Fenomena Penguasa Tergelincir Lidah & Kisah Malaikat Jibril Menyumpal Mulut Firaun


[PORTAL-ISLAM] Hari-hari ini ramai viral di sosial media video seorang Presiden yang salah ucap 'Laa haula walaa quwwata illa billah'. Sebelumnya juga ada video ibu mantan presiden yang tergelincir lidah saat mengucap asma Allah dalam pidatonya. Ada pula Ketum Parpol yang mendukung si Penista Agama tergelincir lidah mengucap 'Nahi Mangkur'.

Peristiwa-peristiwa itu sudah seharusnya menjadi renungan kita semua yang mendambakan keselamatan dunia dan akhirat.

Sebagai muslim kita sangat menginginkan mendapat husnul khatimah, bisa mengucap kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah di ujung nafas kita. Tak salah ucap.

Agar tak salah ucap atau tergelincir lidah atau malah kaku lidah saat sakaratul maut, maka sudah seharusnya hidup kita diisi dengan ketaatan pada Allah, bukan malah menentang dan menantang, bukan pula menghalangi jalan Allah, memusuhi penyeru agama Allah.

Jangan sampai akhir hidup seperti Firaun yang mulutnya dibungkam malaikat Jibril dari mengucapkan Laa ilaaha illahllah.

Dari Sa'id bin Jubeir dari Ibnu 'Abbas radhiya'l-lahu' anhuma meriwayatkan: "Dua orang Sahabat menghadap Rasulullah (bertanya tentang Firaun). Sabda Nabi SAW "Malaikat Jibril menutup mulut Firaun dengan pasir, khuatir kalau-kalau akan mengucapkan: laa 'ilaha illa'l-lah"

(Hadits Shahih, HR. Turmudzi [3107]; Ahmad [2145], at-Tabari [11/163]; Ibnu Hibban [6215]; Nasa'i [6 / 363]. Dishahihkan oleh Syeikh Albani dalam as-Shahihah [2015] dan Shahih Sunan Tirmidzi [2484]. Dishahihkan juga oleh Syeikh Syu'aib Arnouth, Tahqiq Shahih Ibnu Hibban [14/98])

Hadis di atas umumnya dapat kita temui pada perbahasan ayat tenggelamnya Firaun, surah Yunus ayat 90, di mana Allah berfirman: "Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tenteranya, kerana hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Firaun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: Saya percaya bahawa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah). "(QQ. 10: 90).

Pada saat-saat nazaknya, malaikat Jibril melihat gelagat Firaun akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Allah Ta'ala memerintahkan malaikat Jibril untuk menutup mulut Firaun dengan pasir, supaya tidak boleh mengucapkan keimanan dan pertaubatannya. Akhirnya Firaun mati dengan mulut menyon dan jauh dari rahmat Allah SWT (Tafsir Al-Kasyaf, 21 202). Kerana iman dan taubat pada saat ini, tiada guna sama sekali.

Mengutip Tafsir Syeikh Sa'di, ada dua keadaan di mana iman tidak berguna pada saat itu yakni beriman di hujung sakarat dan beriman menjelang hari Qiamat, sesuai firman Allah dalam surah Al-Mu'min: 85.

فَلَمۡ يَكُ يَنفَعُهُمۡ إِيمَـٰنُہُمۡ لَمَّا رَأَوۡاْ بَأۡسَنَاۖ سُنَّتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى قَدۡ خَلَتۡ فِى عِبَادِهِۖۦ وَخَسِرَ هُنَالِكَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ

"Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka telah melihat siksa Kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir." (QS 40: 85)

Jasad Firaun yang tenggelam di laut Allah selamatkan utuh agar menjadi pelajaran (ibroh) bagi manusia terutama para penguasa sesudahnya agar tidak menyombongkan diri sok kuasa dan berbuat semena-mena, memusuhi dan mengkriminalisasi para ulama penyeru agama Allah.

"Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS. Yunus: 92)