KETIKA SPANDUK LARANGAN SHOLAT JENAZAH BAGI PENDUKUNG "PENISTA AGAMA" JADI VIRAL


Oleh: Ma'mun Murod Al-Barbasy

Dulu ketika tahun 2002 NU melalui Munas Alim Ulama mengeluarkan keputusan bahwa koruptor jenazahnya tidak boleh disolati, nyaris tak ada yang protes. Hanya sedikit yang mereaksi.

(NU Anjurkan Kiai Tak Shalatkan Koruptor
http://nasional.kompas.com/read/2010/08/22/12190896/NU.Anjurkan.Kiai.Tak.Shalatkan.Koruptor)

Ketika kemudian Pemuda Muhammadiyah mencoba menghidupkan kembali semangat pentingnya koruptor jenazahnya tidak disolati juga nyaris tidak ada yang mereaksi.

(Pemuda Muhammadiyah Fatwa Haram Jenazah Koruptor Disalatkan
http://www.jawapos.com/read/2015/10/11/6793/pemuda-muhammadiyah-fatwa-haram-jenazah-koruptor-disalatkan)

Tapi ketika ada SPANDUK, sekali lagi hanya sekadar spanduk, bukan putusan Munas Alim Ulama, juga bukan putusan Tarjih Muhammadiyah terkait tentang tidak bolehnya jenazah pendukung Ahok (Penista Agama) disolati, reaksinya begitu luar biasa. Hanya untuk seorang Ahok yang rasis, fasis, dan juga sangat diduga kuat korupsi di banyak proyek, semua ramai-ramai membelanya. Membela dengan nalar yang sempit.

Padahal sebagaimana semangat putusan Munas Alim Ulama dan Pemuda Muhammadiyah agar janazah koruptor tidak disolati, pembenaran-pembenaran naqli (dalil Al Quran dan Hadits) agar jenazah pendukung Ahok tidak disolati juga cukup banyak.

BENAR-BENAR AHOK SUDAH MENJADI TUHAN DAN DIPERTUHANKAN. INILAH YANG SAYA SEBUT SEBAGAI BENTUK KEMUSYRIKAN DALAM POLITIK.

__
Sumber: fb