Raja Salman Ke Menlu RI: "Bangsamu Adalah Bangsa Orang-orang Baik"


"Bangsamu adalah bangsa orang-orang baik," begitu tutur Raja Salman Bin abd Azis As Saud pada Bu Menlu Retno medio 2015 saat menceritakan pengalaman kecil dirinya yang berbekas pada orang Indonesia.

Ya, dunia Arab wabil khusus Saudi adalah sepenggal kisah persahabatan sejak lama. Melalui jazirah dan ulama-ulamanya nusantara ini mengenal dan memeluk Islam sebagai struktur keyakinan dan pedoman kehidupan yang ramah dan diterima masyarakat dengan kearifan mendalam.

Sejarah menunjukkan bahwa jauh sebelum Arab Saudi mengalami "Oil Boom" dan menjadi salah satu negara terkaya dijagat raya, bahkan sebelum Kerajaan Saudi terbentuk masyarakat kita sudah migrasi ke dua tanah suci, sebagai santri, ulama, dan syeikh diberbagai madrasah di Tanah Suci.

Raja Salman pun mengenang bahwa nusantara pernah miliki ulama besar yang menjadi Imam Besar Masjidil Haram yakni, Syeikh Junaid Al Betawi, Syeikh Muhammad Nawawi Al Jawi Al Bantani, Syeikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi. Bahkan dua pendiri organisasi Islam terbesar di Infonesia, Hadratusyeikh KH Hasyim Ashari, dan KH Ahmad Dahlan yg menjadi ruh Nahdathul Ulama dan Muhammadiyah berlajar keislaman di Mekkah. Maka Saudi dan Indonesia adalah sejarah panjang dua persahabatan dua negeri yang menjadikan Islam sebagai corak budaya dan spirit kebangkitan.

Jauh Sebelum Negara Saudi berdiri masyarakat nusantara begitu cinta pada jazirah Arabia terkhusus Makkah dan Madinah sebagai jantung kesucian dan kehormatan umat Islam, teringat sabda sang Nabi yang berkaca-kaca ketika meninggalkan Makkah ketika berhijrah "Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang paling baik, dan engkau adalah tanah yang paling dicintai-Nya. Demi Allah, sekiranya aku tak diusir keluar darimu, aku takkan pergi meninggalkanmu".

Begitu sabda Sang Nabi yang menempatkan Makkah kota Suci yang menjadi spirit bagi seluruh umat Islam diseluruh dunia termasuk Indonesia.

Atau mari kita mengingat kisah sendu saat Abu Bakr dan Bilal Bin Rabbah sakit demam terbesit rindu karena kangen akan Makkah setelah hijrah ke Madinah dan Rasul mengedahkan tangannya, "Yaa Allah jadikan kami cinta pada Madinah ini sebagaimana kami cinta pada Makkah atau lebih banyak lagi. Yaa Allah, tuangkaah keberkahan bagi kami di Madinah ini, atas ahlinya, airnya, udaranya dan buah-buahnya." 

Dan Makkah-Madinah tak asing bagi seluruh umat muslim dimuka bumi, termasuk bagi Indonesia. Karena ia adalah symbol kesucian yang terjaga dan symbol pemersatu umat diseluruh dunia.

Ingatkah kita ketika Raja Abdul Azis sang ayahanda Salman mengutus putranya Pangeran Faisal untuk mencari tahu penjajahan Belanda pada Muslimin di Hindia Belanda sampai Eropa pada 1926. Dan Pada 1928 Organisasi Majelis Syuro Indonesia berdiri di Mekkah dan menjadi cikal bakal pergerakan nasionalisme Indonesia dikalangan umat Islam yang tak kalah dari Indische Vereeninging-nya Bung Hatta yang berubah menjadi PPI Belanda atau gerakan serupa ditanah air yang lebih dulu dipelopori Stovia, HOS Tjokroaminoto, Soekano, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Ashari.

Ya, kehadiran Raja Salman sang pemegang amanah Tuhan yang memegang kunci dua kota suci, tak sekedar hanya dimaknai kunjungan politik dan bilateral. Ia pesan symbolik sebuah makna persahabatan panjang dua negeri besar Muslim yang sedang bergerak ingin membangun dunia baru. Saudi Arabia dengan visi 2030 dan Indonesia dengan 2045-nya.

Kita mungkin perlu teringat ucapan Putra Mahkota Kerajaan Saudi dalam visi 2030 mereka, "Dengan seluruh berkat yang telah Allah limpahkan kepada kita, tidak ada hal lain selain bersikap optimis atas masa depan kita. Kita lebih baik merenungkan apa yang terbentang di cakrawala daripada khawatir terhadap aneka masalah yang dapat sirna."

Suatu ungkapan optimisme dari Saudi dalam membangun dan memimpin dunia Islam. "Arab Saudi, jantung dunia Arab dan Islam, Pembangkit investasi dan penghubung tiga benua." begitu tutur Mohammed bin Salman sang putra Mahkota. Visi 2030 ini dibangun 3 tema, yakni masyarakat yang penuh energi dan antusias, perekonimian yang tumbuh dengan baik, serta negara yang ambisius.

Dua negara yang kini terus ingin berkembang dalam visi mereka sebagai pondasi kokoh bagi kemakmuran dunia muslim. Saudi yang memiliki kekayaan melimpah lewat petro dollar mencoba membuka ranah Asia dan Indonesia sebagai salah satu mitra utama.

Tak ayal Sang Raja berkata "On the top the list is Indonesia" karena melihat potensi Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang ramah dan memiliki prospek dengan pertumbuhan ekonomi yang terus tumbuh mendekati 5% pertahun.

Dan Indonesia mungkin sedang mengirimkan pesan bahwa Indonesia adalah "friend indeed, friend in need".

Ya, ditengah Arab Saudi yang menghadapi konstelasi politik-ekonomi dan stagnasi global akibat melambatnya harga minyak. Indonesia harus menjadi mitra utama Saudi sebagai sahabat sejati yang hadir saat dibutuhkan.

Ahlan Wa Sahlan Khadimul Haramain..
Selamat Datang Di Indonesia Wahai Penjaga Tanah Suci.

by Nugroho Adinegoro
yang merindukan kembali ke Haramain