Peristiwa Nenek Hindun, Ada Mutiara Toleransi dalam Lumpur Politisasi


Peristiwa Nenek Hindun, Ada Mutiara Toleransi dalam Lumpur Politisasi

Di atas "wajan" media sosial, saat ini ada "gorengan isu" yang terbungkus "minyak politisasi" mendidih yang dipanasi oleh "kompor nyablak" para buzzer politik. Gorengan itu bernama peristiwa pengurusan jenazah Nenek Hindun.

Almarhumah Nenek Hindun semasa hidup tinggal di RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan. Menempati rumah yang sangat sederhana, dekat dengan sebuah musholla bernama Al Mu’minun. Ia wafat pada Selasa, 7 Maret 2017 kemarin, pukul 13.30. Kemudian jenazahnya diurus oleh warga setempat. Dimandikan, disholati, dibawa ke tempat pemakaman dengan mobil ambulan (didapat atas usaha bahu membahu warga yang mencarikan), diziarahi dan dikuburkan dengan layak.

Hampir tak kurang satu apa pun dalam pengurusannya. Kecuali, prosesi sholat jenazah tak dapat dilakukan di Musholla Almu’minun, musholla yang di sana sempat terpasang spanduk penolakan menyolati pemilih pasangan Ahok-Djarot di pilgub DKI Jakarta 2017.

Ini lah celah yang dimanfaatkan buzzer politik untuk mempercantik KPI-nya dihadapan pemodal. Kebetulan nenek Hindun memberikan satu suara kepada pasangan Ahok-Djarot pada 15 Februari kemarin.

Kebohongan pertama yang diluncurkan adalah Nenek Hindun ditolak untuk disholati. Saat tulisan ini dibuat, masih terpampang di situs yang sedang berperkara pencemaran nama baik, seword[dot]com, judul tulisan “Kasus Jenazah Nenek Hindun Yang Tidak Boleh Disholatkan Cermin Menjijikannya Politisasi Agama”. Judul ini bertolak belakang dengan isi tulisan karena di sana disebutkan sholat jenazah dilakukan di rumah. Tapi yang termudah bagi netizen adalah membaca judulnya saja, bukan? Toh isi tulisannya sudah ditebak, akan ada banyak bumbu ngalor ngidul membedaki sekerat fakta yang tipis. Cukup baca judul, kemudian lanjut berkomentar dan share.

Isu selanjutnya menggugat mengapa sholat jenazah dilakukan di rumah. Mengapa tidak di musholla. Padahal sudah ada keterangan dari ustadz Syafii dan warga. Bahwa perlu waktu untuk mengumpulkan jamaah, sementara hari sudah menjelang malam dan cuaca pun mendung, sebentar lagi hujan deras. Untuk efisiensi waktu, sholat jenazah cukup dilakukan di rumah. Namun keterangan itu kalah oleh politisasi. Dan ustadz Syafi’i kepada media mengungkapkan kesedihannya menjadi sasaran fitnah.

Dari kisruh ini, rupanya terungkap fakta yang tidak diduga-duga. Dikutip oleh detikcom (kumparan memuat pengakuan yang sama), seorang warga bernama Syamsul Bahri memberi kesaksian seperti berikut: "Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan, yang mandiin, papan, sampai ambulance mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu enggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulance. Akhirnya datang, ambulance Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita."

Ada pemandangan toleransi yang indah kala jenazah nenek Hindun diurus. PKS adalah partai pendukung Anies-Sandi yang merupakan competitor pasangan Ahok-Djarot. Dan ada kader/simpatisannya yang ikut mengurus jenazah pemilih Ahok-Djarot. Timses dari Partai Gerindra juga bekerja. Mobil ambulan yang datang pun adalah milik relawan Anies-Sandi. Berkaca dari putaran pertama pilgub DKI, mayoritas warga daerah sana adalah pendukung Anies-Sandi. Mereka lah yang mengurus jenazah Nenek Hindun. Yang mencarikan papan, keranda, dan perlengkapan lain yang diperlukan.

Fakta tersebut bagaikan mutiara “toleransi” dalam lumpur “politisasi”. Dapat apa Ustadz Syafi’i dan warga? Tidak ada. Mereka bekerja ikhlas karena Allah. Persoalan kecil bahwa jenazah Nenek Hindun tak disholati di musholla adalah masalah teknis yang lebih dimengerti oleh ustadz Syafi’i yang telah bertahun-tahun mengurus jenazah. Saya percaya tak ada maksud diskriminasi di hati ustadz tersebut. Lagi pula, menyolati jenazah di rumah adalah persoalan biasa yang cukup sering terjadi. Bukan hal yang besar.

Semoga Allah menyempurnakan pahala warga yang mengurus Nenek Hindun di tengah guncangan keikhlasan akibat fitnah sebagian netizen dan buzzer politik. Andai kejadian seperti ini terjadi setelah pilgub usai, apakah akan ramai juga? Saya tidak yakin buzzer-buzzer itu peduli. Cuma kebetulan pilgub belum usai, masih ada putaran kedua yang menetukan, sehingga kasus seperti ini perlu dibesar-besarkan. Kalau para buzzer itu benar-benar peduli rakyat kecil seperti Nenek Hindun, mereka akan bersuara untuk kasus penggusuran dan tertindasnya nelayan di pesisir Jakarta oleh proyek reklamasi.

Namun ada hikmah di balik ribut-ribut ini. Bahwa toleransi itu nyata dan masih ada. Tak perlu pawai, tak perlu konser, tak perlu pidato tokoh yang berteriak-teriak dengan urat leher menegang. kenyataannya rakyat Indonesia mengerti apa itu toleransi.

Untuk arwah Nenek Hindun, kita doakan semoga Allah menerima amalnya dan mengampuni dosanya. Tak boleh ada tudingan munafik terhadap beliau. Kalau ada yang menuduhnya telah melakukan perbuatan nifaq karena memilih pemimpin non muslim, pahamkan ia bahwa seorang yang terindikasi munafiq karena perbuatannya, tidak serta merta dilabeli munafiq. Orang itu punya haq untuk mengajukan udzur.

Allahummaghfirlaha warhamha wa 'afiha wa'fu 'anha.

(Zico Alviandri)