Moral Story Sambutan Luar Biasa Atas Raja Salman


Moral Story Sambutan Atas Raja Salman

Oleh: Ust. Ahmad Dzakirin

Ribuan pelajar dan masyarakat tumpah ruah ke jalan menyambut kunjungan Raja Salman Bin Abdul Azis.Kendati dalam keadaan hujan lebat, tampaknya mereka bergeming dari tempat berdiri sejak jam 9 pagi. Sementara sang Raja dan rombongan baru datang jam 1 siang.

Alih-alih sedih, mereka tampak gembira dan melambaikan tangan kepada sang Raja di tengah guyuran hujan lebat. Seorang guru yang hadir bersama murid-muridnya mengekspresikan kesukacitaannya:

"Saya senang sekali, dan tidak sia-sia kita menunggu dari pagi dan hujan-hujanannya, bisa melihat Raja Salman lewat," kata Fatimah, guru SMP Negeri 20 Cerai Ujung.

Sementara seorang guru lainnya memberi alasan lain kegembiraannya:

"Tadi kita bisa melihat secara singkat raja saat melintas. Jadi senang rasanya, dan bahagia, mungkin karena ini raja Arab Saudi, sama-sama Muslim jadi ada (semacam) hubungan emosional," ujar Siti Rukmana.

Mereka juga membandingkan suasana kemeriahan dan kesemarakan sambutan Raja Salman dengan PM Jepang Sinyo Abe beberapa waktu lalu.

Tentu tidak tepat jika perbedaan kemeriahan sambutan tersebut lebih karena alasan investasi ekonomi, walaupun kabarnya Arab Saudi menjanjikan bantuan dan investasi senilai 334 Trilyun. Namun jika dibandingkan Jepang, Arab Saudi masih kalah dalam investasi dan bantuan internasional.

Diluar sambutan masyarakat yang dikordinasikan pemerintah daerah Bogor, ada pula ribuan warga lainnya yang secara suka rela menyambut suka cita kedatangan sang Raja di sepanjang jalan di Bogor maupun di Jakarta menjelang kedatangannya. Sebagian besar mereka yang hadir adalah kalangan oposisi Muslim yang mengkritisi kebijakan dan sikap partisan pemerintah.

Beberapa hari sebelum kedatangan, beredar informasi di sosmed ajakan untuk menyambut kedatangan Sang Raja sebagai bentuk solidaritas keagamaan. Gairah sosmed beberapa pekan sebelum kedatangan Sang Raja seperti menjadi battle of discourse Raja Salman milik siapa? Pemerintah yang 'sukses' menarik investasi dan bantuan Saudi yang murah hati atau kelompok oposisi yang gelisah dengan pengaruh China yang dipandang eksploitatif dan membahayakan kepentingan nasional.

Dalam kondisi yang tidak terkendali ini, kehadiran sang Raja seperti laiknya kehadiran sang Messiah (Imam Mahdi) yang dijanjikan sehingga apapun kebijakan dan tindakan profan sang Raja selama kunjungannya diinterpretasikan dalam perspektif relijiusitas dan 'nubuwwah'. Walaupun banyak pengamat menilai kunjungan Raja Salman lebih merefleksikan perpanjangan kepentingan domestik mereka yakni, national security dan diversifikasi pasar.

Inilah bangsa Indonesia, kecintaan terhadap agama ini pada satu sisi dan disisi lain, kerinduan membuncah akan hadirnya sosok Muslim di dunia ini yang membela kepentingan agama dan umat. Harapan mereka dalam perspektif 'ideal' lebih kuat dan melampui dari fakta politik yang sebenarnya.

Bagi saya, pesan moral ini justru lebih penting kepada Arab Saudi dan patut pula dibaca Raja Salman. Bottom line-nya, gempita sambutan yang disiapkan pemerintah -sekalipun dipersepsikan sekular- dan elemen umat Islam diatas janji investasi dan bantuannya adalah harapan atas lahirnya sosok yang peduli terhadap nasib dunia Islam.

Membela kepentingan umat ditengah ketidakadilan global, mendahulukan kepentingan mereka dan menjadi pioner kebangkitan dan persatuan dunia Islam yang tengah terkoyak. Harus jujur diakui, terutama pasca Arab Spring, beberapa kebijakan dan politik luar negeri Arab Saudi belum merefleksikan harapan dan kegelisahan umat Islam.

Raja Salman kini menyaksikan langsung harapan mereka dalam wajah-wajah gembira kaum Muslimin Indonesia di tengah guyuran hujan. Nasehat uncle Ben dalam Spiderman: With great power comes great responsibility.***