyak tanggung jawabnya maka semakin besar pula ujiannya. Semakin tinggi tingkat marhalah tempat kita beramanah semakin luas tanggung jawab yang diemban maka semakin besar pula ujiannya.
Semoga begitu juga KAMMI hari ini, yang terus mengemban dakwah di dunia gerakan kemahasiswaan. Semoga bisa terus istiqomah dan tegar terhadap godaan jaman. Peradaban di depan, tak mudah ditaklukan, apalagi bila aktivisnya gampang berkecil hati. Peradaban di hadapan, adalah medan luas pembuktian bahwa kita adalah manusia biasa yang atas ijin-Nya diberikan kekuatan untuk melintasi jaman membebaskan diri dari ketakutan akan dunia dan kekhawatiran akan kematian.

Semoga.

(Ditulis dalam perjalanan dari Pinggir barat Kota Jogja-Condet, Jakarta, 28-29 Maret 2017)