Memperbarui Kultur Partai Dakwah


Memperbarui Kultur Partai Dakwah

Oleh: Arka Atmaja

Kita tidak bisa menampik, bahwa dakwah kita mengalami kejumudan. Lemah posisi, lemah ide, lemah rekrutmen. Partai Dakwah kita memang Partai anak muda, tapi itu 19 tahun yang lalu, sekarang telah menua. Yang dulu usia 20 an, sekarang sudah 40 an, dulu 30 an, sekarang sudah 50 an. Itu adalah realita yang tidak perlu ditutup-tutupi apalagi membela diri.

Sudah saatnya kita memperbarui kultur dakwah kita agar terus berharokah, terus bergerak. Pemikiran-pemikiran konserfatif harus mulai membuka diri dengan pemikiran baru. Kultur-kultur lama, harus berani di bongkar karena ini budaya sekarang sudah jauh berbeda. Sekarang abad 20 tidak bisa kita gunakan model dan cara tahun 80 an.

Kader-kader dilatih berfikir besar dan berdinamika, sehingga mereka terlatih menemukan ide. Jangan dilokalkan otak mereka dengan hanya persoalan kecil. Jika ada persoalan Jamaah, Sering sekali kita berkata, "antm urusin saja dpc, yang itu sudah ada yang mikir, ndak usah repot repot mikir" begitulah sering kita dengar dan ucapkan. Kader ditutup idenya, jumud, mereka akan kosong otaknya saat mereka menerima tongkat estafet.

Hasan Al Banna usia 23 tahun ia tidak lagi berfikir mesir, ia berfikir bagaimana memegang dunia. Lihat gagasan yang muncul, gagasan yang sekarang menjadi banyak referensi, salah satunya jamaah dakwah kita.

Bagaimana tidak jumud jika kader hanya fokus pada Taat dan Tsiqoh. Apabila kebijakan datang, menjadi sesuatu yang sakral, Bertanya tidak boleh apalagi membantah. Mendiskusikan dan memperdebatkan adalah sesuatu hal yang tabu. Padahal disitulah ide ide kader akan terasah. Jangan ditutup, dibuka saja dan berdinamika. Jangan sampai kita hanya mampu berkata "Akhi, itu sudah di syurokan, antm ikut saja". Bayanat ditulis dibacakan tanpa diskusi, seperti jaman kerajaan dimana seorang raja membacakan perintahnya dan rakyatnya duduk menunduk dihadapannya. inilah jumud pemikiran, jangan  takut akan dinamika ide-ide.

Arkanul Baiah ada 10 hal, ada al fahmu, al ikhlas, al amal, dan serusnya, tidak hanya 2, Thaat dan Tsiqoh. Jika seorang kader memiliki ide yang salah, luruskan dengan opini yang cerdas dan faktual, sehingga otak kader terlatih dengan konflik, karena jamaah kita kedepan akan banyak tantangan konflik. Ketaatan seorang kader jangan dinilai dari pikiran. Bebaskan pikiran mereka, buka ide ide baru, kembangkan gagasan, Guru dan murobi bersifat membimbing agar tidak menabrak hal hal yang tsawabit namun dengan metode yang tidak mengekang.

Dakwah kita harus di ubah dari gaya-gaya feodalisme menjadi gaya yang egaliter dalam konteks ide dan pemikiran. Kebebasan beride tidak di ukur dari tingkat keanggotaan apalagi jabatan. Dinamisasi dan dialegtika di bangun disamping kerja-kerja sebagai prajurit yang siap melaksanakan tugas.

Ingatkah kita kepada apa yang di pesankan Ustad Rahmat Abdullah 17 tahun yang lalu

"Tarbiah jauh dari kata kata, ya bu... Ya pak..., membebek, Yarba yarbu, Tarbiah itu mengembangkan, Kalau dengan tarbiyah ini berjalan, potensinya tidak berkembang, yang penakut jadi penakut, ditengah seminar besar ajukan pendapat tidak berani, yang ada hanya gregetan saja, gondok saja, kesel saja, berarti Tarbiyah ini nggak berhasil, Ia (Tarbiyah) harus menghasilkan pemuda-pemuda yang cepat berfikirnya tidak telmi. Allah pilih dia suci hatinya, cerdas akalnya, tegar kokoh jasatnya, harus kesana munculnya. Tapi juga jangan murobi itu, udah tau begitu malah tidak menggali ilmu. Akhirnya semua pertanyaan dijawab dengan apologitik saja, tidak memuaskan, bikin hati (binaan) jadi kesal, mau ngelawan takut kwalat, nggak ngelawan kok terus disuapi yang nggak masuk akal. Ini harus ada peningkatan. Kemesraan ukhuwah, tradisi konsultasi. Kemesraan ukhuwah tetap harus berjalan"

Itulah pesan beliau, bagaimana membangun kefahaman, apa itu Tarbiyah.

Wallahualam

Jabungan, 27/3/2017