MENGUAK KODE RAHASIA ERNEST PRAKASA dan Kebencian Kepada Islam


[PORTAL-ISLAM]  Tudingan dan fitnah yang dikicaukan stand-up comedian, Ernest Prakasa kepada dai kondang India Dr. Zakir Naik dan Wapres Jusuf Kalla sudah berimbas banyak hal.

Mulai dari dihentikannya kontrak Ernest sebagai bintang Tolak Angin oleh pihak Sido Muncul, sampai bantahan resmi dari Wapres Jusuf Kalla.

Mencermati polah tingkah Ernest yang cenderung berani dengan terang-terangan membuka front permusuhan dengan umat Islam, meski Ernest berupaya menutupi hal tersebut dalam rangkaian twit 'permohonan maaf'nya, semakin mengantar kita pada keinginan untuk mengetahui akar kebencian Ernest pada umat Islam.

Dengan bangga, Ernest mengakui diri sebagai keturunan Cina. Dengan bangga pula Ernest menghadirkan karya-karya yang cukup menarik untuk ditelusuri keterkaitannya dengan impian-impian Ernest di masa depan.

Sebut saja karya Ernest yang bertajuk "Illucinati", sebuah plesetan dari Illuminati.

“Illucinati”, digelar di Gedung Kessenian Jakarta pada Sabtu, 15 Januari 2013 lalu. Tak hanya di Jakarta, Ernest membawa Illucinati mengelilingi 16 kota di Jawa-Bali-Sumatera-Kalimantan-Sulawesi.

Illucinati disebut sebagai catatan sejarah seorang Ernest Prakasa, karena tak hanya karena gelaran ini membutuhkan stamina prima karena digelar sebanyak tiga kali dalam sehari dengan penampilan selama 1,5 jam, namun juga karena menyimpan sebuah pesan tersembunyi.

Di Illucinati ini Ernest mencoba untuk membahas topik tentang para kandidat calon presiden, kala itu, yang akan maju ke Pemilu 2014.

Kata Illucinati sendiri berawal dari bit (Sebuah joke dalam stand up comedy, terdiri dari 2 komponen: setup atau pengantar dan punchline, materi lawak yang membuat orang tertawa) Ernest Basuki Tjahaja Purnama {Ahok).

Menurut Ernest, jika Amerika ada Illuminati, di Indonesia juga ada pergerakan bawah tanah, yaitu Illucinati. Tujuannya adalah menjadikan Ahok presiden.

Sehingga menurut Ernest, kata Illucinati tersebut cocok untuk dijadikan sebagai tajuk turnya.

Tak hanya berhenti sampai di Illucinati, Ernest juga menebar simbol-simbol yang sungguh menarik untuk dicermati lebih lanjut.

Misalnya, gelaran tur "1/2 Jalan" yang digelar di 13 kota, pada bulan April dan Mei tahun ini atau tulisan "Loading 62%" yang terdapat pada kaos yang dikenakan Ernest.

Jika Illucinati benar ingin dimaknai Ernest sebagai bentuk perlawanan warga Cina untuk mengambilalih Indonesia dengan cara menjadikan Ahok sebagai presiden.

Bagi beberapa orang, guyonan soal pengambilalihan kekuasaan oleh warga Cina, seperti yang pernah dilontarkan Ernest beberapa waktu silam, hanya menjadi guyonan semata yang jika diseriusi akan memancing tanya, "Situ sehat?".

Namun setiap langkah Ernest, bukanlah guyonan. Ernest serius dan fokus. Maka jika Illucinati, 1/2 Jalan dan Loading 62% kita cermati, ada sebuah langkah serius dan tujuan serius dan fokus yang jauh dari kata "lucu".

Ernest sangat serius ingin menjadikan Ahok sebagai Presiden. Itu dimulainya sejak Ahok masih menjabat sebagai wakil gubernur. Video ini buktinya.


Kini, Ahok sudah menjabat sebagai Gubernur penerima warisan dari Jokowi. Dan dalam status sebagai terdakwa kasus penistaan agama, Ahok bergulat untuk maju dalam proses kontestasi Gubernur DKI Jakarta.

Jika Ahok menang dalam putaran kedua, artinya Ahok akan menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Itu sudah 1/2 JALAN menuju kursi presiden, dan 1/2 JALAN bagi kapitalis Cina untuk MENGUASAI Indonesia.

Proses perjuangan perlawanan warga keturunan Tionghoa yang tak nasionalis ini mungkin sudah mencapai 62%, seperti yang disimbolkan Ernest dalam kaosnya, Loading 62%.

Ernest bangga disebut Cina. Sehingga tak ada yang bisa menuding mereka, yang memprotes Ernest, sedang bermain dalam isu SARA.

Berkali-kali Ernest berkilah, ia tak pernah membenci Islam. Namun kicauan Ernest menunjukan kondisi sebaliknya.


Ernest tak lagi sungkan untuk menyerang ulama dan bahkan pejabat negara sekelas Wapres yang menunjukan sikap jelas membela ulama dan umat Islam.

Masihkah Illucinati, 1/2 Jalan dan Loading 62% dipercaya sebagai guyonan semata?
Baca juga :