BANTAH HOAX AHOKER, Kesaksian Warga Tentang Jenazah Nenek Hindun: Dishalatkan, Pemandi Mayat Malah dari PKS

(Neneng (46) putri bungsu almarhum nenek Hindun (78), warga Kelurahan Karet, Kecamatan Setiabudi, Jaksel. ROL)

[PORTAL-ISLAM] Betapa keji FITNAH dan HOAX yang disebar pendukung Ahok tentang jenazah nenek Hindun (78) warga Setiabudi Jakarta Selatan yang dibilahg DITOLAK DISHOLATKAN KARENA DUKUNG AHOK.

Padahal justru warga dan pengurus mushola langsung mengurus jenazah nenek Hindun sesuai syariat Islam, bahkan pemandi jenazah dari PKS.

Berikut kesaksian salah seorang warga Setiabudi, yang dilansir Kumparan:

Syamsul Bahri adalah salah satu warga yang menyalatkan jenazah Hindun (78) di Setiabudi, Jaksel. Syamsul memberi kesaksian dan penjelasan gamblang mengenai peristiwa pada Selasa (7/3) lalu.

Dia menegaskan, sama sekali tidak benar kalau jenazah Nenek Hindun ditolak warga untuk disalatkan di musala. Syamsul, menyampaikan saat itu sebenarnya yang paling utama adalah agar jenazah lekas dikuburkan karena hari sudah gelap.

"Cuaca waktu sudah gelap mau hujan besar. Kalau kita ke musala lagi itu akan memakan waktu, jangan sampai ke kuburan itu malam. Akhirnya inisiatif ustaz dan tokoh-tokoh abis mayat ditutup langsung disalatin di situ (rumah). Kebetulan kalau di musala jemaah kita belum pada pulang kerja, ada yang berdagang," beber Syamsul yang ditemui di Setiabudi, Sabtu (11/3).

Menurut dia, selesai salat jenazah sekitar pukul 18.00 WIB, kemudian jenazah langsung dibawa dengan ambulans.

"Biar nggak kemaleman, sesudah di ambulans pas perjalanan di Kuningan macet, sampai di Kuningan hujan besar itu jam 18.30 WIB, sampai selesai jam 19.00 WIB kurang. Ada warga yang ikut ada yang nggak ikut, karena ada yang punya keperluan," beber dia.

"Jadi saya klarifikasi, warga pada ikut, tokoh-tokoh juga ikut termasuk ustaz Syafii dan pengurus musala. Kalau Ustaz Syafii nggak peduli enggak mungkin diurus, tapi ini diurus. Bapak Saimin Azis tokoh musala satu lagi dia mendukung dan membantu sampai selesai," kata Syamsul Bahri

Syamsul juga menyampaikan ketika Nenek Hhindun meninggal, berita duka disebar di musala di RW 05.

"Itu pergerakan secara otomatis kalau warga RW 05 itu untuk berita duka cepat gotong royongnya. Saya bersama pengurus masjid, Ustaz Syafii, langsung ambil pemandian mayat di masjid lainnya, kita sorong, kita siapkan, kita hubungin pemandi mayat. Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan," beber dia.

Ambulans yang dipakai menyalatkan juga dari Timses Anies-Sandi karena hanya dari mereka ambulans bisa tersedia.

"Bahwa musala tidak mau mensalati itu salah. Karena kita waktu yang membuat seperti itu. Kenapa? Meninggal pukul 13.30 WIB. Pemandian jam 17.00 WIB, pemandiannya, rempah rempahnya itu butuh waktu. Abis dari pemandian selesainya jam 17.30 WIB, masuk ke rumah, karena kebetulan rumahnya gangnya sempit. Warga nyelawat langsung pulang, karena kalau tidak langsung pulang rumahnya penuh. Sampai situ mandiin, kafanin, doain, keluarga cium itu ada proses waktu. Kira-kira selesainya jam 18.00 WIB kurang," beber dia.

Sumber: https://m.kumparan.com/indra-subagja/kesaksian-warga-setiabudi-tentang-jenazah-nenek-hindun-yang-disalatkan