"Maafkan Aku Saudaraku, Fahri Hamzah"


"Maafkan Aku Saudaraku, Fahri Hamzah"

Maafkan saudaraku, aku tak bisa berbuat banyak. Aku sudah berusaha meyakinkan banyak orang yang lebih memiliki suara agar engkau mendapat dukungan, tapi mereka tetap memilih diam atas nama tsiqoh dan taat kepada pimpinan, meski ketidakadilan menimpamu begitu nyata.

Aku hanya kader biasa, tapi aku sudah berusaha. Aku menulis surat tentang ketidakadilan yang menimpamu. Aku tulis 7 halaman tentang persoalanmu, aku ingat aku menulisnya dari jam 10 malam hingga jam 4 pagi, aku tulis sangat hati-hati karena akan aku kirim ke semua pimpinan partai yang aku anggap punya suara. Agar surat ini jadi agenda penting di Sidang Majelis Syuro. Tapi maaf saudaraku, suratku tak berarti apa apa. Nasibmu tak dibahas.

Kehidupan bersama berjamaah ini kadang memang terasa kejam. Kerjamu bertahun tahun tak dinilai sebagai prestasi yang layak diapresiasi karena satu kesalahan saja, iya, satu kesalahan saja, kalaupun itu bisa di sebut sebuah kesalahan. Karena sebenarnya kesalahanmupun masih bisa diperdebatkan.

Aku masih ingat, engkau dipasang didepan melawan KPK saat mereka merongrong partai dakwah, masuk ke markas dakwah. Aunganmu yang keras membuat Johan Budi kerepotan, wajahnya pucat dan keringetan. Dengan berbagai resiko kau lalui itu dengan sukses. Engkau rela dimaki maki banyak orang untuk membela kepentingan jamaahmu. Disaat banyak opini mereka bahwa dirimu merusak citra partai, justru engkau mendapatkan suara terbanyak dari semua anggota dewan PKS yang ada di pemilu 2014 lalu.

Namun prestasimu ini tak berarti bagi mereka, mereka memecatmu, mereka berkata, pribadi tidak boleh lebih besar dari jamaah.

Engkau tidak merusak partai, engkau tidak korupsi, engkau tidak melanggar syariat, engkau dipecat hanya karena satu kesalahan, tidak melaksanakan perintah ketua majelis syuro. Menurut mereka itu adil, tapi menurutku itu bukan keadilan, tapi kedzoliman. Seperti hidup di zaman otoriter, perintah pimpinan tajam dan membunuh, jauh dari ruang ruang diskusi. Aku mengenal jamaahku tidak seperti ini.

Engkau dituduh merusak citra partai karena ucapanmu, engkau dituduh membangkang keputusan partai. Mereka tulis dalam sebuah bayanat di pasang di website resmi partai agar semua orang tau terutama kader. Padahal tuduhan itu sangat subyektif dan jauh dari fakta. Herannya kader-kader langsung percaya, tanpa kroscek, tanpa tabayun, lagi-lagi atas nama tsiqoh dan ketaatan pada pimpinan.

Mereka memintamu dewasa seperti Khalid, tapi sejujurnya, aku tidak melihat nampak kepemimpinan sehebat kepemimpinan Umar. Umar memecat Khalid karena cinta, sehingga memecatnyapun dengan akhlakul karimah.

Umar memecat Khalid dengan sepucuk surat yang sangat rahasia, berbeda dengan pemecatanmu yang dibocorkan ke media, dirilis kemedia masa, dan di tempel di website jauh sebelum engkau menerima surat yang seharusnya menjadi hak mu. Engkau dipecat Maret, surat engkau terima April dan diantar hanya oleh seorang kurir, setelah berita pemecatan sudah tersebar dimana-mana.

Umar mengumumkan pemecatan Khalid kepada kaum muslimin dengan sanjungan-sanjungan, untuk menjaga kehormatan Khalid, meskipun Khalid dipecat bukan tanpa kesalahan. Berbeda denganmu, pengumuman pemecatanmu diumumkan dengan menulis tindakanmu yang mereka nilai salah, dengan jelas dan sebar ke ribuan kader, dan herannya banyak kaderpun langsung percaya dan langsung menempatkanmu sebagai kader yang layak dibenci.

Wallahu a'lam, aku sekarang tak bisa berbuat banyak saudaraku, namun aku akan tetap berdiri sebagai pendukung sikapmu yang terus mencari keadilan. Aku menganggap bahwa jamaah ini tidak boleh dzolim walaupun hanya kepada satu orang kader dengan mengatas namakan dakwah. Aku tak akan membiarkan itu.

Resah pasca Sidang Majelis Syuro

7 Maret 2017

Arka Atmaja

(Sumber: fb penulis)