Cara Muhammadiyah Menghadapi “Serangan” Kritik Ustadz Salafi: Diajak Ngaji Bareng, Bukan Diusir


[PORTAL-ISLAM] Persoalan pembubaran pengajian yang terjadi di Sidoarjo tentu menjadi catatan pilu bagi kehidupan beragama dan bernegara, ini menjadi signal masih diperlukan upaya dialog dan sikap saling menghormati terhadap pemahaman kelompok masing-masing di dalam menjalankan Agama Islam.

Di Indonesia di luar dua ormas islam mainstream yang telah ada sejak dahulu yaitu Muhammadiyah dan NU terdapat juga banyak kelompok atau ormas Islam yang masing masing memiliki karakter keislaman yang berbeda. Sebagai manusia yang beriman, kita diperintahkan untuk bisa menerima bahwa adanya berbagai macam perbedaan pendapat dan paham dalam Islam yang menyangkut hal – hal cabang atau furu' itu sudah merupakan ketetapan Allah. Dan sudah seharusnya juga kita menyikapi hal ini secara dewasa.

Dalam tradisi ulama Islam, perbedaan pendapat bukanlah hal yang baru. Tidak terhitung jumlahnya kitab-kitab yang ditulis ulama Islam yang disusun khusus untuk merangkum, mengkaji, membandingkan, kemudian mendiskusikan berbagai pandangan yang berbeda-beda dengan argumentasinya masing-masing, namun di Indonesia nampaknya tradisi itu masih jauh panggang dari api meskipun begitu kita bersyukur tidak sampai menimbulkan gejolak yang massif.

Kembali ke soal pembubaran pengajian, apapun alasan dan latar belakangnya pembubaran pengajian tetap kita sesali karena dalam konteks keislaman dan kenegaraan hal tersebut jelas-jelas telah melampaui batas, intoleran dan melanggar konstitusi yang menjamin kebebasan warga negara untuk beribadah.

Menurut info yang beredar di media sosial pembubaran itu sebagai sebuah penolakan terhadap Ustadz Khalid Basalamah yang dinilai provokatif dan kerap menyinggung praktek ibadah yang selama ini biasa dilakukan kawan-kawan Nahdliyin.

Ada yang perlu kami ungkapkan ditulisan ini bahwa sesungguhnya tidak hanya kalangan Nahdliyin yang mendapat “serangan” dari ceramah atau materi yang disampaikan oleh kawan-kawan salafi atau kalau nahdliyin menyebutnya sebagai wahabi, namun juga Muhammadiyah pun tak luput dari kritik terhadap pemahaman dan praktek ibadah yang Muhammadiyah jalankan selama ini.

Ini FAKTA yang terjadi beberapa tahun lalu ketika itu salah satu ustadz muda salafi M** secara terbuka menulis kritik di website R******o.com dan facebook pribadinya soal metode Hisab yang digunakan Muhammadiyah dalam penentuan awal bulan, bagi Muhammadiyah kritik itu tidak jadi soal karena Muhammadiyah sudah terbiasa berdiskusi persoalan hisab rukyat dalam forum nasional maupun internasional.

Namun yang bersangkutan secara teatrikal dan agresif menyerang pemahaman muhammadiyah bahkan memprovokasi dengan mengeluarkan kata kata yang tidak etis dan mengklaim banyak warga Muhammadiyah keluar karena ingin melepaskan ketaklidan. Hal tersebut menimbulkan reaksi dari warga muhammadiyah, karena selama ini muhammadiyah tidak pernah menyerang atau menjelekkan ustadz salafi di forum manapun tapi mengapa yang bersangkutan kemudian seolah kehilangan sopan santun bicara soal muhammadiyah di media social.

Bagaimana Muhammadiyah menyelesaikan persoalan tersebut ? Kalau mau sebenarnya tidak susah untuk Muhammadiyah mengerahkan KOKAM atau pendekar tapak suci untuk mendatangi ustadz tersebut apalagi yang bersangkutan tinggal di wilayah DIY yang merupakan basis warga Muhammadiyah.

Mendengar kisruh tersebut ayahanda Pimpinan Daerah Muhammadiyah berinisiatif untuk mengundang Ustadz tersebut untuk bersama – sama memberikan kajian dalam pengajian rutin Muhammadiyah. Tentu hal ini menjadi tanda tanya khususnya anak – anak muda Muhammadiyah mengapa seorang yang sudah jelas dan tegas mendeskriditkan dan menghina Muhammadiyah malah diundang dan diberikan kesempatan ceramah di forum Muhammadiyah.

Namun ternyata begitulah cara dakwah Muhammadiyah yang diwariskan sejak dulu dakwah itu merangkul bukan memukul, tentu bagi yang bersangkutan juga kaget mengapa setelah banyak kritik dari warga muhammadiyah tentang pernyataannya soal Muhammadiyah malahan diundang datang ke forum Muhammadiyah dengan tangan terbuka dan senyum persaudaraan.

Setelah itu kemudian dengan kesadaran ustadz tersebut menyampaikan permohonan maaf kepada Muhammadiyah atas pernyataannya yang telah menyinggung warga Muhammadiyah kemudian beliau juga menghapus artikel tulisan tersebut di website nya padahal Muhammadiyah tidak pernah meminta agar artikel itu dihapus namun dengan sebuah kesadaran bersama saling tasamuh dan menyelesaikan persoalan ini secara baik dan kepala dingin serta lapang dada akhirnya beliau menyadari kekeliruannya dan sejak itu tidak pernah lagi ada nada – nada miring atau materi provokatif terhadap Muhammadiyah.

Inilah cara dan metode yang ditempuh Muhammadiyah ketika menyikapi perbedaan ataupun menyelesaikan persoalan dengan saudara islam lainnya, penyelesaian dengan cara – cara unjuk kekuatan atau kekerasan tidaklah relevan dan bukan sebuah khazanah tradisi Islam. Penyelesaian masalah dengan apa yang ditampilkan di Sidoarjo kemarin jauh dari kebenaran dan akhlak sesama muslim apalagi dilihat oleh orang di luar Islam justru kita menjadi bahan tertawaan.

Kaum muslimin dalam menghadapi perbedaan pendapat hendaknya dengan lapang dada dan tidak menyalahkan orang lain serta harus bersikap ikhlas dan berniat bahwa yang dituju dari semuanya ini adalah kebenaran, kemudian Kaum muslimin hendaknya mengembangkan sikap toleran dalam masalah-masalah khilafiah terhadap golongan lain yang berbeda pendapat bisa saja dalilnya sama namun jika istidlalnya berbeda maka hasilnya pun berbeda Semua pihak harus berupaya untuk mencoba mencari “jalan tengah” atau setidaknya berusaha saling menghormati pada hal-hal yang bersifat furu’ dan khilafiyah karena tentunya masing – masing meyakimi dengan yang mereka pahami dan kerjakan.***

*Sumber: sangpencerah