Hai Para Politisi Senior, Belajarlah Kedewasaan Berpolitik dari AHY


[PORTAL-ISLAM]  Sejak hasil quick count dirilis, pasangan yang diusung PDI P di Pilgub Banten, Rano Karno-Embay sudah menunjukkan sikap tidak terima dengan hasil. Sikap tidak terima disampaikan mulai dari pernyataan kandidat yang merasa tetap menang, menyebutkan banyak pelanggaran, melakukan unjuk rasa, walk out saat rekapitulasi suara.

Dengan berbagai alasan, tim pemenangan yang dikomandoi PDI P melakukan pembentukan opini bahwa Pilkada Banten kali ini terjadi kecurangan dan mereka adalah pihak yang dirugikan. Meski telah dilakukan pemilihan ulang di sejumalah TPS, posisi pasangan nomor urut dua itu tetap kalah dibandingkan dengan Wahidin-Andika.

Kekalutan PDI P terhadap kekalahan itu tidak hanya ditunjukkan dengan menyerang pelaksana pemilu, kompetitor. Tapi PDI P juga melampiaskan kekalahan tersebut dengan memecat kader mereka sendiri, seperti yang dialami oleh Ketua DPC PDI P Tangerang. Hanya berselang beberapa hari pasca pemungutan suara, kader yang telah bekerja sekian lama di partai moncong putih itu diberhentikan melalui surat yang ditandatangani Megawati Soekarno Putri.

Bicara tentang kecurangan, seharusnya Rano Karno sebagai incumbent punya peluang lebih besar melakukannya. Karena dia bisa memanfaatkan jabatannya untuk melakukan tindakan kecurangan, diakui atau tidak diakui.

Melihat kondisi tersebut memperlihatkan sikap kekanak-kanakan dalam berpolitik. Tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, lalu merengek dan mencari-cari alasan agar keinginannya dapat terkabul. Padahal Rano Karno adalah politisi kawakan yang telah lama berkecimpung dalam dunia politik, dan telah menjadi pejabat publik sejak dari Wakil Bupati. Tindakan tersebut dapat berpotensi merusak keharmonisan masyarakat Banten, dan tidak tertutup kemungkinan terjadinya bentrokan antar pendukung, seperti yang terjadi di Papua.

Jika membandingkan dengan sikap yang ditunjukkan oleh Calon Gubernur DKI Jakarta, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam menyikapi hasil Pilkada, sangat jauh berbeda. Politisi ingusan yang hanya dalam kurun waktu empat bulan sudah menunjukkan sikap dewasa dalam berpolitik. Saat dirinya mundur dari karir militer dan memutuskan bergelut di dunia politik, AHY tentu telah siap menerima apapun resikonya.

Seharusnya dengan statusnya masih muda dan baru di dunia politik, AHY uring-uringan menyikapi hasil Pilkada DKI Jakarta. Karena kejanggalan dalam Pilkada DKI sangat nyata dan banyak terjadi, mulai dari jumlah pemilih, politik uang sampai serangan bertubi-tubi kepada kubu AHY. Tapi apa yang ditampilkan AHY dalam pidatonya sangat menunjukkan kalau dirinya membawa nuansa baru dalam politik Indonesia. Setiap orang yang siap ikut kompetisi, harus siap untuk menang dan siap untuk menerima kekalahan.

Dengan modal niat tulus, AHY berani menantang dua kandidatnya yang lebih berpengalaman dan ternama dibandingkan dirinya. Di awal, AHY bikin kejutan dalam waktu cepat mampu merajai berbagai survei, dan mendapat respon positif masyarakat. Namun malang bagi dirinya, dengan keunggulan tersebut dirinya mendapatkan serangan yang tidak pernah berhenti, mulai dari menyerang soal harta, takut debat, keluarga hingga pasangannya dituduh terlibat korupsi.

Harus diakui serangan tersebut membuat elektabilitas AHY menjadi tergerus, karena ada upaya sangat sistematis yang dilakukan penguasa dengan melibatkan penegak hukum dan media untuk menghancurkan citra AHY. Dan usaha pihak yang tidak senang dengan AHY tersebut berhasil, setelah serangan beruntun itu elektabilitas AHY terjun bebas sejak Januari. Dan puncaknya pada pemungutan suara, AHY menempati posisi paling buncit.

Jika kondisi ini dialami politisi lain, mungkin dia akan secara lantang menyebutkan kalau ada kecurangan dan mungkin juga mengerahkan massa untuk mengepung KPUD dan menolak hasil pemilu. Namun liat saja pidato AHY, tidak satu katapun dia menyalahkan siapapun selain dirinya. Dengan ksatria dia menyebutkan kalau dirinya mengaku kalah dan telah mengucapkan selamat kepada kompetitornya yang lain.

Meski umur dan pengalaman AHY masih hijau, tidak ada salahnya para politisi apalagi yang ikut kompetisi Pilkada untuk belajar kedewasaan berpolitik kepada AHY. Kecintaannya kepada rakyat membuat dia mampu meredam ambisi pribadi dan tidak menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan dan merusak tatanan demokrasi yang jujur dan adil.

Kehadiran AHY juga bisa menjadi angin segar bagi kalangan pemuda, untuk berani bercita-cita tinggi dan siap dengan segala resiko. Saat kegagalan datang jangan patah semangat, dan terus berjuang dan mengabdikan diri untuk nusa bangsa.

Penulis: Kurnia Ilham
Editor: Tim Portal Islan