"MASIH PAGI, KANG..."


"MASIH PAGI, KANG..."

Selagi semua mata tidak berkedip memperhatikan pertarungan Pilkada DKI, dipaksa menoleh sejenak ke Jawa Barat. Gara-garanya ulah Partai Nasdem yang cuma punya lima kursi mencuri start mendukung kang Emil untuk duduk di kursi Jabar 1.

Kang Emil pekerja lapangan yang gigih dan kreatif, minim pengalaman politik. Makanya dia sih senang-senang saja. Pernyataan politiknya juga polos saja. Kang Emil minta jangan membawa pertarungan politik di DKI dibawa ke daerah lain wabilkhusus Jabar. Juga dia menyindir parpol lain yang masih sibuk mikir.

Padahal kalau Kang Emil mau berpikir sedikit, parpol lain bukan kebanyakan mikir buat bertarung di Jabar, tapi perang di Jabar masih kepagian. Parpol besar semacam PDIP, Golkar dan Gerindra tidak mau lepas seinci pun buat memeras tenaga dan pikiran memenangkan pertarungan di DKI.

Sebaliknya, jika kang Emil mau berpikir sedikit, imbas pertarungan politik di DKI akan punya punya pengaruh besar di daerah lain, bahkan sampai tingkat nasional. Buktinya, setelah Nasdem mendukung kang Emil, gelombang protes pengagum kang Emil tak bisa dibendung. Salah satu penyebabnya, Nasdem dituduh sebagai pendukung penista agama di DKI. Kalau sudah begitu, berabe deh.

Padahal mah menduduki kursi nomor satu di provinsi yang tidak punya label daerah khusus, tidak punya dampak yang besar bagi karir walikota atau bupati. Kang Emil yang berhasil di Bandung, jika jadi Jabar 1 belum tentu kreatifiasnya tersalurkan. Misalnya, kang Emil tidak bisa minta seluruh bupati dan walikota bikin taman tematik di daerahnya masing-masing.

Kang Dedi Mulyadi bupati Purwakarta yang boleh dibilang sukses juga disebut akan ikutan pilkada Jabar. Jika misalnya kang Dedi Mulyady jadi Jabar 1, dia juga tidak bisa memerintahkan seluruh walikota dan bupati bikin patung semar atau tokoh wayang lain, dan harus disiram air tertentu pada malam tertentu, misalnya. Atau minta bikin kereta kencana buat dinaiki sebagai ganti mobil dinas pada hari tertentu.

Buktinya yang sekarang ini kang Aher dan kang Dedy Mizwar namanya kalah populer dengan kang Emil atau kang Dedi Mulyadi. Sekali-kalinya pas banjir melanda Jabar, kang Aher minta warga bersabar dan ikhlash, eh langsung dibully di medsos. Apalagi pekerja lapangan yang kreatif seperti Kang Emil kemudian harus berubah menjadi kordinator walikota dan bupati

Beda dengan Jakarta yang walikotanya bukan dipilih rakyat. Ahok bisa memerintahkan walikota menggusur kampung ini dan kampung itu, saat bersamaan ketika ada walikota yang iseng menggusur kebetulan warga beretnis tionghoa, Ahok bisa memaki walikota dan mengancam akan ngempesin badan sang walikota yang kebetulan punya tubuh tambun

Tapi untuk jabatan pemimpin masyarakat yang dipilih langsung oleh warga semisal ketua RT atau RW, Ahok cuma bisa marah-marah saja dan ancaman kosong memecat jabatan ketua RT dan RW kepada ketua RT dan RW yang berani melawan kebijakannya. Para ketua RT dan RW malah balik menantang Ahok. Paling-paling ketua RT dan RW otomatis akan berhenti selamanya jika kena gusur.

Bahkan benda mati semisal ondel-ondel saja bisa marahin balik Ahok. Pernah Ahok marah-marah dengan kelakuan ondel-ondel yang disebutnya suka mengemis mengharap amplop pas lagi ngamen di ibu kota. Ondel-ondel balik marahin Ahok dengan menyebut, barongsai juga ngamen minta angpao, kok didiamkan saja? Cuma topeng monyet yang tidak berani melawan, soalnya mereka kan rata-rata pendatang.

Walaupun Pemda DKI di bawah kepempinan Ahok yang melanjutkan Jokowi membangun Masjid besar dan mengumrohkan sejumlah marbot masjid, tidak bisa mengahalangi sejumlah masjid yang bikin spanduk menolak menyolatkan jenazah pendukung penista agama.

Kalau di Ibukota saja seperti itu, apalagi di provinsi yang walikota dan bupatinnya langsung dipilih rakyat.Coba mau bikin apa kang Emil setelah misalnya nanti jadi Jabar1. Padahal belum apa-apa konon kabarnya kang Emil dikasih persyaratan harus bisa memuluskan jalan pak Jokowi kembali menjadi presiden 2019 nanti. Memangnya kang Emil berbakat jadi politisi?

Jadi sebenarnya membacanya bukan soal jadi gubernur atau tidak jadi gubernur Jabar. Kekecewaan sebagian pengagum kang Emil lebih berdasarkan partai pengusung. Kalau sudah soal penista agama, maka bukan lagi cuma soal muslim dan non muslim. Muslim pun jika dianggap mendukung penista agama, bisa nggak dipilih juga.

Percuma saja teriak-teriak memisahkan agama dari politik selagi masih usil menyindir keyakinan orang lain dan selalu membenturkan antara yang mengaku paling pancasialis dengan kaum agamis yang kerap dituduh radikalis, kaum jenggotis berkumis tipis.

Makanya janganlah menista agama, baik agama sendiri maupun agama orang lain. Bisa panjang urusannya.

(Balya Nur)