Gambaran Ketegasan Panglima Islam Membela Izzah Kaum Muslimin


[PORTAL-ISLAM] Yazid bin Mu'awiyah adalah putra Khalifah Mu'awiyah (Kekhalifan Bani Umayyah) yang menjadi Panglima Perang untuk membebaskan Konstantinopel dari Romawi. Perang panjang umat Islam mengepung benteng Konstantinopel untuk merealisasikan Nubuwat Nabi Muhammad SAW yang akhirnya Konstantinopel baru berhasil ditaklukan saat masa Sultan Muhammad Al-Fatih era Kekhalifan Turki Utsmaniyah.

Disebutkan dalam buku "Ad-Daulah Al-Umawiyyah 'Awamil Al-Izdiyar wa Tada'iyat Al-Inhiyar" hlm. 450 karya Dr. Ash-Shallabi, menukil dari "Al-Istibshar" karya Al-Maqdisi hlm. 70, di sebutkan tentang salah satu gambaran ketegasan Yazid bin Mu'awiyah, serta izzah bagi kaum Muslimin saat perang Konstantinopel.

حكاه العتبي بإسناد أن أبا أيوب الأنصاري مرض في غزوة القسطنطينية، فأتاه يزيد عائداً فقال: ما حاجتك يا ابا أيوب؟ قال: ادفني عند اسوار القسطنطينية ... فلما مات أمر يزيد بتكفينه وحُمل على سريره، ثم أخرج الكتائب فجعل قيصر يرى سريراً والناس يقتتلون فأرسل إلى يزيد: من هذا الذي أرى؟ قال: صاحب نبينا وقد سألنا أن نقدمه في بلادك ونحن منفذون وصيته أو تلحق أرواحنا بالله. قال: العجب كيف من ينسب أبوك للدهاء ويرسلك فتأتي بصاحب نبيك، وتدفنه في بلادنا، فإن وليت أخرجناه إلى الكلاب، فقال يزيد: إني والله ما أردت إيداعه بلادكم حتى أودع كلامي آذانكم، فإنك كافر بالذي أكرمت هذا له، لئن بلغني أنه نبش من قبره أو مثل به، لا تركت بأرض العرب نصرانياً إلا قتلته، ولا كنيسة إلا هدمتها فبعث إليه قيصر: أبوك أعلم بك، فوحق المسيح لأحفظنه بيدي 

"Diceritakan oleh Al-Utbi dengan sanadnya, bahwa Abu Ayyub Al-Ansari (Sahabat Nabi yang menjadi tuan rumah Nabi Muhammad saat hijrah ke Madinah) sakit dalam perang Konstantinopel. Lalu Panglima Yazid menjenguknya seraya bertanya: “Katakan hajatmu wahai Abu Ayyub”. Abu Ayyub menjawab: “Kuburkan aku di tembok Konstantinopel”.

Ketika Abu Ayyub wafat, Yazid memerintahkan agar Abu Ayyub dikafankan dan diangkat dengan tempat tidurnya untuk dikuburkan di tembok Konstantinopel yang sedang dikepung pasukan Islam. Kaisar Romawi melihat tempat tidur itu (diangkat) sekelompok orang, sementara yang lain sibuk berperang. Maka Kaisar Romawi mengutus utusan bertanya kepada Yazid: “Siapa yang barusan aku lihat?” Yazid menjawab: “Sahabat Nabi kami. Dia meminta agar kami membawanya ke negerimu, maka kami memenuhinya sekalipun kami harus mempertaruhkan nyawa karena itu”.

Dia berkata: “Aneh, bagaimana ayahmu (Mu'awiyah) mengatakan bahwa kamu cerdik dan mengutusmu memimpin pasukan. Lalu kamu datang membawa sahabat Nabimu untuk dikubur di negeri kami. Di mana saat kamu pulang, kami akan membongkar kuburnya dan membiarkannya dimakan anjing?!”

Maka Yazid berkata, dan kata-kata ini yang mengagetkan Kaisar Romawi:

“Demi Allah, sungguh aku tidak ingin menguburnya di negeri kalian sampai aku menanamkan kata-kataku di telinga kalian. 'Sungguh engkau kafir kepada Allah di mana aku memuliakan orang ini karena-Nya. Demi Allah, kalau sampai aku dengar bahwa kubur laki-laki ini dibongkar atau jasadnya dimutilasi, maka aku tidak akan biarkan seorang Nashrani pun di negeri Arab kecuali aku akan bunuh. Dan aku tidak akan lihat satu gereja pun kecuali aku akan hancurkan'”.

Maka Kaisar pun menimpali: “Ternyata bapakmu lebih tahu tentang dirimu. Demi kehormatan Al-Masih, aku akan  menjaganya dengan kedua tanganku".

(Rappung Samuddin)